Peran Orang Tua dalam Mendidik Generasi Qur’ani

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sehat untuk semua, ya, Playmates. Di antara kajian rohani yang kerap diadakan oleh POMG di sekolah si cikal, terselip beberapa kajian parenting. Salah satunya adalah kajian yang berjudul peran orang tua dalam mendidik generasi qur’ani.

Tema ini adalah lanjutan dari jenis watak anak yang merupakan tema kajian parenting di semester satu. Pematerinya tetap Ibu dr. Fenti Inayati. Di akhir Bulan Ramadan, saya mendengar kabar bahwa beliau mengalami kecelakaan.

Kabarnya beliau jatuh dari motor saat dibonceng sang suami. Saat itu bagian bawah pakaiannya tersangkut di gigi motor yang kemudian menyebabkan beliau mengalami bocor di kepala. Innalilahi. Semoga kejadian ini membuat kita semakin berhati-hati dalam berkendara, terutama bagi kaum muslimah.

Kembali ke kajian rutin, seperti biasa setelah pembukaan, seorang wali murid membaca beberapa ayat suci. Eh, kali itu lebih spesial, bukan pembacaan ayat al-qur’an melainkan murajaah. Masyaallah, sang mama membacakan tanpa melihat kitab suci.

Related:

Label Baru di Blogku

Keutamaan Ilmu, Cari Tahu, Yuk!

Jenis-jenis Watak Anak, Kenali, Yuk!

Pengalaman Berkesan Saat Mengikuti Kajian Bersama Ibu Wakil Bupati Garut

Pendidikan Tauhid Kepada Anak, Sepenting Apakah?

1. Peran Orang Tua Terhadap Anak Gen-Z

Peran orang tua terhadap anak gen-z

Orang tua merupakan panutan bagi anak. Oleh karena itu, setiap orang tua seyogyanya memiliki ilmu yang nantinya akan ditransferkan ke anak.

Menuntut ilmu itu tidak mengenal batasan umur dan waktu. Semua orang harus melaksanakannya, tidak melulu mesti sekolah. Ilmu bisa didapat di mana saja.

Pentingnya ilmu tertuang dalam sebuah hadits yang berbunyi:

Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim, no. 2699)

Selain itu, ibu merupakan madrasah yang pertama dan utama, jadi sangat penting bagi orang tua untuk memiliki ilmu yang memadai dan mengikuti zaman. Dan, memberikan pendidikan pada anak memang hukumnya fardu ain bagi orang tuanya.

Mendidik anak di era digital ini tentu tidak mudah. Masifnya kemajuan teknologi informasi memberikan keuntungan dan kelemahan yang sama besar. Kita sebagai orang tua harus mampu memberikan fondasi agama yang kuat agar anak tidak mudah terbawa arus.

Berikut tantangan bagi guru dan orang tua di era digital dalam mendidik gen-z:

  • Free sex
  • Pornografi
  • Siswa pacaran
  • Siswa kecanduan
  • Bullying
  • Lonely
  • Rokok dan narkoba
  • Hilangnya adab

Related:

Pentingnya Cinta Murni dalam Pembentukan Karakter dan Fondasi Iman pada Anak

Menghayati Doa Nabi Ibrahim, Amalkan, Yuk!

Wanita Perindu Surga, Kita Termasukkah?

Rahasia Emas Bagi Pemburu Ilmu

Mendapatkan Ketenangan Hati Anti Galau, Bisakah?

1.1 Kewajiban Orang Tua

Kewajiban orang tua dalam mendidik anak tertuang dalam dalil-dalil berikut ini:

  • Q.S. At-Tahrim: 6

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

  • Q.S. Thaha: 132

Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.

1.2 Peran Orang Tua

Empat peran orang tua dalam Islam

Dalam surat At-Tahrim ayat 6 dan Thaha ayat 132, selain membahas tentang kewajiban orang tua terhadap anak, juga membahas tentang peran orang tua.

At-Tahrim ayat 6 menyebutkan orang tua sebagai pelindung anak, sedangkan Thaha ayat 132 menegaskan peran orang tua sebagai pendidik anak.

Orang tua pun mempunyai peranan sebagai penanggung jawab anak, seperti yang tertuang dalam hadits Bukhari nomor 6605,

“… Setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan isteri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka …”

Children see, children do. Anak-anak itu peniru yang baik, apalagi mereka menghabiskan banyak waktu dengan orang tua, pastinya banyak kebiasaan dan sifat orang tua yang memengaruhi anak. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua harus memberikan contoh yang baik untuk anak.

Hadits Muslim nomor 1893 menyebutkan bahwa salah satu peranan orang tua bagi anak adalah sebagai role model. Hadits itu berbunyi:

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya”

Related:

Kualitas Hubungan dengan Pasangan, Pentingkah?

Melembutkan Hati yang Keras, Gimana Caranya?

Kalam Illahi Hadirkan Kebahagiaan yang Hakiki 

Masuk Surga Sekeluarga, Mungkinkah?

Membangun Interaksi Mendidik AUD, Bagaimanakah?

2. Kedudukan Anak

Kedudukan anak menurut Al-Qur'an

Setiap pasangan menikah pasti mendambakan kehadiran buah hati, makhluk kecil menggemaskan yang menjadi penerus. Tampak membahagikan, ya, tetapi perlu diingat, dalam Al-Qur’an anak memiliki lima kedudukan, yakni:

2.1 Anak Sebagai Ujian Bagi Orang Tuanya

Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar. (Q.S. Al-Anfal: 28)

Anak dan harta merupakan ujian yang melenakan. Jikalau kita tidak bisa mengelola dan mendidiknya dengan baik sesuai tuntunan Allah, anak dan harta itu bisa menjerumuskan kita.

2.2 Anak Sebagai Perhiasan Dunia Bagi Orang Tuanya

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Q.S. Al-Kahfi: 46)

Anak merupakan sumber kebahagiaan dan kebanggaan dan itu merupakan hal yang wajar. Tentu kita bahagia mempunyai anak yang bisa menjadi dokter atau pengusaha sukses. Namun, Allah memperingatkan bahwa yang paling baik di sisi-Nya adalah amal kebaikan.

2.3 Anak Sebagai Penenang Hati Orang Tuanya

Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Furqan: 74)

Anak merupakan penenang. Dengan hanya menatap anak yang sedang terlelap atau melihat senyum polosnya, orang tua kerap merasa segala beban dan rasa lelah menguap begitu saja. Benar, nggak, Playmates?

2.4 Anak Sebagai Musuh Orang Tuanya

Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S. At-Tagabun: 14)

Contoh anak merupakan musuh bagi orang tuanya adalah Kan’an. Memiliki ayah seorang nabi tidak menjamin ketaqwaan seorang anak. Dengan kesalehan luar biasa dan umur yang panjang, Nabi Nuh tidak bisa menjadikan sang anak menjadi salah satu pengikutnya.

2.5 Anak Sebagai Amanah

Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. At-Tahrim: 6)

Allah mengamanahkan anak kepada kita, jadi kita berkewajiban menjaga, membimbing, dan mendidiknya sebaik mungkin. Kelak Allah akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang dtitipkan-Nya.

Related:

Menutup Aurat dengan Sempurna, Harus Menunggu Siapkah?

Muslimah Mengaji Pribadi Teruji

Futur Menghancurkan Future

Perintah Salat Saat Isra Mi’raj

Mengelola Keuangan Keluarga dalam Islam

3. Pengertian Generasi Qur’ani

Pengertian generasi qur'ani

Generasi qur’ani adalah sebuah generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup mereka serta meyakini akan kebenarannya. Generasi qur’ani mempunyai aqidah yang kuat, amal ibadah yang benar, bagus akhlaknya, dan tinggi peradabannya.

Selain itu, generasi qur’ani merupakan generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pengamalan (way of life), juga generasi yang menjiwai Al-Qur’an.

Semua itu berawal dari kecintaan pada Al-Qur’an dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Lutfi Fathullah membagi pembaca Al-Qur’an pada empat tingkatan:

  • Qari (Pembaca)
  • Hafiz (Penghapal)
  • Shahib (Pembaca, penghapal, pengamal)
  • Ahl/Hamalah (Keluarga Allah)

4. Peran Orang Tua Secara Konkret dalam Mendidik Generasi Qur’ani

Kita sudah tahu kewajiban dan peranan orang tua terhadap anak-anak itu apa saja. Sehingga, kita harus lebih berhati-hati menghadapi mereka.

Allah akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang dititipkan. Selain itu, cara kita mendidik mereka akan sangat berpengaruh pada keimananan dan karakternya.

Berikut beberapa tips dari Bu Fenti agar anak menjadi generasi qur’ani:

  • Memperkenalkan Al-Qur’an kepada buah hati sejak dini, bahkan sejak dalam kandungan
  • Membiasakan anak-anak untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an setiap hari
  • Orang tua menjadi teladan bagi anak
  • Memberikan reward atas prestasi anak
  • Bangun dakwah di dalam rumah.
  • Membuat jadwal untuk menghapal dan murajaah Al-qur’an
  • Kajian
  • Menyekolahkan ke pesantren tahfiz
  • Berdoa

Related:

Menciptakan Surga dalam Keluarga di Bulan Ramadan

4. Penutup Kajian Peran Orang Tua

Alhamdulillah kajian rutin mingguan berjalan dengan lancar. Waktu dua jam berlalu tanpa terasa karena Bu Fenti memberikan banyak ilmu dan insight baru. Saya merasa beruntung sebab bisa mendapat banyak pengetahuan hanya dengan duduk manis.

Setelah saya mengetahui kewajiban dan peran orang tua terhadap anak, saya semakin merasa mempunyai banyak hutang pengasuhan atas mereka. Dengan mengetahuinya, saya jadi semakin semangat untuk terus mencari ilmu, baik agama maupun parenting.

Saya sadar sangat sulit memelihara semangat ini kedepannya karena banyak rintangan menuju kebaikan. Oleh karena itu, kita butuh support system agar bisa saling mengingatkan satu sama lain.

Perihal parenting, support system utama adalah pasangan karena bersama dialah kita bekerja sama mengasuh dan mendidik anak. Oleh karena itu, kita harus sering ngobrol agar visi keluarga menjadi jelas.

Tips mendidik generasi qur’ani dari Bu Fenti akan sulit terealisasi kalau kita dengan pasangan belum mempunyai kesepakatan bersama akan hal itu. Maka dari itu, samakan dahulu persepsi agar lebih mudah menjalankannya.

Dengan hubungan yang solid, kita akan lebih optimal dalam melaksanakan kewajiban dan peran orang tua. Sehingga kita bisa lebih siap saat nanti mempertanggungjawabkan di hadapan Sang Pemilik segala.