Futur Menghancurkan Future

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Playmates. Salam sehat untuk semua, ya. Sudah hari jumat lagi, kajian lagi kita. Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesehatan dan meringankan langkah menuju majlis ilmu. Tema kajian minggu ini adalah futur menghancurkan future.

POMG selaku panitia kajian menawarkan tema Ketika Futur Melanda, tetapi Ust. Sidqi Munjin selaku narasumber meramunya menjadi Futur Menghancurkan Future. Kece kali, ya, judulnya.

Secara bahasa futur artinya putus. Sedang secara istilah adalah berhenti setelah adanya intensitas tinggi atau melemah setelah merasakan sesuatu yang berat. Dari pengertian tersebut dapat kita simpulkan bahwa futur itu tidak selalu merujuk pada hal yang negatif.

Futur terbagi menjadi dua, yakni thabi’i dan maradhi. Thabi’i berarti tabiat. Contoh futur ini misalnya kita terbiasa saum senin-kamis, lalu pada satu hari senin kita tidak melaksanakannya. Itu berati kita sedang futur.

Sedang maradhi adalah penyakit. Misalnya bolos sekolah, tidur di kelas, atau hanya rebahan seharian. Futur jenis inilah yang bisa menghancurkan future.

Related:

Label Baru di Blogku 

Keutamaan Ilmu, Cari Tahu, Yuk! 

Jenis-jenis Watak Anak, Kenali, Yuk! 

Pengalaman Berkesan Saat Mengikuti Kajian Bersama Ibu Wakil Bupati Garut 

1. Penyebab Futur Maradhi, Futur Menghancurkan Future

Penyebab Futur Maradhi

Kita semua pasti tidak menginginkan menjadi golongan orang-orang futur maradhi. Oleh karena itu, kita harus mencari tahu apa saja penyebabnya, sehingga kita bisa bermuhasabah diri. Berikut hal-hal yang bisa menyebabkan futur maradhi:

1.1 Hubbud Dunya

Hubbud dunya berati cinta dunia. Dunia ini erat sekali dengan hal-hal yang bersifat material. Lalu kalau hubbud dunya itu menyebabkan futur, apakah Nabi Sulaiman yang bergelimang harta itu termasuk orang yang futur?

Jawabannya tentu tidak karena cinta dunia itu tidak berbanding lurus dengan banyaknya harta yang dimiliki. Bisa saja orang yang tidak memiliki harta termasuk golongan orang yang cinta dunia karena hati dan pikirannya selalu tertuju pada dunia.

Bagaimana kita bisa tahu bahwa kita hubbud dunya atau tidak? Salah satu indikator kecintaan itu adalah merasa tenang ketika dekat dan merasa resah ketika jauh. Sekarang sudah tahu kan kita cinta dunia atau tidak?

Related:

Pendidikan Tauhid Kepada Anak, Sepenting Apakah? 

Pentingnya Cinta Murni dalam Pembentukan Karakter dan Fondasi Iman pada Anak

Menghayati Doa Nabi Ibrahim, Amalkan, Yuk! 

Wanita Perindu Surga, Kita Termasukkah? 

1.2 Menunda Salat

Salat merupakan tiang agama dan salat juga menjadi amalan yang pertama dihisab. Pantaslah jikalau Allah memberi peringatan celaka bagi orang yang melalaikan salat demi aktivitas duniawi.

Selain itu, salat juga bisa memberikan syafaat bagi kita di Padang Mahsyar. Maka merupakan suatu hal yang wajar saat Anas Bin Malik terus menerus meratapi dirinya yang pernah kesiangan Salat Subuh.

Beliau kesiangan salat pada saat penaklukkan Kustan, yang merupakan perang terberat di masa khalifah Umar Bin Khatab yang berlangsung selama dua bulan. Padahal saat itu kondisinya darurat, tetapi beliau terus menyesali pernah terlambat salat.

Yang tidak wajar itu, kita merasa baik-baik saja, padahal sering melalaikan salat demi urusan yang sia-sia. Nauzubillahi min zalik.

1.3 Mengonsumsi yang Haram

Haram di sini tidak terbatas pada zat-nya. Namun, kita juga harus memperhatikan cara memperoleh makanan yang dimakan. Kita tidak boleh menggampangkan perihal kehalalan makanan ini, apalagi jika sudah berkeluarga karena sperma yang merupakan cikal bakal seorang anak itu mengandung intisari makanan.

Tentu kita tidak ingin membentuk anak dari sesuatu yang haram. Apalagi nantinya makanan ini sangat berpengaruh pada pembentukan karakter. Selain itu, Allah tidak akan menerima salat seseorang, selama di perut orang tersebut ada sesuatu yang haram.

Apa saja yang termasuk makanan haram itu? Kita bisa menelaah Q.S. Al-Maidah 1-5 untuk mengetahuinya. Yuk, dibuka Al-Qur’annya.

1.4 Tidak Bersama Orang-orang yang Muslih

Muslih ini tidak sama dengan saleh. Orang saleh itu masih ada kemungkinan mendapat azab selama keburukannya lebih banyak. Sedang bagi orang muslih, Allah tidak akan mengazab suatu kaum selama di antara kaum itu terdapat orang yang muslih.

Lalu apa perbedaanya? Hal yang paling mencolok adalah orang saleh itu baik hanya untuk dirinya sendiri. Sedang muslih senantiasa mengajak orang lain pada kebaikan.

Related:

Rahasia Emas Bagi Pemburu Ilmu

Mendapatkan Ketenangan Hati Anti Galau, Bisakah?

Kualitas Hubungan dengan Pasangan, Pentingkah? 

Melembutkan Hati yang Keras, Gimana Caranya? 

Kalam Illahi Hadirkan Kebahagiaan yang Hakiki 

2. Penutup Kajian Futur Menghancurkan Future

Penutup kajian futur menghancurkan future

Alhamdulillah bertambah lagi ilmu setelah mengikuti kajian rutin di sekolah si cikal. Sampai saat ini belum mencoba mengajak si bungsu lagi. Tantrum tempo hari masih menyisakan kekhawatiran akan terulang kembali.

Saya bisa menyimak materi kajian dengan baik tanpa gangguan yang berarti. Kali ini narasumber membahas tentang futur. Futur itu terdiri dari dua, yakni thabi’i dan maradhi. Futur maradhi inilah yang harus kita waspadai.

Penyebab futur maradhi itu ada empat, yaitu: hubbud dunya, melalaikan salat, memakan yang haram, dan tidak berkumpul dengan orang-orang muslih. Setelah mengetahui penyebabnya semoga kita bisa menghindari futur karena futur menghancurkan future.

Related:

Masuk Surga Sekeluarga, Mungkinkah?

Membangun Interaksi Mendidik AUD, Bagaimanakah?

Menutup Aurat dengan Sempurna, Harus Menunggu Siapkah? 

Muslimah Mengaji Pribadi Teruji

2 komentar untuk “Futur Menghancurkan Future”

  1. Pingback: Memantaskan Diri Menjadi Tamu Allah - Monica Rasmona

  2. Pingback: Peran Orang Tua dalam Mendidik Generasi Qur'ani - Monica Rasmona

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top