Review Dilan ITB 1997: Cerita Lama, Sudut Pandang Baru

Meet and Greet Dilan ITB 1997 di Bioskop Kesayanganmu

Pengumuman tersebut memenuhi beranda media sosial saya. Ariel Noah dan Niken Anjani menyambangi bioskop di beberapa kota. Meski mereka tidak mampir ke Garut, saya tetap bersemangat untuk menulis review Dilan ITB 1997.

Dilan ITB 1997 merupakan kisah Dilan yang saya tonton sebelum membaca novelnya. Beberapa waktu lalu saya sempat ke Gramedia, tetapi tidak melihat karya Pidi Baiq tersebut.

Saya tidak berupaya keras mencarinya karena telanjur tertarik untuk menonton filmnya. Maklum emak-emak ini sudah mantau Ariel dari 2002 saat ia dan Peterpan mengeluarkan album kompilasi yang bertajuk Kisah 2002 malam.

Bersama sembilan band Musica Studios lainnya, Peterpan merilis album barengan dengan masing-masing menyumbang satu lagu. Kalian tahu lagu Peterpan yang ada di album tersebut, Playmates? Nge-hits pokoknya, dulu sampai viral dinyanyikan para pengamen.

Meski banyak yang mencibir Ariel terlalu tua untuk memerankan Dilan, saya tetap super excited menantikan penayangannya di bioskop. Malah untuk yang satu ini, saya merasa tidak wajib untuk membaca novelnya terlebih dahulu.

Film ini tayang perdana pada tanggal 30 April 2026. Tadinya saya dan kawan-kawan berencana menonton tanggal 1 Mei. Namun, karena ada kendala jadi kami undur ke tanggal 4 Mei.

Sekarang film perdana Ariel sebagai pemeran utama itu masih tayang. Bagi yang belum nonton, saya persembahkan review Dilan ITB 1997 dari sudut pandang pencinta Dilan sekaligus Ariel.

Review Dilan ITB 1997

Setiap video meet and greet Dilan ITB, saya kerap memperhatikan ekspresi Ariel. Ia tetap ramah seperti biasanya dan tidak kelihatan kecewa. Yang kecewa justru saya karena sudah dua minggu tayang jumlah penontonnya sekitar 500.000. Padahal setiap Ariel muncul, publik selalu mengerubungi. Sahabat Noah pada ke mana, ya?

Katanya, masyarakat sudah bosan dengan Dilan Universe, jadi hype-nya sudah turun. Kalau saya bukan bosan, tetapi lebih ke bisa menebak alur. Namun, itu tidak masalah karena beda orang tentu beda pandangan.

Dilan Universe itu terdiri dari Dilan 1990, Dilan 1991, Milea, Ancika, Dilan 1983, Dilan ITB 1997, dan Dilan Amsterdam. Meskipun memiliki banyak seri, tetapi ceritanya tidak sepenuhnya berbeda.

Dilan 1990 dan 1991 merupakan kisah dari sudut pandang Milea, sementara novel Milea merupakan sudut pandang Dilan untuk timeline yang tidak jauh berbeda. Jadi, ada bagian cerita yang sama, hanya saja dikisahkan oleh tokoh yang berlainan.

Demikian pula dengan novel Ancika (pov Ancika) serta Dilan 1997 dan Amsterdam (pov Dilan), tentu memiliki adegan yang sama. Mungkin itu pulalah yang menyebabkan sebagian orang berhenti mengikuti Dilan Universe.

Deskripsi Film

Pemeran Dilan ITB 1997

Melansir dari Wikipedia, berikut deretan aktor, pihak yang terlibat, dan hal penting yang berkenaan dengan film Dilan ITB 1997.

  • Sutradara: Fajar Bustomi, Pidi Baiq
  • Pemeran: Ariel NOAH, Niken Anjani, Raline Shah, Ira Wibowo, Tarzan, Wafda Saifan Lubis, Della Dartyan, Qibil The Changcuters, Rina Hassim, Maya Hasan, Rey Bong, Rangga Nattra, Arya Saloka, Denny Chandra, Dany Beler, Hasyakyla Utami
  • Perusahaan produksi: Falcon Pictures
  • Tanggal rilis: 30 April 2026
  • Negara: Indonesia
  • Bahasa: Indonesia, Sunda

Sinopsis Film

Setelah belajar di Kuba selama enam bulan, Dilan kembali ke tanah air. Ia melanjutkan kuliahnya di Institut Teknologi Bandung. Usianya sudah 25 tahun, tetapi masih harus berurusan dengan skripsi yang belum rampung.

Saat itu Dilan sudah bersama Ancika. Mereka serius. Namun, Milea tiba-tiba hadir. Dia sedang ada pekerjaan di Bandung dan meminta bertemu dengan cinta SMA-nya itu. Dilan menyetujui setelah memberitahukan hal ini pada Ancika.

Saat bertemu, Milea tampak seperti seseorang yang masih terjebak di masa lalu. Padahal dia sudah lebih dahulu menikah. Sementara Dilan seperti sudah bisa menempatkan segala sesuatu di tempat semestinya.

Begitu keluar dari kafe, ternyata ada segerombolan orang yang mencari masalah—mereka mengeroyok Dilan. Di sini Milea masih bereaksi seperti dulu. Dia jelas menunjukkan ketidaksukaannya melihat Dilan masih suka berkelahi. Dilan menjelaskan seperlunya kalau dia tidak tahu siapa pengeroyok itu.

Setelah kejadian itu, Dilan dan Milea sempat bertemu lagi secara tidak sengaja di sebuah mall. Mereka sedang bersama pasangan masing-masing. Dari semuanya, Milea yang tampak masih memendam rasa.

Kehadiran Milea, tidak membuat Ancika merasa terancam. Dia cukup yakin dengan perasaannya, juga perasaan Dilan. Keluarga mereka pun sudah saling mengenal baik. Terlebih, paman Ancika merupakan teman Dilan.

Bahkan, pada saat hendak melamar Ancika, Dilan meminta kakek Ancika sendiri untuk menemaninya. Setelah mendapat kepastian, barulah Dilan mengajak Bunda, Disa, dan anggota keluarga lainnya menemui keluarga Ancika.

Tahun 1997-an, Indonesia sedang dalam kondisi yang pelik, salah satu kasusnya adalah banyak mahasiswa yang diculik. Dilan dan teman-temannya turun ke jalan. Demo berakhir ricuh dan Dilan menjadi salah seorang yang diciduk polisi. Namun, berkata nama almarhum ayahnya yang seorang tentara, malam itu juga dia boleh pulang.

Setelah situasi panas mereda dengan lengsernya sang presiden, Dilan fokus pada kehidupan pribadinya. Sudah menjadi rahasia umum siapa yang menjadi pelabuhan terakhir sang Panglima Tempur, jadi tampaknya tidak perlu tebak-tebakan ataupun ditutup-tutupi lagi.

Ulasan Film

Nonton film Dilan ITB 1997

Alur cerita film ini tidak terlalu mengejutkan bagi yang sudah menonton film Ancika. Seperti adegan bertemu Milea, demo, meminta bantuan Abah untuk melamar, dan masih banyak lagi.

Perbedaannya tentu pada sudut pandang. Dulu pas nonton Ancika, saya menganggap Milea biasa saja. Namun, ternyata dari sudut pandang Dilan, Milea seperti yang masih menaruh harap.

Film ini menunjukkan Dilan sudah banyak berubah. Dia sudah dewasa, tenang, dan tidak gampang terprovokasi, sehingga hubungannya dengan Ancika pun terbilang lancar. Selain itu, meski lebih muda, Ancika pun memiliki karakter yang sama tenangnya.

Akan tetapi, di sisi lain, saat terjebak kondisi yang tak menguntungkan, Dilan tetap bersikap tegas. Seperti sikapnya pada Hana—seorang musisi wanita yang menyimpan perasaan padanya padahal ia sudah punya pasangan.

Dari awal Pidi Baiq memperkenalkan Ariel sebagai Dilan, narasi “ketuan” seolah bergema terlalu keras. Saya pun menyadari, seseorang yang berusia 44 tahun tentu tidak mudah untuk tampak seperti mahasiswa 25 tahun.

Akan tetapi, di luar hal itu, Dilan dan Ariel sangat klop dari berbagai sisi. Sekitar 1996–1998 itu, Dilan mulai menonjolkan jiwa senimannya dan itu semua bisa Ariel lakukan dengan mudah–effortless.

Dilan dan Ariel sama-sama jago menyanyi, melukis, menggambar, dan main alat musik. Terlebih, keduanya merupakan anak motor dan fasih berbahasa Sunda. Menurut saya, hal itu menjadikan perkara ketuaan bukan sesuatu yang perlu kita ributkan.

Meski demikian, Dilan tetap Dilan. Saya bisa melihat Ariel bernyanyi dengan cara yang berbeda—lebih dihentak-hentakan. Juga cara memegang gitarnya, ujungnya mengarah ke atas, menunjukkan Dilan banget.

Dari sisi promosi nama besar Ariel memberikan keuntungan. Brand-brand yang mendapuknya menjadi BA terlibat di sini. Bahkan, konten motorannya pun turut mendukung.

Yang paling penting tentu pengisian original soundtrack. Setahu saya Ariel menyanyikan lima lagu, tetapi hingga saat artikel ini tayang baru tiga judul yang telah resmi rilis. Dan, tidak mungkin pihak label Ariel tidak berperan di sini.

Penutup Review Dilan ITB 1997

Secara keseluruhan saya tetap menikmati Dilan ITB 1997 meski alurnya tidak banyak memberikan sesuatu yang baru. Melihat para tokoh-tokoh lama hadir kembali menghadirkan rindu yang bertubi-tubi. Walau kini mereka menampilkan paras berbeda dalam arti sebenarnya, rindu itu masih tetap sama.

Perbedaan sudut pandang menjadi bagian paling menarik. Adegan yang dulu memberikan kedalaman makna berbeda jika dilihat dari sisi Dilan, meski tak ada banyak kejutan. Positifnya, film ini membuka ruang untuk memahami detail kejadian dengan cara lebih dewasa.

Pada akhirnya, Dilan ITB 1997 bukan film yang mengejar gebrakan, melainkan film yang mencoba menjaga kedekatan dengan penontonnya. Dan mungkin itu pula alasan mengapa saya tetap betah duduk hingga credit title selesai—bukan semata karena ceritanya, tetapi karena ada kenangan, nostalgia, dan sedikit rasa lama yang kembali menyala di dalam kepala.

Tinggalkan komentar