Menjadi Orang Tua Betulan, Bukan Kebetulan

Setelah empat tahun menempuh pendidikan di universitas nomor satu di negeri ini, akhirnya adik bungsu wisuda pada 14 Februari kemarin. Lantas, apakah saya yang hampir sepuluh tahun menjadi orang tua akan wisuda juga?

Pemikiran acak seperti itu kerap menyelinap lalu menetap dalam kepala, membisikkan suara-suara yang merajalela. Padahal, menjadi orang tua tidak ada sekolahnya, bagaimana mungkin tiba-tiba wisuda.

Keganjilan itu merupakan perwujudan dari kekhawatiran atas kelayakan menjadi orang tua. Pada tahun ke berapakah saya benar-benar pantas di sebut orang tua? Perjalanan ini terasa panjang dan tak terlihat ujungnya.

Di tengan kegamangan kita butuh pegangan. Tentu bukan kebetulan pada suatu malam saya melihat flyer kajian rutin yang kerap diadakan di sekolah si bungsu. Begitu melihat judulnya saya langsung tertarik dan berencana menghadirinya.

Menjadi orang tua betulan, bukan kebetulan—judul yang powerful. Semua orang pasti ingin menjadi orang tua yang baik, tetapi sejauh mana kita mengusahakannya? Memang tidak ada sekolah bagi orang tua. Sampai kapan pun kita tidak akan pernah diwisuda. Namun, berpangku tangan tak pernah jadi solusi. Kita harus selalu bergerak untuk bisa terus meningkatkan kualitas diri.

Menjadi Orang Tua

Jumat pagi berseri tak ada awan kelabu menggelayuti. Sayang, di hari secerah itu, saya tak jadi datang ke kajian rutin mingguan. Alasannya klasik memang—kesiangan. Sudah terlalu terlambat untuk bersiap-siap. Jadi saya memilih berpaling pada ponsel dan masuk ke akun Instagram.

Beruntung, pihak panitia kajian melakukan live IG selama acara berlangsung. Sehingga saya tidak ketinggalan materi yang sudah dinanti-nantikan dari sebelumnya. Ini merupakan pengalaman pertama saya mengikuti acara tersebut secara online.

Saat saya bergabung, acara sudah masuk ke bagian inti. Sang narasumber—Ustaz Ramadhan Suryadinata—sedang menyinggung perihal takdir. Bahwasannya apa yang terjadi di dunia ini merupakan ketetapan Allah yang sudah digariskan di lauhul mahfudz. Termasuk perihal status kita sebagai orang tua.

Dalil-Dalil Terkait

Terjemahan Q.S. At-Taghabun ayat 11

Terjemahan Q.S. Al-Hadid ayat 22

Terjemahan Q.S. Ali Imran ayat 190–191

Sebagai umat Islam, kita menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, tak terkecuali perihal yang kerap kita anggap sebagai ketidaksengajaan. Ustaz Ramadhan mengutip beberapa ayat yang bisa kita jadikan pegangan bahwa semua sudah menjadi ketetapan.

  • At-Taghabun ayat 11: Ayat ini menegaskan tidak ada yang namanya kebetulan. Segala sesuatu yang terjadi sudah atas izin Allah, termasuk musibah. Musibah bisa berarti kehilangan nyawa, harta, dan berbagai kesulitan hidup. Di sinilah iman berperan karena hanya dengannya hati menjadi tenang sebagai perwujudan dari tawakal dan rida.
  • Al-Hadid ayat 22: Masih tentang musibah yang menimpa kita. Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada yang sulit bagi Allah dalam menetapkan segala yang terjadi pada hamba-Nya. Dan, yang harus menjadi catatan bagi kita, segala ketetapan itu sudah tertulis di lauhul mahfudz.
  • Ali Imran ayat 190–191: Dua ayat ini menyebutkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi yang begitu luasnya sebagai tanda bagi orang berakal. Dan, di setiap detail yang Allah ciptakan tidak ada satu biji atom pun yang sia-sia.

Dari ayat-ayat di atas, kita bisa menarik kesempulan bahwa konsep kebetulan itu tidak ada. Semua yang terjadi sudah berdasarkan ketetapan yang telah ada sangat jauh sebelum kita lahir. Begitu pula saat kita menjadi orang tua, peranan itu sudah menjadi amanah dari Allah. Jadi, sama sekali bukan kebetulan.

Dari kesadaran tersebut, langkah berikutnya yang kita ambil seyogianya sejalan dengan fungsi orang tua betulan. Tidak ada kata terlambat, kita masih punya kesempatan untuk membetulkan peran demi menjadi orang tua yang lebih baik.

Gejala Orang Tua yang Kebetulan

Sebelum memperbaiki sebuah kerusakan, alangkah baiknya kita terlebih dahulu mengidentifikasi gejalanya. Untuk mengetahui apakah kita termasuk dalam golongan orang tua yang hanya menyandang statusnya, tanpa menjalankan peranan, mari simak beberapa uraian dari Ustaz Ramadhan.

Meski hanya menyimak kajian dari rumah, saya tetap bisa mengikuti dengan baik. Suasana ceria yang terbangun pun bisa saya rasakan. Berikut tiga gejala orang tua yang kebetulan.

Tidak Membangun Komunikasi Efektif

Terjemahan Q.S An-Nisa ayat 9

Dalam Al-Qur’an sudah disebutkan bahwa kita harus meninggalkan anak-anak dalam keadaan kuat. Kuat di sini mencakup fisik, finansial, dan mental secara keseluruhan. Tentu ini tugas berat bagi orang tua dan hanya bisa dicapai saat kita menyadari fungsi dan peranan.

Bagaimana mungkin bisa mendidik anak menjadi kuat, sementara kita sendiri masih gamang dengan status sebagai orang tua. Langkah pertama yang mesti kita ambil secara tepat untuk mencapainya adalah dengan membangun komunikasi yang efektif.

Kegagalan dalam berkomunikasi biasanya menjadi pintu gerbang dari kegagalan dalam mendidik. Anak-anak yang tangki cintanya penuh, tentu akan lebih mudah untuk menyebarkan cinta pada orang-orang di sekitarnya.  Berikut beberapa ciri komunikasi efektif.

Membangun Kedekatan, Bukan Ketakutan

Saat anak-anak masih kecil, biasanya ia akan bercerita banyak. Tentu itu perkara sepele yang membuat kita jenuh menyimaknya. Namun, jika kita mau bersabar, kelak saat beranjak remaja, mereka akan tetap nyaman bercerita kepada kita.

Jadilah sumber motivasi bagi mereka, alih-alih sumber ketakutan. Sekali mereka merasa takut, komunikasi antara anak dan orang tua akan terganggu, karena anak akan membatasi diri sehingga kita melewatkan banyak detail hidupnya.

Melibatkan Anak dalam Diskusi

Di fase tertentu, anak-anak memang sebaiknya tidak diberi pilihan. Segala sesuatunya lebih baik kita langsung ambilkan keputusan, misal soal makanan. Dengan demikian, diharapkan mereka tidak menjadi picky eater.

Akan tetapi, saat anak-anak sudah beranjak remaja, kita bisa mengajak mereka berdiskusi untuk urusan keluarga. Ini sejalan dengan fase tujuh tahunan ala Ali Bin Abi Thalib. Pada fase ketiga ketika anak berusia 14–21, kita sebaiknya memperlakukan mereka sebagai sahabat.

Memberikan Magic Words

Magic words meliputi kata maaf, terima kasih, tolong, dan permisi. Meskipun kita lebih tua bukan berarti kita menjatuhkan harga diri jika mengucapkan kata-kata tersebut kepada anak-anak. Justru kita harus menjadi contoh, sehingga kebiasaan tersebut menular pada mereka.

Lebih dari itu, dengan mengucapkan magic words, anak-anak akan merasa dihargai. Hal ini pun berdampak positif pada hubungan komunikasi antara anak dan orang tua yang akan makin hangat.

No Judge, No Humiliting

Kebalikannya dari magic words, kata-kata negatif yang orang tua lontarkan bisa membuat anak-anak tumbuh menjadi yang rendah diri. Ironis memang, orang tua yang seharusnya melindungi malah yang memperkenalkan pada luka batin.

Terkadang, ada orang tua yang senang bercanda dengan membawa-bawa keadaan fisik. Meskipun, niatnya untuk lucu-lucuan, dampaknya bisa lebih buruk daripada yang kita bayangkan. Baik terkait kondisi mental anak-anak, maupun hubungan komunikasi dengan mereka.

Tinggalkan komentar