Ayah Andrea Hirata: Ketika Ayah Tak Harus Sedarah

“Ke depannya kami menyarankan untuk memindahkan gerbong wanita dari depan dan belakang ke tengah.”

Tak ayal pernyataan seorang mentri itu memicu gelombang reaksi. Di media sosial para lelaki memenuhi kolom komentar di konten-konten terkait pemberitaan tersebut. Saya tiba-tiba teringat pada novel Ayah Andrea Hirata.

Tanpa mengurangi rasa empati pada keenam belas wanita tangguh yang menjadi korban kecelakaan kereta beberapa waktu lalu, tanggapan yang seolah menjadikan laki-laki sebagai tumbal itu memang menggelitik.

Saya coba memahami, mungkin pada saat itu sang mentri hanya fokus pada satu hal. Dampaknya, beliau abai bahwa di dunia ini setiap orang merupakan pemeran utama di hidupnya masing-masing. Tak peduli berjenis kelamin apa.

“Laki perempuan sama saja, tak boleh jadi korban.”

Beruntung tidak lama kemudian seorang mentri yang lain angkat bicara dan membuat para lelaki lega karena tidak dijadikan tumbal kereta. Dari awal, reaksi warganet terkait hal ini memang bernuansa candaan.

Perempuan memang istimewa karena menjalani peranan sebagai ibu. Namun, lelaki pun tak kalah berharga dengan statusnya sebagai ayah. Jika seorang ayah tiba-tiba tiada pun karena insiden yang serupa, tetap banyak yang terluka karena kehilangannya.

Hal ini membawa ingatan saya pada beberapa novel bertema ayah, di antaranya sebuah karya Andrea Hirata. Penulis asal Belitong ini mengangkat kisah tentang kasih sayang tanpa ikatan darah.

Kalian sudah membaca Ayah Andrea Hirata, Playmates? Memang bukan tentang Laskar Pelangi, tetapi setting tempatnya masih di Belitong, jadi bagi pencinta novel laris tersebut semuanya terasa familier.

Ayah Andrea Hirata

Tadinya saya berniat untuk membaca ulang novel ini. Terkadang, tidak cukup membaca satu kali bagi kita untuk memahami sebuah kisah secara menyeluruh. Saya hendak mencari sebuah insight baru dari bacaan lama.

Akan tetapi, sampai halaman terakhir, saya sama sekali tidak ingat bagaimana alur ceritanya. Ini rasanya jadi membaca buku lama yang memberikan sensasi baru. Kejadian ini membuat saya makin yakin untuk membaca ulang semua novel yang ada di rumah, lalu menuliskan ulasan untuk merawat ingatan.

Seperti kebanyakan novel Pak Cik lainnya, Ayah Andrea Hirata pun tidak menampilkan blurb di sampul belakangnya. Sebagai gantinya, di bagian itu penuh dengan testimoni dan apresiasi para tokoh dan media untuk karya-karya penulis tersebut.

Meski tidak dapat mengintip isi novel dari ringkasan cerita di sampul, hampir bisa dipastikan kita tidak akan merasa kecewa setelah membacanya. Tidak percaya? Jangan dulu percaya, ya, sebelum kalian membaca sinopsis dan ulasannya berikut ini.

Identitas Novel

Novel tentang ayah

  • Judul: Ayah
  • Penulis: Andrea Hirata
  • Tebal: xx+412 hlm.; 20,5 cm.
  • Penerbit: PT Bentang Pustaka
  • Cetakan Ketujuh, September 2015
  • ISBN 978-602-291-102-9

Sinopsis Novel Ayah Andrea Hirata

Sabari, seorang pria lugu dan berhati luas jatuh cinta pada Marlena sejak pertemuan pertama mereka. Ujian masuk SMA negeri menjadi titik awal semuanya. Marlena yang kena ancam ayahnya akan dinikahkan jika gagal pada ujian itu berhasil Sabari selamatkan.

Akan tetapi, gadis itu tak sedikit pun pernah berterima kasih. Padahal karena sontekan ujian bahasa Indonesia dari Sabari itulah yang mengatrol nilai-nilainya yang memprihatinkan, meski sebenarnya ia murid yang cerdas.

Di sisi lain, sejak ujian SMA tersebut, di mata Sabari hanya ada Marlena seorang. Di bawah pohon dekat gerbang sekolah, ia sabar menanti Lena tiba dengan sepedanya. Pemandangan beberapa detik itu cukup untuk menjadi bekal bagi Sabari untuk terus tersenyum di sisa hari.

Kedua sahabatnya, Ukun dan Tamat, sampai frustrasi melihat kelakuan Sabari. Saban hari yang ada di pikirannya hanya ada Lena. Sempat mereka mengenalkan pada gadis lain, tetapi Sabari telanjur tergila-gila pada gadis pembangkang tersebut.

Sabari tak peduli Lena tak mengacuhkannya. Ia tak berhenti menulis puisi untuk pujaannya itu. Sabari memang suka berpuisi. Sang ayah yang mengenalkannya pada dunia yang penuh kata-kata indah.

Hingga pada suatu ketika, jauh setelah mereka lulus SMA. Lena yang gemar bergonta-ganti pasangan kena batunya. Sesuatu harus dilakukan untuk menyelamatkan martabat keluarga. Demi melihat ini, Sabari rela pasang badan.

Lagi-lagi Lena tak melihat kebaikan dan ketulusan Sabari. Setelah pernikahan, ia masih menjalani hidup yang tak memedulikan aturan apa pun. Sabari-lah yang mengurus anaknya siang dan malam. Bahkan, ia mengundurkan diri dari pekerjaannya di pabrik ayah Lena, demi fokus mengurus Zorro. Untuk menopang hidup, Sabari membuka warung di rumahnya.

Sabari sangat menyayangi Zorro meski mereka tidak terikat hubungan darah. Mereka menjalani hari-hari bahagia selama tiga tahun. Hingga akhirnya Lena memisahkan. Sabari gila karena hilang arah. Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?

Ulasan Ayah Andrea Hirata

Kesimpulan novel Ayah Andrea Hirata

Salah satu hal yang membuat saya menyukai buku adalah hanya dengan duduk dan membuka halaman demi halamannya, saya bisa tahu banyak hal—tanpa melihat langsung di tempat kejadian. Begitu juga dengan pulau Belitong.

Sebelum membaca novel-novel Andrea Hirata, saya sama sekali tidak punya bayangan bagaimana kehidupan di sana. Kini, setiap karyanya terbit—siapa pun tokohnya, biasanya setting tempat tetap di Belitong—saya serasa di bawa jalan-jalan dan menyelami kehidupan di sana.

Baru-baru ini saya membaca ulang novel Ayah karya Andrea Hirata. Tokoh utamanya Sabari dan penulisannya menggunakan sudut pandang orang ketiga. Di beberapa bagian penulis sempat menulis “aku”, sehingga saya cukup yakin Andrea sedang bercerita dari sudut pandang Ikal.

Terlebih di bagian awal tertulis, “seperti yang Amiru ceritakan padaku.” Juga di bagian akhir si aku ini berseloroh bahwa dia kenal Amiru saat sedang bekerja di kantor pos. Siapa lagi kalau bukan Ikal, kan?

Tiap tulisan Andrea Hirata itu di permukaan terasa sederhana. “Hanya” menceritakan kehidupan sehari-hari orang-orang biasa di Belitong. Namun, saat kita selami, tiap kisahnya mengandung kedalaman, terutama kritik sosial. Seperti bercanda, tetapi pada hakikatnya ada yang ingin disampaikan, agar pembaca tersadarkan.

Pak Cik menceritakan tokoh secara bergantian. Ada Sabari, Amiru, Amirza, Markoni, si Bungsu, Manikam, JonPijareli, Zorro, dan masih banyak lagi. Pada awalnya, tokoh-tokoh itu seperti berdiri pada kisahnya masing-masing. Namun, makin dalam kita masuk ke dunia Ayah Andrea Hirata, makin kita sadar bahwa mereka menjalani kisah yang saling terikat dan terkait.

Yang paling menyentuh tentu kisah Sabari dan Zorro. Sabari menyayangi anak itu melebihi perasaannya pada Marlena. Saat laki-laki lugu itu tahu Lena pergi dengan laki-laki mana pun, ia tak pernah merana. Namun, saat Zorro pergi, Sabari hampir gila dan menjalani kehidupan menyedihkan di pasar.

Hubungan ayah dan anak tak melulu soal ikatan darah. Sabari dan Zorro telah terikat dalam kasih sayang yang tak pernah lelah.

Penutup

Membaca ulang tak pernah sia-sia karena banyak detail yang terlupa. Sekalipun lupa belum menyapa, kita tetap bisa melihat bacaan dari sudut yang berbeda.

Kisah ini mengajarkan bahwa dunia terkadang terasa bukan tempat yang tepat bagi yang tulus. Ada yang menjaga setulus hati, tetapi harus merelakan berkali-kali. Namun, dari sanalah pemahaman menemukan arti tentang ketulusan yang tak pernah pergi. Ia justru bertahan di tengah ketidakpastian yang ada.

Dan pada akhirnya, novel Ayah Andrea Hirata mengingatkan bahwa menjadi ayah tak harus sedarah—cukup hadir, cukup tinggal, dan cukup mencintai dengan utuh tanpa menyerah.

Tinggalkan komentar