Novel Brianna dan Bottomwise, Kisah Pencarian Gitar Musiciante

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sehat untuk semua, ya, Playmates. Sekitar dua minggu yang lalu saya mulai membaca sebuah buku. Setelah anak kedua lahir saya jarang sekali membaca. Kini saya mulai merasakan kerinduan untuk melahap cerita dari sebuah novel dan itu adalah novel Brianna dan Bottomwise karya Andrea Hirata.

Brianna dan Bottomwise merupakan novel ke-14 Andrea Hirata dan merupakan sebuah dwilogi. Yang sudah saya baca ini bagian pertama. Meskipun begitu, akhir ceritanya tuntas, tidak menggantung.

Dari empat belas karya penulis asal Belitong ini tinggal dua judul yang belum saya baca, yaitu Buku Besar Peminum Kopi dan Mozaik-Mozaik Terindah. Saya sudah tidak sabar ingin kembali masuk ke dunia orang-orang udik nan unik lagi.

Sebelum itu, marilah kita membahas novel yang baru habis saya baca ini. Selalu terselip rasa tak rela saat sudah sampai di lembar pamungkas. Agar pengalaman membacanya lebih abadi, yuk kita tuliskan!

Related:

Novel Sehidup Sesurga Denganmu

Novel Death on The Nile by Agatha Christie

1. Deskripsi Buku

  • Judul : Brianna dan Bottomwise
  • Penulis : Andrea Hirata
  • Tebal: 361 Halaman
  • Penerbit : Bentang Pustaka
  • Cetakan pertama, Juli 2022

Related:

Novel Rapijali 1 (Mencari), Welcome to Planet Ping

Novel Ancika, Sebuah Nama Sebuah Cerita

2. Sinopsis Novel Brianna dan Bottomwise

Novel Brianna dan Bottomwise karya Andrea Hirata

Berita hilangnya gitar milik musisi Rock kenamaan, John Musiciante, menggemparkan dunia. Bukan hanya karena harga gitar tersebut, tetapi lebih kepada siapa pemiliknya. Selain itu, pada gitar tersebut tersemat tanda tangan sang legenda rock.

Musiciante sangat terpukul atas kehilangan gitar kesayangan. Dia kemudian menyewa seorang Private Investigator (PI) atau disebut juga detektif swasta untuk menyelediki di mana keberadaan gitar itu. PI tersebut bernama Angela Bottomwise, yang berpengalaman mencari barang-barang hilang milik selebriti.

Dalam penyelidikannya, Bottomwise merekrut seorang asisten bernama Brianna. Meskipun gadis berusia 22 tahun itu berpenampilan seperti guru TK, dia mahir menggunakan senjata api. Mereka menjelajah California, negara bagian tempat hilangnya gitar berwarna sunburst itu. Setelah itu, mereka keluar California menuju Las Vegas, Nevada, hingga Chicago.

Mereka menemui para kolektor alat musik, datang langsung ke komunitas musik, klub-klub musik, menyisir rumah gadai, toko barang bekas, dan pasar loak. Hingga pada suatu hari mereka menemukan titik terang. Seorang informan memberitahukan bahwa gitar tersebut terlihat di sekitar pelabuhan dan dibawa oleh seorang chef perempuan Asia yang bekerja di sebuah kapal pesiar.

Dengan reputasi Bottomwise, dengan mudah mereka mengetahui bahwa gitar itu dibawa ke Jakarta, Indonesia. Mereka juga tahu perempuan Asia itu akan kembali ke Amerika. Jadi, mereka menunggu di pelabuhan untuk “menyambutnya”.

Mereka berhipotesis bahwa perempuan Asia berhijab itu adalah seorang bandit Internasional yang menyelundupkan gitar curian milik Musiciante. Tentu saja anggapan mereka itu salah karena gadis itu, Amaya, adalah seorang kakak yang sangat penyayang pada adiknya.

Related:

Novel Hujan, Antara Menerima dan Melupakan

Novel The Dusty Sneakers, Catatan Duo Travel Blogger

Tokoh Lainnya dalam Novel Brianna dan Bottomwise

Amaya sama sekali bukanlah komplotan pencuri. Amaya memberikan gitar itu pada sang adik yang memiliki bakat musik cemerlang. Sayangnya, orang tak dikenal mencuri gitar tersebut, sehingga sang adik sedih tak kepalang.

Gitar Musiciante terus berpindah tangan dari musisi ke pencuri, pencuri ke penadah, penadah ke musisi. Terus seperti itu sampai fisiknya bak kaleng rombeng. Hanya segelintir orang yang menyadari keistimewaanya. Yang lain lebih banyak menganggap sebagai gitar lapuk.

Akankah gitar itu kembali pada pemiliknya? Masih ada perjalanan panjang gitar Musiciante yang harus kalian ikuti. Perjalanan tentang kerakusan, musikalitas, mistis, telinga kuali, mimpi, dan kegigihan yang menyertai gitar paling dicari di dunia tersebut.

Ameru, Gitaris Muda Berbakat

Sadman dalam Novel Brianna dan Bottomwise

Ameru merupakan adik kesayangan Amaya. Setiap sang kakak pergi berlayar dan bertanya Ameru ingin buah tangan apa, dia selalu menjawab gitar. Saat berlabuh di San Fransisco, Amaya membeli sebuah gitar bekas di flea market tanpa tahu bahwa gitar itu adalah gitar curian milik Musiciante.

Awalnya Ameru kecewa saat gitar itu telah berada di hadapannya. Gitar itu bukan hanya tua, tetapi juga tampak seperti barang yang berasal dari tempat sampah. Ameru enggan menjajalnya, tetapi kemudian dia teringat perjalanan panjang yang telah ditempuh gitar itu untuk bisa sampai di Jakarta.

Setelah tahu kualitas gitar Musiciante, Ameru menjadikannya kesayangan. Dia membawa gitar itu ke sekolah dan ke studio tempat latihan band bersama teman-temannya. Malangnya, Ameru hanya sebentar saja bisa memainkan gitar tersebut. Gitar itu kembali dicuri.

Related:

Novel Serpihan Asa, Cerita Sederhana yang Menjadi Juara

Novel Anak Rantau, Alam Terkembang Jadi Guru

Kumcer Bila Esok Ibu Tiada, Kisah Tentang Kehilangan dan Penyesalan

Alma, si Anak Pengalah yang Pitch Perfect

Alma, anak sulung dari empat bersaudara terbiasa mengalah sejak kecil. Dia juga pendiam dan gampang gugup. Hal ini mungkin karena sejak kecil dia menyaksikan ayah dan ibu sering bersitegang. Sang ayah merupakan orang yang gila judi, pulang ke rumah hanya untuk mengambil lalu menjual barang-barang ibunya.

Dalam keadaan ekonomi yang morat-marit, Alma tak tahu bahwa dirinya memiliki bakat seni yang dahsyat. Dia bisa mengenali nada dengan sempurna tanpa mengetahui namanya. Alma pengalah akan segala hal, kecuali gitar.

Gitar membuatnya berani meminta pada sang ibu, hal yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan. Melihat tekad yang sangat kuat pada putrinya, sang ibu menabung sedikit demi sedikit untuk membelikannya gitar.

Sudah merupakan suratan takdir, gitar pertama Alma adalah gitar Musiciante yang berada di toko barang-barang bekas. Bersama gitar itu, Alma menjelma menjadi musisi muda berbakat tingkat SMP.

Hal ini sampai ke telinga ayahnya. Tentu saja dia mendatangi Alma bukan untuk memberikan dukungan, tetapi untuk mengambil gitar itu lalu menjualnya. Gitar Musiciante pun kembali berkelana.

Pak Mu Lupa dengan Segala Kecuali Musik

Kebaikan anak pemillik sirkus membuat Pak Mu tetap bisa kerja meski sekadar membantu personel band membetulkan kabel atau membuatkan kopi. Dia sudah lupa bagaimana berbicara dan bercerita, tetapi musik selalu hidup di hatinya.

Menonton band yang sedang latihan merupakan hal yang istimewa baginya. Dia masih bisa menyadari bahwa para personel itu tidak berbakat. Hingga suatu hari lelaki tua itu mendengar suara yang indah, bukan, bukan karena anggota band telah menjadi mahir, tetapi karena sang gitaris memainkan gitar yang luar biasa, Gitar Musiciante.

Gitar Musiciante telah menyentuh hati dan ingatan Pak Mu. Saat lelaki itu berkesempatan memainkan gitar itu, dia kembali mengingat wajah kedua orang tuanya. Perlahan memori masa lalu datang kembali pada Pak Mu, tetapi tak lama kemudian gitar itu kembali beralih tangan.

Sadman, Bujang Orkes Bertelinga Kuali

Arsyad Amrullah bin Ahmadin Soelaiman mempunyai mimpi besar. Mimpi itu tidak pernah berubah, dari remaja hingga dewasa, dia tetap ingin mempunyai sebuah grup orkes. Dengan modal kegigihan, tanpa bakat, akhirnya dia mampu mewujudkan mimpi itu bersama kawan-kawannya yang juga tak berbakat.

Arsyad punya nama beken Sadman. Meskipun itu merupakan singkatan namanya, hidupnya memang literally menyedihkan. Gitar Musiciante juga menyentuh hidupnya, walau pada awalnya dia tidak mengetahui betapa istimewanya gitar itu.

Selain tidak berbakat, Sadman juga masih memercayai hal-hal yang berbau mistis. Sang bujang orkes rela merogoh kocek untuk membuang gitar itu dari hidupnya. Naasnya, dia pun harus merogoh kocek lebih dalam lagi saat tahu bahwa gitar itu milik Musiciante.

3. Review Novel Brianna dan Bottomwise

Dwilogi Brianna dan Bottomwise karya Andrea Hirata

Setiap membaca novel Andrea Hirata saya selalu merasakan kehangatan. Rasa hangat yang terasa bila kita pulang ke rumah. Novel-novel Pak Cik tak pernah alpa menghadirkan suasana yang sama. Suasana yang pertama kali saya kenal di novel Laskar Pelangi.

Dari novel pertama sampai yang terakhir saya baca ini, Andrea selalu mengangkat kehidupan masyarakat melayu. Mereka unik, baik nama maupun perilakunya, gemar nongkrong di warung kopi, masih kental dengan dunia klenik, dan selalu punya cara untuk menertawakan kemiskinan dan kebodohan.

Di novel Brianna dan Bottomwise ini pun masih bercerita tentang orang-orang Melayu, tetapi ada tambahan orang luar negeri, tepatnya Amerika Serikat, yakni John Musiciante selaku pemilik gitar serta Brianna dan Bottomwise, detektif swasta yang melakukan pencarian atas gitar tersebut. Amerika juga menjadi setting tempat di novel ini untuk beberapa bab.

Sudah menjadi ciri khas Andrea Hirata yang kerap memiliki banyak tokoh untuk setiap ceritanya. Di novel ini pun seperti itu, ditambah Andrea loncat-loncat menceritakan satu tokoh ke tokoh lain tanpa ada penjelasan keterkaitannya di awal.

Setting waktunya pun maju mundur, kadang tidak disebut kejadiannya kapan. Saya yang menggemari kisah misteri dan detektif tidak keberatan dengan cara Andrea berkisah kali ini. Ini sangat seru, di akhir cerita pun semua tanya akhirnya terjawab.

4. Penutup

Bagi penggemar Andrea Hirata tentunya novel ini bisa mengobati rasa rindu atas karya Pak Cik. Namun, untuk yang tidak suka cerita yang agak berbelit tampaknya akan mengalami sedikit kebingungan. Namun, tidak perlu khawatir kebingungan itu hanya sebentar, di akhir semua akan menjadi jelas.

Setiap selesai membaca novel Andrea Hirata saya selalu menjadi lebih menyadari bahwa hidup itu enteng jika kita memang menganggapnya seperti itu. Selalu ada celah untuk melihat sesuatu dari sisi yang indah.

Novel Brianna dan Bottomwise pun mengajarkan untuk tidak berhenti bermimpi. Seperti yang selalu Sadman yakini bahwa mereka yang melupakan mimpi-mimpinya akan selalu bangun tidur dalam keadaan lelah. Selamat membaca, Playmates.

17 komentar untuk “Novel Brianna dan Bottomwise, Kisah Pencarian Gitar Musiciante”

  1. Hingga kini, nama Andrea Hirata masih identik dengan Laskar Pelangi, sebuah novel yang sangat fenomenal. Padahal, sudah banyak karya2 beliau yang lain termasuk Brianna dan Bottomwise.
    Yang saya suka dari Andrea Hirata adalah cara memaparkan karakter tokoh, cara menuliskan deskripsi tempat, dan juga sentilan2nya yang ngena banget.
    Bakalan jadi wishlist nih…

  2. Mereka yang melupakn mimpi2nya akan selalu bangun tidur dalam keadaan lelah.

    (SADMAN)

    Waaah…kutipan yg beneran sedih jika merasa related. Saya agak merasa related sih..ada mimpi2 yg blm jg terwujud karena saya merasa tak becus.

    Ah…andrea hirata, terima kasih telah mengingatkan. Mbak Monica, twrima kasih telah menjadi kurir pesan Hirata.

  3. Novel-novel Andrea Hirata tak pernah membuat kecewa para pembaca setianya, dari mulai Laskar Pelangi sampai hitungan belasan novel lainnya, termasuk Brianna dan Bottomwise ini, dan yang unik dalam banyak novelnya, Andrea Hirata walaupun kental membicarakan tanah melayu, tapi ia juga sangat fasih dalam mendeskripsikan tanah-tanah di luar negeri yang membawa kita sebagai pembaca untuk menjelajah di bawah alam imaginasi kita

  4. Andrea Hirata ini kalau buat novel bahasanya heart-warming. Bahkan aku masih ingat bagaimana ia menuturkan kehidupan pendidikan anak-anak pesisir di laskar pelangi yang “cukup kurang” dengan bahasa yang enak bahkan menggugah emosi. Nggak heran, si penulis ini bisa dapet penghargaan internasional.

    Nah, ini novelnya sudah masuk wishlist tahun ini. Mudah²an segera bisa diburu sebelum akhir tahun. ❤️❤️

  5. Novel-novel Andrea Hirata memang syarat cerita yang menggugah, penuh nilai dan makna tentang kehidupan. Seperti Novel Brianna ini juga bnyk pelajaran yg bisa diambil. Harus cari novelnya, nih, aku bru baca Laskar Pelangi aja, hihi.

  6. Semoga karya Andrea Hirata yang satu ini bisa diadaptasi menjadi film ya…Jadi teka-teki di novelnya bisa tergambarkan secara real gitu..ehehe.. Apalagi mengangkat sosok Briana yang sepertinya jadi seorang detektif..Sangat jarang gak sih wanita jadi detektif gini?

  7. Alfia D. Masyitoh

    Wah, aku juga sudah lama nggak baca novel. Jadi kangen baca juga gara2 review ini. Kalo baca sekilas memang menarik ya, gitar legend menempuh perjalanan yang begitu panjang. Andai gitar itu punya perasaan, entah gimana perasaannya terus berpindah dari tangan ke tangan. Tokoh di novel ini lumayan banyak, jadi penasaran apakah Brianna dan Bottomwise akhirnya berhasil mendapatkan gitar Musiciante lagi apa enggak. Dan penasaran hikmah apa di balik petualangan panjang si gitar ini.

  8. Alfia D. Masyitoh

    Cerita-cerita yang ditulis Andrea Hirata memang selalu punya nilai rasa seperti semangat untuk meraih cita-cita. Inspiratif dan menyegarkan. Dan menurutku juga visioner, bahwa kita bebas bermimpi, seluas mungkin, setinggi mungkin.

  9. Sekelas Andrea Hirata, kalau bikin novel takkan bisa diragukan. Baca sinopsisnya saja bikin saya pemgen segera baca bukunya lalu menanti versi TV atau drama series-nya. Keren!

  10. penasaran harga gitarnya berapa, menarik ya mbak isi novelnya. sangat terbantu dengan membaca reviewnya disini. Alur pemikirannya juga menarik, bikin penasaran di awal jadinya kudu tuntas bacanya. Andrea Hirata emang jempol empat

  11. Saya baru beberapa kali baca karya Andrea Hirata, tapi selalu meninggalkan kesan khusus setelah baca. Novelnya selalu menyisipkan nilai-nilai kehidupan, itu salah satu kenapa saya suka karya Andrea Hirata.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top