Belajar Menulis dari Pidi Baiq, Seru Banget!

“Bakal ada Pidi Baiq di IPI.”

Sebaris pesan dari suami di aplikasi chat hijau itu membuat saya melonjak. Hah? Pidi Baiq? Saya tinggal di sebuah kabupaten di Jawa Barat. Kota saya dekat dari Bandung, tetapi tidak terlalu ramai. Jarang sekali ada penulis yang menyambangi, sehingga saya hampir tidak percaya bahwa akan ada kesempatan belajar menulis dari Pidi Baiq.

IPI merupakan salah satu perguruan tinggi di Garut. Beruntungnya tempat berlangsungnya seminar kepenulisan tersebut tidak jauh dari rumah. Selain itu, harga tiket masuknya pun relatif murah. Tiga puluh lima ribu tentunya tidak seberapa mengingat Ayah merupakan seorang penulis masyhur.

Setelah mendapat izin suami, saya segera mem-posting flyer seminar tersebut berharap ada teman yang berminat juga. Singkat cerita, ada dua teman yang ingin juga bertemu penulis novel Dilan itu. Dua orang cukup untuk membuat saya tidak seperti anak hilang di keramaian nanti.

Saya begitu antusias karena setelah dua tahun belajar menulis, baru kali ini ada kesempatan untuk mengikuti acara offline. Biasanya, saya belajar, nulis bareng, ikut lomba menulis, dan berjejaring di dunia kepenulisan secara daring. Ini membuat saya sangat bersemangat. Belajar menulis dari Pidi Baiq merupakan kesempatan emas yang langka.

Pidi Baiq dan Dilan

Ancika 1995, Salah Satu Novel Pidi Baiq

Nama Pidi Baiq kian melambung seiring suksesnya novel dan film Dilan. Sosok Pidi begitu lekat dengan Dilan sehingga banyak yang berspekulasi bahwa imam besar The Panasdalam tersebut memanglah Dilan.

Ayah, sapaan akrab Pidi Baiq, tidak pernah secara gamblang mengakui bahwa Dilan adalah dirinya. Namun, terlalu banyak kesamaan pada keduanya. Yang paling kentara adalah sama-sama lulusan ITB dan sama-sama pernah ke Rusia.

Di social media pernah ada satu konspirasi yang menyebutkan bahwa Dilan itu merupakan seorang teman Pidi di dunia nyata. Namun, pendapat ini masih kalah popoler daripada yang pertama. Kalau menurut kalian bagaimana, Playmates?

Salah satu penyesalan saya adalah membaca dan menonton Dilan dengan hati. Perpisahan Dilan dan Milea sungguh membuat banyak orang susah move on. Saya membutuhkan jeda yang agak panjang saat memutuskan untuk meneruskan membaca kisah Dilan dalam novel Ancika.

Keengganan Iqbaal Ramadhan untuk kembali memerankan Dilan mengejutkan banyak pihak. Namun, ada sedikit kelegaan di hati. Saya tidak bisa membayangkan pedihnya melihat Dilan Iqbaal tidak bersama Milea. Biarlah saya mencoba menipu diri sendiri bahwa Dilan Arbani dan Ancika adalah kisah Dilan dari semesta lain.

Proses Kreatif Sastra

Ancika 1995, Salah Satu Novel Pidi Baiq

Acara di aula gedung rektorat IPI yang berlangsung tanggal 2 Desember 2023 itu bertajuk Proses Kreatif Sastra. Saya bersama dua sahabat janji bertemu di depan gedung tersebut. Setelah berkumpul, kami segera naik ke lantai 2 di mana aula tersebut berada.

Kami mengisi presensi dan cukup terkejut karena mendapatkan snack box serta voucher kursus bahasa Inggris. Padahal harga tiketnya murah, ternyata kami dapat konsumsi juga. Acara mulai pukul satu. Saat kami datang, di panggung sedang ada penyanyi yang tampil.

Setelah itu, acara berlangsung formal. Sambutan yang pendek-pendek dari seorang dosen, ketua HIMA, ketua BEM, dan beberapa perwakilan mahasiswa lagi mewarnai pembukaan. Kami duduk di barisan kursi belakang dan dengan penasaran terus melongok-longakan kepala memperhatikan sosok lelaki di barisan kursi pertama. Kami penasaran apakah Pidi Baiq sudah datang atau belum.

Panitia mengatur posisi kursi dengan memberikan jarak ke depan dan samping, sehingga kami tampak seperti sedang menjalani ujian. Pengaturan posisi ini menjadikan kami jauh dari panggung, mengingat posisi kami yang hampir paling belakang.

Setelah beberapa saat akhirnya kami mengetahui bahwa Ayah belum datang. Laki-laki yang berada di barisan pertama ternyata Dr. Didin Sahidin M.Pd. Beliau merupakan narasumber juga di acara itu.

Sambutan-sambutan pun selesai, giliran Pak Didin yang mengisi acara. Dari pemaparan beliau, saya jadi tahu bahwa Proses Kreatif Sastra adalah salah satu mata kuliah di Jurusan Pendidikan dan Sastra Bahasa Indonesia. Untuk beberapa saat saya merasa menjadi salah satu mahasiswa karena konsep acaranya memang seperti untuk mahasiswa.

Saya sudah menyiapkan buku dan pena, tetapi Pak Didin tidak menyampaikan banyak materi. Beliau lebih banyak memotivasi untuk menghasilkan karya. Dr. Didin mengatakan di kelasnya lebih banyak praktik, sehingga beliau bisa memastikan setelah menyelesaikan pembelajaran, semua mahasiswa mempunyai karya berupa buku fisik.

Belajar Menulis dari Pidi Baiq

Belajar Menulis dari Pidi Baiq, Penulis Serba Bisa

Sekitar pukul setengah 4, Akhirnya Pidi Baiq datang. Beliau masuk dari pintu belakang, sehingga kami yang berada di barisan terakhir menyadari kedatangannya. Berbeda dengan peserta seminar yang berada di depan. Sepertinya mereka belum menyadarinya.

Saya dan dua sahabat hanya mampu melongo saat Ayah memasuki aula. Semua berlangsung cepat, sehingga untuk sekadar mengangkat ponsel pun tidak sempat. Panitia mengarahkan seniman serba bisa itu ke pintu samping, sedang di panggung masih ada hiburan dan acara dari sponsor. Di sesi ini acara berubah menjadi lebih casual.

Setelah beristirahat sejenak, akhirnya riuh tepuk tangan mengiringi langkah Ayah menuju panggung. Begitu sampai panggung, beliau menyuruh para peserta untuk maju. Tidak tanggung-tanggung majunya itu ke panggung. Suasana berubah menjadi meriah, kami melangkah cepat dengan antusias duduk lesehan dekat dengan Ayah.

Suasana begitu cair seolah kami sudah sering bertemu dengan Pidi Baiq. Beliau tidak menciptakan jarak, mungkin karena sama-sama orang Sunda juga jadi situasinya menjadi lebih akrab. Saya agak sulit mendeskripsikannya, pokoknya seru dan heboh.

Menulis untuk Menghargai Diri Sendiri

Saya melihat acara kepenulisan itu lebih ke bincang santai, daripada sebuah seminar. Pada kesempatan itu Pidi Baiq pun lebih banyak memberikan motivasi, seperti halnya Pak Didin. Pidi berkata menulislah untuk menghargai diri sendiri.

Dengan menulis tentunya value kita bertambah. Semuanya kita upayakan demi diri sendiri, demi pencapaian, kebanggaan, dan aktualisasi. Ayah berbicara dengan sangat santai dan menyelinginya dengan banyak canda dan tawa.

Belajar Menulis dari Pidi Baiq: Fokus Menulis

Saat menulis, tulislah apa pun yang terlintas di pikiran. Tidak masalah jikalau kita menuangkannya dalam bahasa daerah sekalipun. Untuk mulai berlatih menulis, kita tidak harus langsung menuliskan sesuatu yang bagus dan berat. Kita bisa mulai dari menuliskan apa yang kita alami dan pikirkan.

Fokuslah menulis tanpa peduli apa kata orang lain. Kalau pun kita belum tahu akan menjadi apa tulisan tersebut, suatu saat tulisan itu pasti berguna. Kunci untuk menjadi penulis itu hanya menulis, menulis, dan menulis.

Tidak Terpaku pada Kaidah

Pidi Baiq berkata seandainya beliau belajar tentang kaidah bahasa belum tentu beliau jadi penulis. Pastinya akan ada ketakutan dan kekhawatiran tulisannya akan bertentangan dengan kaidah. Mungkin itu salah satu keuntungan dari sebuah ketidaktahuan.

Akan tetapi, menurut saya, karena  bukan Pidi Baiq, sebaiknya kita belajar kaidah bahasa dan praktik menulis secara beriringan. Kalau pun nantinya kita ingin menulis tanpa kaidah, setidaknya kita tahu seperti apa tulisan yang sesuai dengan KBBI dan EYD. Sehingga kita tetap bisa mengedukasi para pembaca.

Jangan Jadi Editor Saat Menulis

Salah satu alasan tidak selesainya tulisan adalah karena kita berperan sebagai penulis sekaligus editor. Baru menulis satu paragraf saja kita sudah baca berulang-ulang. Semakin kita baca, semakin kita merasa ada yang salah. Sehingga kita menjadi sibuk menulis, mengedit, menghapus, lalu menulis lagi. Begitu seterusnya.

Saat menulis, fokuslah untuk menyelesaikan tulisan tanpa merisaukan apa pun. Setelah selesai endapkanlah tulisan beberapa jam atau hari sesuai kebutuhan. Jeda waktu itu akan membuat pikiran lebih jernih. Saat itulah silakan kalian menjadi editor.

Kreativitas Bukan Masalah Benar dan Salah

Menurut Pidi Baiq, Chairil Anwar merupakan penulis puisi yang hebat. Namun, saat kalian mengajar (konteks di sini karena peserta seminar kebanyakan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, sehingga nantinya kemungkinan besar menjadi guru bahasa Indonesia), kalian tidak mesti selalu memberikan puisi Chairil Anwar sebagai contoh kepada para murid.

Beranilah untuk menulis sendiri puisi itu dan tunjukkan dengan bangga kepada murid-murid kalian. Chairil Anwar memang hebat, tetapi kehebatannya jangan sampai menghalangi kreativitas kalian. Tidak perlu takut karena dunia kreativitas tidak sama dengan dunia eksakta di mana kalian benar saat sama dengan orang lain.

Penutup “Belajar Menulis dari Pidi Baiq”

Tanggal 2 Desember 2023 akan menjadi hari yang saya kenang sebagai hari yang spesial. Pada hari itu, saya mempunyai kesempatan untuk menghadiri event kepenulisan offline. Setelah lebih dari dua tahun ini saya berliterasi secara online.

Begitu melangkah memasuki aula tempat berlangsungnya acara, saya merasakan atmosfer yang luar biasa. Antusiasme menguasai diri, sehingga saya cenderung lebih bersemangat dan heboh dari biasanya.

Banyak pelajaran dan pengalaman berbeda yang saya rasakan. Di antaranya bisa merasakan kembali suasana perkuliahan, bertemu dengan orang-orang yang juga menyukai bahasa, dan tentu saja bisa belajar menulis dari Pidi Baiq. Semoga nanti ada lagi acara kepenulisan offline di kota kecil tercinta ini.

27 komentar untuk “Belajar Menulis dari Pidi Baiq, Seru Banget!”

  1. Beberapa karya tulis penulis besar menurut saya merupakan penggalan pengalaman pribadi penulis sih, jadi ya menurutku Dilan itu ya Pidi Baiq hehehe
    Senangnya bisa belajar dari sang idola ya Teh

  2. Keren yaa IPI, sekali ngundang penulis, nggak tanggung-tanggung, oenukis terkenal yang jaryanya juga SDH membumi dan banyak peminat, segmentbya pas banget, kaum remaja. Thankyou yaa SDH sharing.

  3. Hahaha aku juga setuju kalau Pidi Baiq itu sebetulnya Dilan. Gimana ya kalau lihat storynya gaya bahasa dan ngobrol tuh kaya Dilan banget. Enak ya teh bisa ngobrol santai sama Ayah, nggak kaya seminar menulis pada umumnya, hehe. Tapi tetep ada insight yang bisa diambil ya.

  4. Keren banget deh kampus IPI mengundang penulis profesional kayak Pidi Baiq, yang memang karyanya udah gak diragukan lagi. Jadinya peserta mendapatkan banyak manfaat kepenulisan dari sini

  5. Keren banget bisa ikutan kelas bang Pidi. Jadi mupeng bisa ikutan gabungan. Sebagian besar tipsnya memang bener kok. Karena kalau kita baru nggodog naskah sudah jadi editor, g bakal jadi deh naskahnya. ?

  6. Duh jadi inget lagi, aku sampe nangis sesenggukan setelah baca Dilan. Susah move on dan nyesel udah baca tapi akhirnya bikin sedih berhari-hari, huhu

    Sampai sekarang aku belum baca Ancika mba, takut kalau sad ending juga, wkwkwk

    Ayah tuh keliatan banget kalau orangnya easy going ya mba, dari tulisannya juga mengalir dan banyak jokesnya. Beruntung banget kamu mba, bisa ketemu beliau langsung dan mendapatkan tips menulis yang keren.

  7. Wah…bersyukur banget bisa ikutan sesi sharing dengan Pidi Baiq. Pastinya tambah termotivasi buat menulis ya Mbak…
    Bener banget tuh…baru satu paragraf, udah gonta-ganti kalimat. Akhir engga selesai-selesai. Harus fokus aja…

  8. Duh, pasti seru dan menyenangkan, ya, Mba. Saya belum pernah nih menghadiri acara literasi di kota domisili secara offline. Jadi pengen juga punya resolusi 2024 menghadiri acara yang sama. Sepertinya tertular semangat Mba nih.

  9. Senangnya banyak ilmu yang bisa diambil ya Kak dari Pidi Baiq. Paling nyentil itu menurut saya, menulis jangan sambil jadi editor. Dan kunci menjadi penulis ya menulis, menulis, dan menulis. Semakin sering menulis, semakin banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Makasi sudah sharing insight yang melimpah dari Pidi Baiq ini ya Kak.

  10. Bener banget ya teh, kayanya kenapa aku ga selesai aja tulisannya karena sering jd editor untuk diri sendiri. Pdhal nulis aja dulu, urusan benar dan tidaknya yang penting tersalurkan dulu ide dan gagasan yang terpendam

  11. seru banget dapat ilmu banyak ya mba, dan tips yang menjadi penulis sekaligus sebagai editor bener banget adanya, kenapa, karena saya mengalami sendiri mba, yang ada tuh tulisan gak jadi-jadi sampai sekarang, baca ini jadi lebih terarah niy, nulis-nulis aja ya harusnya, biarkan nanti sama sang editor yang ngatur

  12. dilan itu memang termasuk karya yang fenomenal yaa baik buku maupun filmnya. aku baca juga buku dilan tapi cuma buku pertamanya. pasti senang banget ya, mbak bisa belajar nulis langsung dari ayah pidi baiq

  13. Pingback: Beri Aku Cerita yang Tak Biasa, Sinergi Terpuji Antara Wanita dan Budaya - Monica Rasmona

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top