Memantaskan Diri Menjadi Tamu Allah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sehat untuk semua, ya, Playmates. Kemarin-kemarin di antara kalian siapa yang menerima undangan walimatussafar dari kerabat? Pastinya banyak, ya karena beberapa bulan lalu kita memasuki musim haji. Kita turut berbahagia untuk mereka yang akan berhaji, tetapi di lubuk hati setiap muslim pasti ingin memantaskan diri menjadi tamu Allah.

Pada kajian terakhir POMG TK tempat si cikal bermain dan belajar pun panitia mengambil tema ini. Saya sangat senang saat mengetahui perihal ini dari flyer yang disebar. Namun, di sisi lain saya pun merasa sedih karena itu akan menjadi kesempatan terakhir saya menuntut ilmu di majelis ilmu tersebut.

Selama satu tahun ini banyak ilmu yang saya dapat dari acara mingguan ini, baik ilmu agama, maupun parenting. Saya hanya tinggal duduk manis selama dua jam dan ilmu pun dengan mudahnya bertambah. Tidak ada effort khusus untuk mendapatkannya karena saya berada di sekolah si cikal sembari menunggu waktu belajarnya habis.

Kini segenap kemudahan itu terasa semakin berarti saat semuanya telah berakhir. Si cikal telah menuntaskan satu tahunnya di taman kanak-kanak. Maka berakhir pulalah previlege yang selama satu tahun ini saya dapatkan.

Related:

Label Baru di Blogku

Keutamaan Ilmu, Cari Tahu, Yuk!

Jenis-jenis Watak Anak, Kenali, Yuk!

Pengalaman Berkesan Saat Mengikuti Kajian Bersama Ibu Wakil Bupati Garut

Pendidikan Tauhid Kepada Anak, Sepenting Apakah?

1. Memantaskan Diri Menjadi Tamu Allah

Memantaskan Diri Menjadi Tamu Allah

Selama kita berada di dunia, Allah melakukan beberapa panggilan, yakni panggilan salat, haji/umroh, dan mati. Untuk panggilan salat, siapa pun kita dan bagaimana pun keadaan kita tidak ada alasan yang bisa menggugurkan kewajiban atas panggilan itu.

Sementara itu panggilan mati merupakan perihal di luar kuasa kita. Siap tidak siap, Allah memiliki hak prerogatif penuh akan hal tersebut. Mati bukanlah sesuatu yang bisa kita tawar. Kita hanya bisa berusaha memaksimalkan amalan baik dalam menghadapinya.

Untuk panggilan haji dan umrah memang hanyalah bagi yang mampu, baik secara fisik maupun materi. Namun, satu hal yang harus selalu kita ingat, Allah itu tidak memanggil yang mampu, melainkan memampukan yang dipanggil.

Jadi, jangan merasa Allah tidak memanggil kita selama kita tidak melakukan ikhtiar semaksimal mungkin. Berikut kiat-kiat untuk memantaskan diri menjadi tamu Allah.

Related:

Pentingnya Cinta Murni dalam Pembentukan Karakter dan Fondasi Iman pada Anak

Menghayati Doa Nabi Ibrahim, Amalkan, Yuk!

Wanita Perindu Surga, Kita Termasukkah?

Rahasia Emas Bagi Pemburu Ilmu

Mendapatkan Ketenangan Hati Anti Galau, Bisakah?

1.1 Kuatkan Niat

Niat merupakan pekerjaan hati. Ia ada dan bisa menjadi sebab terjadinya segala meskipun sekilas semuanya tampak mustahil. Begitu pula dengan niat untuk haji dan umroh. Tidak harus dimulai dengan adanya materi, tetapi niatkan dalam hati bahwa kita pasti akan bisa ke tanah suci.

Hal pertama yang kita harus hindari adalah menanamkan kata-kata negatif dan apatis dalam hati. Contohnya, jangankan untuk haji dan umroh, makan dan minum sehari-hari juga susah. Janganlah jadi makhluk lemah. Kita harus yakin bahwa tidak ada yang susah bagi Allah. Kun fayakun.

Kita pasti menyadari bahwa di sekitar kita ada orang-orang kaya yang belum mau berhaji atau umroh. Salah satu alasannya adalah mereka takut akan mendapatkan azab. Mereka bilang: “Saya kan banyak dosa, nanti dihukum di tanah suci.” Jangan takut akan hal seperti itu. Luruskan niat bahwa kita pergi ke baitullah semata-mata untuk beribadah.

Related:

Kualitas Hubungan dengan Pasangan, Pentingkah?

Melembutkan Hati yang Keras, Gimana Caranya?

Kalam Illahi Hadirkan Kebahagiaan yang Hakiki

Masuk Surga Sekeluarga, Mungkinkah?

Membangun Interaksi Mendidik AUD, Bagaimanakah?

1.2 Maksimalkan Ikhtiar

Perjalanan Suci ke Tanah Suci

Setelah memantapkan niat, kita pun harus memaksimalkan ikhtiar karena niat tanpa tindakan itu hanyalah angan-angan. Kita harus berusaha sekuat mungkin agar apa yang kita niatkan bisa terwujud.

Ada beberapa hal yang bisa kita usahakan untuk menyempurnakan ikhtiar, dengan:

  • Memperbanyak istighfar
  • Memperbaiki ibadah dan akhlak
  • Istiqamah dan sabar menabung

Related:

Menutup Aurat dengan Sempurna, Harus Menunggu Siapkah?

Muslimah Mengaji Pribadi Teruji

Futur Menghancurkan Future

Perintah Salat Saat Isra Mi’raj

Mengelola Keuangan Keluarga dalam Islam

1.3 Sempurnakan Doa dan Tawakal

Setelah niat kuat dan ikhtiar maksimal, pada akhirnya kita hanya perlu berserah diri pada ketetapan Allah. Jangan pernah putus berdoa sembari terus berusaha. Seperti doa yang tertulis dalam surat Al-Baqarah ayat 128.

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.

Related:

Menciptakan Surga dalam Keluarga di Bulan Ramadan

Peran Orang Tua dalam Mendidik Generasi Qur’ani

Permasalahan Orang Tua dalam Pengasuhan Anak

2. Penutup Kajian Memantaskan Diri Menjadi Tamu Allah

Alhamdulillah kajian kali ini berjalan lancar. Dengan berakhirnya acara ini, maka berakhir pula rangkaian kajian selama satu tahun ajaran di sekolah si Cikal. Banyak manfaat, insight, dan hal positif yang saya dapat selama ini.

Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian keluarga besar POMG. Namun, ada sedikit rasa sedih karena ini merupakan kajian terakhir. Semoga di masa mendatang saya bisa punya kesempatan serupa.

Untuk semua pihak yang terlibat dalam terselenggaranya kegiatan ini, semoga Allah limpahkan keberkahan dan apa yang telah dilakukan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun kita telah tiada.

Kajian memantaskan diri menjadi tamu Allah yang menampilkan Ustaz Arif Rahman sebagai narasumber ini memberikan saya insight bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kita mempunyai niat kuat dan melakukan ikhtiar semaksimal mungkin. Keinginan berhaji dan berumroh juga mengajarkan kita untuk bertawakal kala usaha telah sampai pada batasnya dan doa terus dipanjatkan.