Pangeran dan Bulan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sehat untuk semua, ya, Playmates. Sekitar tahun 2010 saya pernah punya blog, tetapi blog saat itu dan saat ini mempunyai citra yang sangat berbeda di mata saya. Saat itu saya pernah membuat sebuah tulisan yang berjudul Pangeran dan Bulan.

Dulu saya menganggap blog itu tempat curhat, sebuah flatform yang menampung isi hati lebih panjang dibanding dengan note facebook. Tidak pernah terpikir bahwa blogging itu mempunyai aturan-aturan tertentu yang harus diikuti, jika ingin nangkring di page one Google. Bahkan untuk sekadar membuat “Simbah” noticed  dengan tulisan kita pun mesti diusahakan.

Saya tidak akan menceritakan makna tulisan saya ini karena menurut saya lebih indah kalau sebuah tulisan itu bercerita dengan sendirinya, tanpa perlu penjelasan maksudnya apa. Biarlah setiap orang menginterpretasikannya sesuai pemahaman sendiri. Saya hanya akan bilang bahwa ini merupakan catatan kegalauan di masa muda, yang kalau dibaca sekarang suka agak malu.

Pangeran dan Bulan dari Tahun 2009

Cerita Pendek Pangeran dan Bulan

Angin malam bertiup begitu kencang,
menyanyikan kepedihan yang tak terungkap.

Kesunyian menari indah hingga malam terasa kian mencekam,
dan kelamnya malam menyempurnakan kehampaan yang ada.

Sepasang kaki melangkah dengan enggan,
langkahnya begitu berat menapaki tiap jengkal tanah kekecewaan,
sang pangeran tampan pemilik sepasang kaki itu menghentikan langkahnya di dekat pohon besar, detik berikutnya dia telah duduk bersandar di Pohon tua itu.

Dia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan berat, berharap rasa sakit hatinya akan terbuang bersama embusan napasnya.

Sang pangeran menatap langit hitam yang tak berbintang, di sana hanya ada rembulan, tak ada yg lain. Dia pun mulai mengajak bulan berbincang. “Bulan, aku sedang galau, jika tak keberatan tolong temani aku.” Hanya desau angin yg menjawab, bulan tetap bergeming.

Pangeran pun kembali berujar,

” Bulan, mengapa ada kepedihan di balik kata-kata manisnya? Dengan tega dia memberikan air pengkhianatan dalam gelas cintanya. Mengapa ada kesedihan dalam singgasana kasih sayangnya?Dengan sadar dia menghadiahkan kekecewaan setelah menghadiahkan segunung harapan? Mengapa bulan?

Bulan tetap tak menjawab, tetapi cahayanya semakin nyata. Hangatnya cahaya itu menembus relung hati sang pangeran.

” Bulan, apa kau sedang tersenyum padaku? Adakah yang hendak kau sampaikan padaku?”

” Oh aku tahu bulan, kau sedang menghiburku bukan? Kau ingin berkata bahwa kepedihan tak selamanya memberikan kesedihan. Kepedihan juga bisa memberikan kebijaksanaan, begitu bukan?”

Awan hitam bergerak mendekati sang bulan, terus mendekat hingga menghalangi cahayanya, Pangeran terpaku melihat bulan yang kini tak seterang tadi.

” Kau pasti bercanda, Bulan, kau memintaku berusaha memaafkn dia? Namun… namun… “Benarkah itu bulan? Haruskah aku memaafkan dia? Seperti kau yang memaafkan awan hitam yg menghalangi cahayamu itu. Kau tetap memaafkannya walaupun dia telah menghilangkan keelokanmu.”

Perlahan sang pangeran menutup kedua matanya. Angin malam membawa dia pada kenangan indah dalam hidupnya. Detik berikutnya angin mengempaskan dia pada jurang luka hatinya.

Ada kepedihan tak terperi yang menggerogoti perasaannya. Ingin dia membiarkan kebencian tumbuh subur dalam hatinya, tetapi dia sangat tidak ingin lentera ketulusan hatinya padam karena kebencian itu.

Air muka pangeran perlahan melembut, masih dengan mata terpejam dia berkata lirih,

“Ya, tentu saja aku akan memaafkanmu. Aku yakin aku bisa memaafkanmu. Bukan untukmu, tetapi untukku karena aku ingin seperti bulan. Bulan yang pemaaf.”

14 Oktober 2009

Penutup

Saya masih ingat peristiwa apa yang melatarbelakangi lahirnya tulisan ini. Meskipun sekarang jauh lebih bisa bersikap acuh pada apa yang terjadi, tetapi saya cukup takjub saat menyadari bahwa saya dari empat belas tahun yang lalu mampu membuat tulisan seperti ini.

Saya yang sekarang belum pernah menulis kata-kata semacam itu. Kapan lagi kutulis untukmu? Tulisan-tulisan indahku yang dulu. Pernah wanai dunia, puisiku hanya untukmu. Eh, malah nyanyi! Yang tahu lagunya, pasti seangkatan, deh.

Pangeran dan Bulan, terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan ke tahun 2019. It’s such an amazing journey. Kembali membuka tabir masa lalu dan kembali mengecap luka itu membuatku bersyukur atas segala perjalanan hidup.

4 komentar untuk “Pangeran dan Bulan”

  1. Sekilas saya rendezvous ke salah satu kisah Mbak Dee Lestari. Gayanya juga puitis seperti Mbak. Saya lebih suka gaya tulisan seperti ini ketimbang gaya tulisan yang terlalu hantam bahasa. Keren, Mbak. Ohya pukpuk buat mas Pangerannya. ?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top