Perintah Salat Saat Isra Mi’raj

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Playmates. Salam sehat untuk semua, ya. Di semester ini agak banyak kegiatan yang berlangsung di hari Jumat sehingga kajian rutin terpaksa ditiadakan. Alhamdulillah, Jumat kali ini kajian hadir kembali dengan tema perintah salat saat Isra Mi’raj.

Jumat pertama di semester dua, kajian belum diadakan karena hawa liburan masih terasa. Jumat kedua, ketiga, dan keempat berlangsung seperti biasa. Setelah itu, kajian libur selama dua minggu karena ada kegiatan sosialisasi SDIT untuk orang tua TK B dan kegiatan outbond.

Sebagai orang yang selalu menantikan kajian rutin, ada sedikit rasa kecewa saat kegiatan itu libur. Namun, nggak apa-apa lah, ya, outbond-nya seru banget. Anak-anak happy, orang tua pun lebih happy. Bisa healing, sedang anak-anak sama ibu guru.

Cuaca Jumat kali itu begitu kelabu. Dari awal hingga akhir kajian matahari tidak menampakkan diri. Setelah menunggu beberapa saat, sang pemateri, Ust. Fikri Rahman Hakim Al Hafidz datang dan sekilas membahas keagungan hari Jumat sebagai pembuka kajian.

Hari Jumat merupakan sayyidul ayyam, rajanya hari. Pada hari itulah Allah menciptakan Nabi Adam, menurunkan Nabi Adam Ke bumi, serta terjadinya hari kiamat. Keagungan itulah yang menjadikan Jumat sebagai hari libur di negara-negara Arab. Di lingkungan sekolah si cikal pun Jumat menjadi hari libur untuk jenjang tsanawiyah/SMP dan muallimin/SMA.

Related:

Label Baru di Blogku 

Keutamaan Ilmu, Cari Tahu, Yuk! 

Jenis-jenis Watak Anak, Kenali, Yuk!

Pengalaman Berkesan Saat Mengikuti Kajian Bersama Ibu Wakil Bupati Garut 

Pendidikan Tauhid Kepada Anak, Sepenting Apakah?

1. Keagungan Perintah Salat Saat Isra Mi’raj

Beberapa saat lalu, umat Muslim merayakan salah satu hari besar Islam, yakni Isra Mi’raj. Untuk menggali lebih banyak hikmah di balik peristiwa itu, POMG TK si sikal mengangkat tema tersebut pada kajian rutin mingguan.

Isra Mi’raj terjadi pada tahun kesepuluh kenabian dan hanya Nabi Muhammad yang mengalaminya. Dari sana saja seharusnya kita paham betapa istimewanya peristiwa itu. Pada Isra Mi’raj lah, Allah memerintahkan salat kepada Nabi Muhammad secara langsung, tanpa perantara Malaikat Jibril. Masyaallah.

Betapa agung perintah salat itu, lantas mengapa kita masih berani melalaikannya? Padahal Allah memerintahkan secara langsung. Yuk, kita tekadkan untuk perbaiki salat. Bisa kita mulai dengan bersegera menunaikannya begitu azan berkumandang.

2. Pengertian Isra Mi’raj

Sejarah Isra Mi'raj 1444 M

Istilah Isra Mi’raj terdiri dari dua kata, yaitu isra dan mi’raj. Keduanya memiliki arti yang berbeda. Kata isra berasal dari kata sara yang artinya “perjalanan malam”. Sementara itu mi’raj dalam Bahasa Arab berarti “kendaraan, alat untuk naik, ataupun tangga”. Bentuknya adalah ma’arij yang berarti “tempat-tempat naik”.

Pada saat itu Nabi Muhammad melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), salat dua rakaat, kemudian melanjutkan perjalanan menuju Sidratul Muntaha (Mi’raj). Kala itu Nabi Muhammad menunggangi kendaraan yang bernama Buraq.

Buraq berasal dari kata barqu yang berarti kilat. Seperti yang tercantum dalam surat Al-Baqarah ayat 20.

Hampir saja kilat (barqu) itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Kitab Bukhari 3207 dan Muslim 164 pun menjelaskan tentang bentuk Buraq ini.

Dibawakan kepadaku hewan tunggangan berwarna putih, lebih pendek dari bighal dan lebih tinggi dari pada keledai. Yaitu Buraq.

3. Sejarah Peristiwa Perjalanan Malam

Peristiwa Isra Mi’raj terjadi tahun hazn, yaitu tahun kesedihan. Pada tahun itu Nabi Muhammad kehilangan sang paman, Abu Thalib. Setelah itu, beliau ditinggalkan sang istri tercinta, Siti Khadijah. Isra Mi’raj ini semacam pelipur lara bagi Nabi.

Jarak dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa itu 8.041 KM. Jarak yang jauh, tetapi ditempuh hanya dalam satu malam. Abu Bakar Ash-Shidiq menjadi orang pertama yang mengimani kejadian ini.

Pasa saat Mi’raj Nabi Muhammad bertemu beberapa nabi, salah satunya Nabi Musa. Nabi Muhammad bertemu Nabi Musa setelah menerima perintah salat. Awalnya Allah memerintahkan salat 50 waktu.

Akan tetapi Nabi Musa menyarankan kepada Nabi Muhammad untuk meminta keringanan kepada Allah. Nabi Muhammad sempat bulak-balik sampai akhirnya Allah menetapkan perintah salat lima waktu dalam sehari.

Related:

Pentingnya Cinta Murni dalam Pembentukan Karakter dan Fondasi Iman pada Anak 

Menghayati Doa Nabi Ibrahim, Amalkan, Yuk!

Wanita Perindu Surga, Kita Termasukkah? 

Rahasia Emas Bagi Pemburu Ilmu

Mendapatkan Ketenangan Hati Anti Galau, Bisakah?

4. Perintah Salat

Mengapa harus Masjidil Aqsa?

Pada saat Isra Mi’raj Nabi Muhammad mendapatkan perintah salat, tetapi sebelumya yakni sewaktu di Masjid Aqsa beliau menunaikan salat dua rakaat. Loh loh gimana ini? Jangan bingung, ya, Playmates karena perintah salat telah ada sebelum Nabi Muhammad ada. Dua rakaat itu merupakan salat sesuai ajaran Nabi Ibrahim.

Sebelum Nabi Muhammad, ada beberapa nabi juga yang menerima perintah salat, yakni:

  • Nabi Ismail (Q.S. Maryam : 55)
    Dan dia menyuruh keluarganya untuk (melaksanakan) shalat dan (menunaikan) zakat, dan dia seorang yang diridhai di sisi Tuhannya.
  • Nabi Isa (Q.S. Maryam : 31)
    Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.

5. Dalil Tentang Isra Mi’raj

Dalil tentang peristiwa Isra Mi’raj tertuang dalam surat Al-Isra ayat 1, yang berbunyi:

Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat.

Ayat di atas merupakan penentangan bagi mereka yang tidak memercayai peristiwa Isra Mi’raj. Terberkahilah Abu Bakar Ash-Shidiq karena menjadi orang pertama yang memercayai peristawa tersebut.

6. Penutup Perintah Salat Saat Isra Mi’raj

Nabi Muhammad sebagai rajanya para nabi dan rasul, Allah istimewakan kedudukannya dengan menganugrahkan Isra Mi’raj. Beberapa waktu lalu kita memperingati peristiwa tersebut. Namun, alangkah baiknya bila kita tidak fokus pada perayaannya. Ada sebuah perintah agung yang harus lebih kita perhatikan.

Pada peristiwa itu Allah memerintahkan salat lima waktu pada Nabi Muhammad secara langsung, tanpa melalui Malaikat Jibril. Saat di Padang Mahsyar nanti shalatlah yang akan menjadi penolong kita.

Setelah mengetahui keagungan perintah salat saat Isra Mi’raj, lantas apa yang membuat kita masih melalaikannya? Padahal kitalah yang butuh salat ketika nanti semua yang melekat pada kita tidak ada gunanya lagi.

Related:

Kualitas Hubungan dengan Pasangan, Pentingkah? 

Melembutkan Hati yang Keras, Gimana Caranya? 

Kalam Illahi Hadirkan Kebahagiaan yang Hakiki 

Masuk Surga Sekeluarga, Mungkinkah?

Membangun Interaksi Mendidik AUD, Bagaimanakah? 

Menutup Aurat dengan Sempurna, Harus Menunggu Siapkah? 

Muslimah Mengaji Pribadi Teruji

Futur Menghancurkan Future

2 komentar untuk “Perintah Salat Saat Isra Mi’raj”

  1. Pingback: Peran Orang Tua dalam Mendidik Generasi Qur'ani - Monica Rasmona

  2. Pingback: Memantaskan Diri Menjadi Tamu Allah - Monica Rasmona

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top