Muslimah Mengaji Pribadi Teruji

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Playmates. Salam sehat untuk semua, ya. Hari Jumat selalu menjadi hari yang ditunggu-tunggu. It’s time to kajian rutin. Tema kali ini sangat menarik, muslimah mengaji pribadi teruji.

Judul kajiannya mengandung kata muslimah, tentunya pematerinya lebih afdol jika muslimah juga. Bu Masnun Maesaroh yang menjadi narasumbernya. Beliau sempat mengajar saya saat tsanawiyyah dulu. Beliau adalah pengampu mata pelajaran Bahasa Arab.

Seperti biasa, setelah mengantar si Cikal sekolah, saya duduk sebentar di depan kelasnya. Sambil menunggu mama-mama lain yang biasa ikut kajian. Jadwal kajian itu 30 menit setelah si cikal mulai belajar, jadi saya memutuskan untuk tidak langsung ke aula tempat kajian berlangsung.

Tepat pukul delapan pagi, saya dan yang lain berjalan ke arah samping kelas. Terus ke belakang hingga meja penerima tamu di depan aula terlihat. Saya mengisi daftar hadir, lalu memilih tempat duduk di area tengah ruangan.

Related:
Label Baru di Blogku

Keutamaan Ilmu, Cari Tahu, Yuk! 

Jenis-jenis Watak Anak, Kenali, Yuk! 

Pengalaman Berkesan Saat Mengikuti Kajian Bersama Ibu Wakil Bupati Garut

Pendidikan Tauhid Kepada Anak, Sepenting Apakah? 

1. Pengertian Muslimah

Muslimah mengaji pribadi teruji

Muslimah mempunyai arti wanita yang beragama Islam. Islam sendiri secara bahasa artinya adalah penyerahan diri. Penyerahan diri bisa berarti tunduk dan patuh pada semua ketetapan Allah, termasuk segala perintah dan larangannya.

“Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat di atas adalah Q.S. Al-Ankabut : 45. Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan untuk membaca Al-Qur’an. Untuk Al-Qur’an, Allah memilih kata “tilawah“, alih-alih “qiroah“, yang berarti membacanya bukan sembarang membaca. Namun, kita harus pula mempelajari makna dan tafsirnya.

Muslimah yang senantiasa mengaji akan memiliki pribadi yang tangguh dan teruji. Karena Al-Qur’an dan segala hikmahnya bisa membuat yang membacanya bukan hanya menjadi ma’ruf, tetapi juga ahsan.

Related:

Pentingnya Cinta Murni dalam Pembentukan Karakter dan Fondasi Iman pada Anak 

Menghayati Doa Nabi Ibrahim, Amalkan, Yuk! 

Wanita Perindu Surga, Kita Termasukkah? 

Rahasia Emas Bagi Pemburu Ilmu

Mendapatkan Ketenangan Hati Anti Galau

2. Kewajiban Istri

Secara garis besar ada tiga kewajiban istri dalam berumah tangga, yakni:

  • Taat kepada Suami dalam Kebaikan

Setelah wanita menikah, tanggung jawab atasnya berpindah dari sang ayah kepada suami. Sejak saat itu wanita tersebut harus mendahulukan suaminya sebelum siapa pun.

Tentunya kita pernah mendengar kisah wanita salehah yang sangat taat pada suami. Sang suami menyuruhnya untuk tinggal di rumah selama dirinya bepergian. Istri tersebut sangat taat pada suami, hingga ada kabar orang tua meninggal dia tidak meninggalkan rumah karena teringat pesan suami.

Perintah menaati suami dalam Islam tidaklah membabi buta. Seorang istri wajib taat pada suami selalu suaminya berada dalam kebaikan. Di luar itu, tidak ada kewajiban untuk taat.

  • Menjaga Harta dan Kehormatan Suami

Sebelumnya, seorang perempuan bertingkah laku hanya atas nama dirinya. Setelah menikah, ada kehormatan yang harus senantiasa dijaga. Setiap lakunya akan dikaitkan dengan suami. Begitu pula harta suami harus istri jaga sebaiknya-baiknya.

  • Mendidik Anak

Suami wajib mendidik istri dan istri wajib mendidik anak. Seperti yang kita tahu, ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak. Walaupun si anak sudah bersekolah, kewajiban mendidik utama tetap di tangan istri. Sehingga kita harus bisa menciptakan rumah menjadi tempat pendidikan yang mengajarkan kebaikan selamanya.

Muslimah yang senantiasa mengaji akan semakin tebal iman dan takwanya. Iman itu urusan hati, berarti keyakinan dalam hati yang semakin meningkat. Sedangkan, takwa merujuk pada eksekusi, yang berarti semakin banyak melakukan ibadan dan semakin jauh dari maksiat.

3. Tipe Istri dalam Al-Qur’an

Tipe istri yang disebut dalam Al-Qur'an

Al-Qur’an tidak hanya berisi perintah dan larangan dari Allah subhanahuwata’ala, melainkan memuat pula kisah-kisah masa lampau yang dengannya kita bisa mengambil hikmah dan ibroh dari peristiwa tersebut.

  • Tipe Pejuang

Istri tipe pejuang bisa kita lihat dari sosok Aisiyah, istri Firaun. Firaun merupakan seorang raja yang lalim dan bertangan besi. Betapa beratnya perjuangan Aisiyah untuk tetap berada di jalan Allah, sedangkan suaminya sendiri malah mengaku sebagai tuhan.

  • Tipe Saleha

Meskipun tidak memiliki suami, Maryam merupakan tipikal istri saleha. Beliau senantiasa menjaga kehormatan dan menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk beribadah kepada Allah subhanahuwataala.

  • Tipe Penghasut, Penebar Fitnah, dan Biang Gosip

Kita sudah tidak asing dengan tipe istri penghasut dan biang gosip. Kita mengenal sosoknya melalui surat Al-lahab. Ya, tipe ini merupakan istri Abu Lahab atau biasa disebut juga Ummu Jamil.

Abu Lahab merupakan paman Nabi Muhammad saw, tetapi dia selalu memusuhi beliau. Hal ini dipicu dari penunjukkan Abdul Mutholib pada Abu Thalib atas perwalian Nabi. Abu Lahab yang lebih kaya dari Abu Thalib tidak terima dengan keputusan sang ayah, sehingga dia menyimpan kebencian pada keluarganya sendiri.

  • Tipe Penggoda

Tipe ini sudah mahsyur, dialah Zulaikha yang berusaha menggoda Nabi Yusuf karena terpesona dengan ketampanannya. Rasa suka itu wajar, tetapi kalau sudah berubah menjadi tindakan yang menjurus pada usaha memiliki seseorang yang bukan hak kita jelaslah merupakan hal yang salah.

  • Tipe Ingkar

Mempunyai suami saleh tidak selalu menjadi jaminan menjadikan seorang istri saleha pula. Hal ini bisa kita lihat pada sosok Nabi Nuh dan Nabi Luth.

Related:

Kualitas Hubungan dengan Pasangan, Pentingkah?

Melembutkan Hati yang Keras, Gimana Caranya? 

Kalam Illahi Hadirkan Kebahagiaan yang Hakiki 

Masuk Surga Sekeluarga, Mungkinkah? 

Membangun Interaksi Mendidik AUD, Bagaimanakah?

Menutup Aurat dengan Sempurna, Harus Menunggu Siapkah?

4. Penutup

Guru Bahasa Arab saya waktu sekolah dulu, Bu Masnun, menjadi pemateri di kajian rutin di minggu kedua semester dua. Minggu sebelumnya juga guru saya, Ust. Gungun Abdul Basith. Melihat sosok mereka yang tidak berubah dari terakhir saya lihat membawa pada satu kesimpulan bahwa jika ingin awet muda, jadilah guru.

Alhamdulillah kajian kali ini semakin mengajarkan saya bahwa mengaji Al-Qur’an itu sangatlah penting. Bukan hanya membacanya, tetapi juga berusaha memahami isi dan hikmah yang ada di dalamnya.

Dengan Al-Qur’an hidup kita menjadi terarah. Semakin banyak mengaji, semakin terbuka hati dan pikiran bahwa semua sudah Allah sediakan di dalamnya segala solusi, arahan, dan petunjuk bagi manusia, termasuk kita para muslimah, muslimah mengaji pribadi teruji.

11 komentar untuk “Muslimah Mengaji Pribadi Teruji”

  1. Pingback: Perintah Salat Saat Isra Mi'raj - Monica Rasmona

  2. Pingback: Peran Orang Tua dalam Mendidik Generasi Qur'ani - Monica Rasmona

  3. Pingback: Permasalahan Orang Tua dalam Pengasuhan Anak - Monica Rasmona

  4. Pingback: Memantaskan Diri Menjadi Tamu Allah - Monica Rasmona

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top