Tema Parenting Islami: Belajar Mendidik Anak ala Rasulullah

“Itu ‘Ustaz Pohara’, ya?” tanya saya pada seorang adik kelas semasa sekolah yang kini menjadi pengurus POMG di sekolah si bungsu.

Sang adik kelas mengiyakan, lalu kami sempat ngobrol sesaat. Saat itu kami sedang berada di ruang serbaguna demi mengikuti kajian rutin. Tema parenting islami kali itu adalah Petunjuk Nabi saw. dalam mendidik anak.

“Ustadz Pohara” yang kami maksud adalah Ustaz Mohamad Ramdan yang menjadi narasumber. Beliau merupakan guru saya sewaktu tsanawiyyah—setingkat SMP. Tadinya saya agak ragu karena sudah lama tidak bertemu, berhubung beliau pindah tempat mengajar.

Perihal “Ustadz Pohara”, disebut demikian karena Ustaz Ramdan kerap mengucapkan pohara di sela kalimatnya. Dalam bahasa Sunda, pohara berarti ter…la…lu. Seringnya kata tersebut diucapkan, menjadikan itu identik dengan sang guru.

Sepengalaman saya ikut kajian semenjak si cikal hingga kini si bungsu bersekolah di TK yang terletak area Simpang Lima ini, kajian bersama Ustaz Ramdan-lah yang membuat waktu terasa cepat berlalu.

Tiba-tiba saja waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 dan acara pun berakhir. Selain pembawaan Ustaz yang menyenangkan, tema parenting islami yang diberikan pun menarik.

Tema Parenting Islami

Kajian yang bernama Samawa (saya mau bertakwa) ini kerap membawakan tema keagamaan. Mengingat sebuah lembaga pendidikan yang mengadakannya, tema parenting islami sering hadir menjadi wadah bagi orang tua untuk belajar pola pengasuhan anak.

Ini menjadi kolaborasi positif antara pihak sekolah dan orang tua untuk menghadirkan support system dan lingkungan yang baik anak. Terlebih, kini manfaatnya bisa lebih luas dirasakan karena kajiannya terbuka untuk umum.

Ustaz Ramdan memulai kajian tanpa memberikan materi berupa soft file kepada panitia. Karenanya, saya hanya mengandalkan pendengaran. Tidak ada rangkuman atau deskripsi yang terpampang di layar.

Saya menangkap intinya. Namun, ada beberapa detail yang terlewat, seperti nama ulama dan kitabnya yang menjadi referensi. Jika kalian tahu sumber dari poin-poin yang saya tuliskan nanti, feel free untuk berbagi, ya, Playmates.

Materi Parenting untuk Orangtua

Tema parenting yang menarik

Mendidik anak merupakan proses yang panjang. Ini tidak akan berhenti hanya karena anak telah lulus sekolah. Bahkan, saat anak sudah menikah pun, kewajiban itu tidak serta merta berakhir.

Karenanya, kita harus menyadari bahwa sekali gelar orang tua melekat pada kita, selamanya itu akan tetap ada. Di sinilah pentingnya kita terus belajar agar bisa mengoptimalkan pemenuhan tanggung jawab atas peranan yang kita miliki.

Kita dipanggil sebagai ayah dan ibu saat anak terlahir ke dunia. Apakah itu berarti ini menjadi titik awal mendidik anak? Jawabannya ternyata bukan. Proses mendidik anak telah kita mulai jauh sebelumnya.

Memilih Pasangan

Saat hendak memulai hidup baru, apakah tebersit dalam benak bahwa bersama pasangan inilah aku akan bekerja sama dalam mendidik anak? Kalau tidak, nggak apa-apa, ya. Kita teruskan mencari ilmunya, bukan ganti yang baru.

Meski demikian, untuk pembelajaran bagi para singlelillah, mulai sekarang sebaiknya mempertimbangkan untuk berusaha memberikan sosok ayah atau ibu yang baik untuk anak. Bukan hanya pasangan, kita sendiri pun harus terus meng-upgrade ilmu.

Mengingat kerja sama ini akan berlangsung lama, kita harus tahu poin penting apa yang mesti ada pada calon pasangan. Seperti yang sudah disebutkan dalam sebuah hadits perihal kriteria pasangan—hartanya, cantiknya, keturunannya, dan agamanya.

Dari keempatnya, agama menjadi poin paling penting. Dengan pemahaman agama yang baik, insyaallah seseorang bisa menjalankan peranannya sebagai orang tua dengan baik pula.

Masa Kehamilan

Fase berikutnya dalam mendidik anak adalah saat kehamilan. Meski masih di dalam kandungan bukan berarti proses mendidik belum bisa kita mulai. Organ janin yang pertama berfungsi adalah telinga. Maka dari itu, kita bisa mulai memperdengarkan hal-hal yang baik.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa musik klasik bagus untuk diperdengarkan pada janin. Namun, sebagai muslim tentu lebih baik jika kita memilih ayat suci Al-Quran. Selain itu, ibu hamil pun sebaiknya hanya berkata yang baik-baik.

Dewasa ini, banyak kalangan yang berpendapat bahwa dalil mengazani bayi dan jenazah yang hendak dikubur itu tidak kuat. Namun, banyak yang berpendapat justru bagus memperdengarkan hal baik di awal dan di akhir kehidupan seorang muslim. Wallahu a’lam.

Setelah kelahiran

Sesaat setelah kelahiran masih banyak yang muslim yang menyambutnya dengan azan. Selama tidak ada dalil yang melarang serta lebih banyak manfaatnya, Ustaz Ramdan berkata tidak ada salahnya melakukan itu. Setelah itu, jangan lupa membaca doa khusus untuk meminta perlindungan dari Allah SWT.

Pada hari ketujuh, sunat hukumnya untuk melakukan aqiqah yang meliputi potong rambut dan memberikan nama yang baik. Pemberian nama membutuhkan kebijaksanaan orang tua. Jangan sampai anak merasa terbebani karena namanya yang terlalu “unik”, sehingga kurang percaya diri nantinya.

Aqiqah sendiri yakni ibadah dalam bentuk menyembelih kambing sebagai rasa syukur atas kelahiran anak. Untuk anak laki-laki dua ekor kambing, sementara anak perempuan satu ekor kambing.

Cara Mendidik Anak ala Rasulullah

Kata-kata parenting islami

Selanjutnya, pada tema parenting islami kali ini, kita akan belajar cara mendidik anak ala Rasulullah. Di zaman serba digital seperti sekarang tentu tidak mudah untuk mendapatkan ilmu apa pun, termasuk parenting.

Meski di luar sana bertabur ilmu, kita harus bisa memilah mana saja yang sesuai dengan value sebagai muslim. Selama tidak ada pertentangan dengan ajaran Islam, saya terbuka dangan pengetahuan apa pun.

Akan tetapi, dalam segala hal tentu Rasulullah yang menjadi rujukan utama. Tidal terkecuali dalam bidang parenting, Rasulullah telah menjadi teladan terbaik sebagai orang tua. Mari kita simak poin apa saja yang harus kita pegang teguh sesuai ajaran Nabi Muhammad Saw.

Memerdekakan Diri dari Penjajahan Aqidah

Indonesia merupakan negara dengan jumlah umat Islam terbanyak. Namun, di antara banyaknya itu, segimana, sih, yang benar-benar menjalankan ajaran Islam secara kaffah? Ini juga menjadi alarm untuk saya.

Dalam mendidik anak, akidah harus menjadi poin penting agar mereka bisa menjalankan ajaran murni sesuai tuntunan Rasulullah. Bagaimana caranya? Tentu dengan berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Hanya dengan cara itulah, kita bisa mengetahui ajaran mana yang lurus dan ajaran mana yang sudah terkontaminasi. Seringkali, kita sendiri tidak sadar bahwa apa yang kita kira ibadah, ternyata itu merupakan kebiasaan leluhur atau pengaruh agama lain.

Memberikan Keteladanan

Selanjutnya, orang tua harus menjadi teladan yang baik bagi anak. Tidak ada artinya kita menasihati anak sepanjang waktu, sementara kita sendiri tidak melaksanakan apa yang diucapkan.

Anak merupakan peniru ulung. Mereka cenderung lebih mudah untuk meniru kebiasaan kita daripada menuruti ucapan orang tuanya. Bukan berarti nasihat itu tidak penting. Namun, nasihat itu perlu lebih dahulu melekat pada yang mengucapkan, agar tercipta rasa percaya dari yang mendengarkan.

Di sini, kita bisa merasakan vitalnya peran sang ibu. Untuk tahun-tahun pertama hidupnya, ibu merupakan dunia bagi anaknya. Karenanya, ibu bisa menularkan banyak hal bagi anak. Salah satunya cara bicara dan pemilihan kata dalam berkomunikasi. Lebih jauh, ini bisa menjadi langkah awal pembentukan karakter anak.

Menyediakan Lingkungan Terbaik

Makin bertambah usia, makin bertambah luas juga dunianya. Tidak hanya ibu dan keluarga. Akan ada saatnya, anak lebih percaya pada guru dan temannya. Karenanya, orang tua harus mengantisipasinya dengan menyediakan lingkungan terbaik.

Hal ini bisa kita implementasikan dengan memilih tempat tinggal dengan lingkungan tetangga yang kondusif. Tentu ini tidak mudah. Karenanya butuh pertimbangan cermat untuk menentukan lokasi rumah.

Selain itu, kita pun harus pintar memilih sekolah untuk anak. Jenjang pendidikan dasar turut berperan penting pada pembentukan karakter. Oleh karena itu, sebelumnya, kita harus tahu betul kapabilitas sekolah yang disasar, terutama kualitas tenaga pengajar.

Menanamkan Ketauhidan

Dalam ilmu parenting modern, katanya kita sebaiknya berkomunikasi dengan anak menggunakan kalimat positif. Misal, kita hindari ucapan “jangan lari” dan menggantinya dengan “jalannya pelan saja, ya”. Konon, anak lebih mencerna kalimat kedua.

Untuk kejadian di atas dan sejenisnya, saya pun berusaha membiasakan. Namun, ada beberapa hal yang memang lebih tepat sasaran jika kita ucapkan dalam kalimat negatif. Terlebih, ada contoh yang tertulis dalam Al-Qur’an.

Salah satu tokoh parenting Islam—Lukman Hakim—menyeru anak-anaknya untuk bertauhid kepada Allah dengan kalimat, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah.” Penanaman tauhid ini sejalan dengan apa yang sudah Rasulullah serukan sebelumnya.

Mendidik dengan Hati

Selanjutnya, Rasulullah mencontohkan untuk senantiasa mendidik anak dengan hati. Energi negatif yang kita keluarkan melalui amarah, bentakan, dan lain sebagainya hanya akan merusak mental anak. Saat seperti itu, tanpa disadari, kita sedang mentransfer karakter yang akan anak tiru.

Perlakukanlah anak-anak dengan adil agar mereka lebih mudah saling menyayangi saat kita sudah tiada. Tidak perlu membandingkan satu sama lain karena itu hanya akan meninggalkan luka batin.

Tentu kalian tahu kalau Rasulullah dekat dengan anak cucunya. Kedekatan itu tercipta karena beliau senantiasa mendidik dengan hati. Seperti pada saat cucu kembarnya menunggangi beliau ketika sujud. Rasulullah tidak marah. Justru beliau menahan diri untuk tidak lantas bangkit, hingga Hasan Husain turun sendiri.

Mendoakan Anak

Poin terakhir adalah mendoakan anak. Doa orang tua untuk anak merupakan salah satu doa yang mustajab. Kita harus memanfaatkan ini sebaik mungkin. Sebut nama anak satu per satu dalam doa. Mintalah keselamatan dan kelembutan hati.

Ada beberapa versi doa untuk anak yang sudah sering kita panjatkan. Namun, kita jangan terlalu berpuas diri. Berdoalah sebanyak mungkin. Kalau perlu dengan menggunakan redaksi kalimat sendiri.

Penutup

Pada akhirnya, pendidikan memang tidak bisa dadakan. Perlu waktu yang lama, bahkan sebelum anak ada. Kita harus senantiasa sadar bahwa ini merupakan amanah besar.

Anak bukanlah tanaman liar yang bisa tumbuh dengan sendirinya. Mereka membutuhkan bimbingan dan arahan dari orang tua, agar selamat di dunia juga kehidupan nanti.

Karenanya, orang tua harus selalu belajar dan datang ke majlis ilmu bisa menjadi salah satu jalannya. Kalian lebih tertarik datang langsung atau menyimak kajian secara online, Playmates? Tema parenting islami favorit kalian apa? Sharing di sini, yuk!

4 pemikiran pada “Tema Parenting Islami: Belajar Mendidik Anak ala Rasulullah”

  1. Jaman sekarang memang banyak sekali ilmu parenting yang bertebaran. Ini baik supaya anak juga bisa bertumbuh dengan baik. Dan bukan seperti tanaman liar yang tumbuh dengan sendirinya.

    Balas
  2. Aku sekarang suka banget kalau ada kajian tema parenting offline, lebih mengena. Tapi kajian online juga nggak kalah seru banyak banget tema yang menarik. Memang mendidik anak itu seumur hidup menurutku , jadi memang harus belajar terus.

    Balas
  3. Senang rasanya beragam ilmu tentang parenting bisa diakses dengan mudah di masa sekarang, bahkan sudah banyak majelis ilmu yang bisa didatangi orangtua untuk mendapatkan ilmu sekaligus nasihat jika mengalami kendala parenting. Semoga ini menjadi jalan bagi orangtua untuk tidak pernah berhenti belajar.

    Balas
  4. Meng-iri banget liat mba bisa tiap Minggu ikut kajian offline. Apa daya di tempat saya jauh banget buat ikut kajian. Kajian online jadi pilihan buat saya saat ini, butuh ilmu agama lebih dalam lagi, terutama ilmu dalam mendidik anak

    Balas

Tinggalkan komentar