Tazkiyatun Nafs Menjelang Ramadan

Alhamdulillah saya mengawali Maret 2024 ini dengan menghadiri kajian rutin bulanan di sekolah si cikal. Tepat di tanggal 1 pada hari Jumat mubarak. Tema kali itu adalah tazkiyatun nafs menjelang Ramadan. Tentunya ini merupakan momen yang tepat, mengingat beberapa hari lagi kita akan menyambut bulan suci Ramadan.

Sebagai pembuka, kami membaca Al-Qur’an secara bersama-sama. Saya tidak membawa kitab suci maupun smartphone, selain itu saya datang sendiri sehingga tidak bisa ikut membaca pada teman. Untungnya, mata saya masih normal sehingga bisa mencuri pandang ke gawai orang di depan saya.

Setelah itu narasumber langsung memaparkan materi. Pemateri kajian tersebut adalah Dra. Nurlaela. Beliau menjelaskan keutamaan Sya’ban, bulan sebelum Ramadan. Pada bulan ini Nabi memperbanyak saum. Nabi mencontohkan untuk melakukan persiapan sebelum kewajiban berpuasa selama satu bulan datang.

Sya’ban merupakan bulan yang terlupa. Pada bulan ini banyak di antara kita berkumpul untuk makan-makan dengan alasan menyambut Ramadan. Padahal Nabi menganjurkan untuk puasa lebih sering dari sebelumnya.

Jika biasanya dalam sebulan kita saum tiga hari (ayyamul baid), hendaknya kita tingkatkan menjadi 8 hari (Senin-Kamis). Yang terbiasa saum Senin-Kamis, sebaiknya meningkat mengerjakan Saum Daud.

Sudah menjadi sebuah kebiasaan, kita memandang hanya pada bulan Ramadan, padahal dua bulan sebelumnya, yakni Rajab dan Sya’ban hadir sebagai momen pembiasaan.

Ada yang bilang Rajab itu awan, Sya’ban itu mendung, dan Ramadan itu hujan. Ada pula yang mengatakan bahwa Rajab itu menanam, Sya’ban itu menyiram, dan Ramadan itu memanen.

Subhanallah, entah sudah berapa kali kita melewatkan Rajab dan Sya’ban begitu saja. Namun, tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Masih ada beberapa hari lagi di bulan Sya’ban ini. Semoga kita bisa memaksimalkan ibadah dan meningkatkan ketakwaan, salah satunya dengan tazkiyatun nafs.

Tazkiyatun Nafs

Tazkiyatun merupakan bentuk mashdar dari kata zakka yang berarti penyucian, sedangkan an-nafs berarti jiwa. Oleh karena itu, tazkiyatun nafs berarti proses penyucian jiwa yang dilakukan terus-menerus oleh seorang muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Al-Ghazali mengartikan tazkiyatun nafs dengan istilah thaharatun nafs yang berarti pembersihan jiwa dari sifat-sifat tercela dan imraatun nafs yang berarti memakmurkan jiwa dengan sifat-sifat terpuji.

Dengan kata lain, kita mengosongkan jiwa dari hal-hal buruk, setelah kosong kita isi kembali dengan hal baik. Tentunya ini bukanlah sesuatu yang mudah, butuh tekad yang kuat. Selain itu, proses ini akan memakan waktu yang panjang.

Konsep tazkiyatun nafs hampir sama dengan zakat yang juga merupakan proses penyucian. Bedanya, zakat (maal) lebih ke penyucian harta dengan cara mengeluarkan sebagian untuk kita berikan kepada yang berhak.

Tahapan Tazkiyatun Nafs

Tazkiyatun Nafs Menjelang Ramadan

Ayat di atas menyebutkan bahwa sungguh beruntung orang-orang yang menyucikan jiwa. Ini bisa kita jadikan motivasi untuk terus mengisi jiwa dengan hal-hal yang Allah sukai.

Jiwa merupakan sesuatu yang penting, bahkan Allah bersumpah atas namanya dalam surat Al-Qiyamah. Sesungguhnya hati kita bisa membedakan mana yang benar dan salah. Namun dosa yang bayak kerap membuat hati menjadi tumpul.

Maka dari itu, kita harus membersihkan jiwa agar kita kembali ke setelan awal seperti dalam surat Al-A’raf ayat 172. Bahwasannya kebaikan itu terinstal dalam setiap jiwa.

Tahapan tazkiyatun nafs yang bisa kita usahakan adalah sebagai berikut:

  • Tathahhur: Pembersihan diri dari penyakit hati seperi kufur, hasud, su’udzon, takabur, uzub, riya, ghadzab, dan lain-lain dengan bertaubat.
  • Tahaqquq: Mendekatkan diri dengan sifat-sifat terpuji dan memfokuskan hati dan pikiran dengan berdzikir, berdoa, tilawah, dan lain-lain.
  • Takhalluq: Berakhlak dengan nama-nama Allah yang mulia serta meneladani Rasulullah Saw dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan

Usaha pembersihan diri seseorang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Semakin besih hatinya semakin baik pula ibadahnya, seperti salat secara khusyu dan menunaikan zakat.

Selain itu, akhlaknya pun bertambah mulia, seperti berhati-hati dalam berucap dan bertindak serta menjaga amanah.

Jadi, jelaslah sudah bahwa tazkiyatun nafs memiliki tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan ibadah dan akhlak agar lebih baik. Tentunya sesuai dengan petunjuk Allah dan teladan Rasulullah.

Upaya Tazkiyatun Nafs

Saat hati tergerak untuk ber-tazkiyatun nafs, pastikan melakukannya sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah. Banyak orang yang berdalih melalukan hal itu, padahal telah jauh melenceng.

Niatkan semata-mata untuk mendekatkan diri pada Allah, bukan untuk memperoleh ilmu berjalan di atas air, agar bisa terbang, dan hal lain semacamnya.

Kembalikan semuanya hanya pada apa yang Allah tunjukkan, seperti hal-hal berikut ini:

  • Mencari ilmu: Melandasi amal ibadahnya dengan ilmu
  • Salat: Menjaga dari perbuatan keji dan munkar
  • Zakat dan Infak: Menyucikan harta dan jiwa dan mengasah kepekaan
  • Membaca Qur’an: Melindungi diri dari perbuatan tercela dan sia-sia
  • Doa dan Zikir: Hati yang senantiasa berzikir akan merasa tenang
  • Mengasah Akhlak: Melatih syukur, sabar, dan akhlakul karimah
  • Taffakur: Mentaffakuri kebesaran, kekuasaan, dan nikmat Allah

Ciri-Ciri Hati yang Bersih

Allah bersumpah demi jiwa

Kalian pernah merasa nggak ada orang-orang yang kalau kita di dekatnya itu selalu menyenangkan? Nggak tahu kenapa bawaannya betah saja. Auranya itu memancarkan energi positif.

Hal ini bisa menjadi salah satu penanda bahwa orang tersebut memiliki hati yang bersih. Berikut ciri-ciri lainnya yang bisa kalian amati:

  • Takut kepada Allah
  • Bersih dari iri dan dengki
  • Syukur dan sabar
  • Berbuat baik terhadap sesama
  • Selalu ingin menjadi orang yang lebih baik

Sambut Ramadan dengan Hati yang Terang

Ramadan tinggal menghitung hari, mari kita sambut dengan suka cita dan jiwa yang bersih. Idealnya semua persiapan telah kita mulai dari bulan Rajab, tetapi bagi yang belum mulai melangkah, jangan berkecil hati. Kita songsong Ramadan kali ini dengan berbeda.

Berikut to do list selama Ramadan ini yang bisa kalian canangkan:

  • Niatkan Sebagai Ramadan Terakhir: Lakukan dengan perencanaan dan penuh kesadaran
  • Perbanyak Amal Saleh: Membaca Qur’an, berzikir, dan menambah amalan-amalan sunnah
  • Bersihkan Harta dari Syubhat dan Riba: Perbanyak Berinfak dan Bersedekah
  • Menuntut Ilmu dan Berdakwah: Dimulai dari rumah, membiasakan mengaji, dan mengkaji bersama anggota keluarga
  • Makan makanan sehat dan menjaga pola hidup: Sahur dan berbuka secukupnya dengan makanan sehat dan bergizi serta tetap beraktivitas seperti biasa

Penutup

Alhamdulillah Allah masih memberi kita kesempatan untuk menyambut datangnya Ramadan kali ini. Semoga kita bisa memaknainya dengan lebih baik, memandang bulan istimewa ini lebih kepada hakikatnya. Bukan sekadar bulan yang semarak oleh hiruk-pikuk keduniawian yang kurang esensinya.

Ramadan yang segera datang dalam hitungan jari masih memberikan kita waktu untuk tazkiyatun nafs. Mari makmurkan jiwa dengan ibadah yang selama ini kita anggap membuat susah.