ASL, please!
Kalau kalian tahu ASL itu singkatan dari Age, Sex, and Location, mungkin kita seumuran. Saya teringat ASL ketika membaca Bride Wannabe novel pernikahan karya Christina Juzwar. Saya mendapatkan buku ini dari seorang kawan lama.
Suatu hari kawan masa SMA saya memberikan dua buku dari enam buku baru yang dia punya. Keenamnya masih asing, sehingga saya meminta ia memberitahu blurb dari buku-buku tersebut. Kemudian saya memilih The Dusty Sneakers dan Bride Wannabe.
Membaca novel ini serasa memasuki sebuah portal waktu yang membawa saya kembali ke tahun 2000-an awal. Saat itu anak muda sudah mulai mengenal internet dan membuat warnet tiba-tiba menjadi tempat favorit untuk sekadar nongkrong atau mengerjakan tugas.
Sekat-sekat jarak yang mulai tersibak membuat kaula muda bersorak. Sahabat pena menjadi usang, berganti kawan dari seberang yang bisa langsung saling terhubung. Berkat koneksi internet, berkomunikasi dengan seseorang di ujung bumi tidak lagi hanya mimpi.
ASL menjadi istilah populer untuk menanyakan umur, jenis kelamin, dan lokasi saat pertama kali bertegur sapa dengan kawan baru. Kawan bisa berasal dari mana saja, baik dalam maupun luar negeri, baik sekadar kenal atau menjadi pasangan kekal.
Inilah yang menjadi benang merah dari Bride Wannabe novel pernikahan yang membawamu untuk nostalgia ke era online dating. Kalian sudah siap untuk menjelajah waktu dan kembali ke masa itu, Playmates?
Bride Wannabe Novel Pernikahan
Tadinya saya hanya mengenal istilah teenlit—sebuah penanda bahwa sebuah bacaan memiliki tema remaja. Ternyata ada juga weddinglit yang tentu berhubungan dengan kisah pernikahan. Sebelumnya, saya pernah mengulas novel yang juga mempunyai tema yang sama, yaitu Behind The Marriage karya seorang kawan literasi.
Jika novel yang lalu menceritakan drama rumah tangga yang mulai mencapai titik jenuh, kali ini kita diajak untuk menyelami perasaan seseorang yang belum kunjung menemui belahan hatinya. Let’s check this out.
Identitas Novel

- Judul: Bride Wannabe
- Penulis: Christina Juzwar
- Tebal: vi+310 hlm.; 20,5 cm.
- Penerbit: PT Bentang Pustaka
- Cetakan Pertama, September 2014
- ISBN 978-602-291-043-5
Sinopsis Bride Wannabe Novel Pernikahan
Sascha Indrawati mencoba tetap bertahan dengan pendiriannya meski dunia mulai bekerja dengan cara berbeda. Dua orang terdekatnya, Baby dan Olla, selangkah lagi menuju jenjang pernikahan hanya setelah berkenalan singkat dengan orang yang dikenal melalui online dating.
Sascha masih sulit menerima hubungan yang terjalin tanpa saling kenal di dunia nyata sebelumnya. Di matanya, dunia maya tampak seperti hutan belantara yang menyimpan sejuta misteri. Tak terjamah, tak memberi ruang untuk lengah.
Ironisnya, hubungan asmara Sascha dengan orang yang jelas-jelas bertemu secara langsung malah tidak terlihat ujungnya mau dibawa ke mana. Ia menghabiskan delapan tahun hidupnya dalam relasi yang lebih dari layak untuk ditangisi. Ini jelas sebuah kekalahan telak dari Baby dan Olla yang mendapatkan pasangan melalui kencan online.
Sang kekasih, Ben, padahal merupakan pria yang mapan dan tampan. Namun, pria itu tak sekalipun pernah menyinggung pernikahan. Yang menjadi prioritasnya hanya perihal pekerjaan. Entah sudah berapa kali janji temu dan panggilan telepon dari Sascha yang sudah diabaikannya. Ini menjadi endapan emosi yang bisa meledak kapan saja.
Saat batas toleransinya habis, gadis itu murka sekaligus terluka begitu dalam. Saking dalamnya, cinta delapan tahun pun tidak mampu membuatnya kembali menerima Ben. Semua usai menyusul gunungan abai.
Di tengah upaya Sascha untuk bangkit, Baby menawarkan solusi yang selama ini dibanggakannya setinggi langit—online dating. Meski ragu, akhirnya pencinta mawar dan lili itu mencoba juga. Tentu tidak langsung berhasil. Malahan gadis penyuka bunga itu terjebak dalam janji temu di waktu yang sama dengan tiga bule yang berbeda.
Sempat menutup akunnya di website online dating, ternyata tidak membuat Sascha benar-benar terlepas dari jerat pencarian jodoh di dunia maya. Hadir satu sosok yang membuatnya jatuh cinta dengan segera. Dialah Oliver, ekspatriat asal London, Inggris.
Pada mulanya semua terasa sempurna hingga hari mereka bertatap mata langsung. Oliver memperlihatkan kekurangannya yang menjadi rahasia. Akankah Sascha kali ini menemukan belahan jiwanya? Atau dia harus sekali lagi terluka?
Ulasan Bride Wannabe

Terlahir di zaman peralihan membuat saya mengalami berbagai era. Tiap irisan momennya meninggalkan kesan mendalam. Dari gundah gulana mananti balasan surat dari sahabat pena hingga gelak tawa saat terhubung dengan kerabat melalui video call, semuanya indah dengan caranya sendiri.
Meski tidak sampai terjebak online dating, tetapi berkawan dengan seseorang di dunia maya pernah saya jajaki. Sehingga saat membaca Bride Wannabe novel pernikahan ini, saya langsung merasa relate dan dekat. Selain itu, galau menghadapi usia kepala tiga dalam keadaan sedang menjalin suatu hubungan yang tak jelas ujungnya pun dirasakan oleh banyak perempuan.
Kisah di novel ini sederhana pada awalnya, berpusat pada seorang perempuan yang patah arang di dunia percintaan. Namun, di luar itu hidupnya terbilang sempurna. Sascha memiliki usaha butik yang stabil, keluarga yang utuh, serta orang-orang terdekat yang supportif.
Hingga Sascha putus dengan Ben, alurnya masih tertebak. Namun, setelah sosok Oliver muncul kejutan demi kejutan hadir memenuhi lembar yang tersisa. Secara keseluruhan saya suka novel karya Christina Juzwar yang pertama kali saya baca ini.
Novel ini seakan memberi penegasan bahwa belahan jiwa tak selamanya tentang seseorang yang telah lama mengisi hari-hari kita. Bukan pula tentang ia yang dekat karena dekat belum tentu lekat. Ini masalah hati yang dengannya jarak dan waktu tak menjadi penghalang yang berarti.
Penutup
Membaca masih menjadi rutinitas pilihan di sela padatnya aktivitas. Hanya langkah pelan memang, tetapi setidaknya satu bulan terlewati dengan satu bacaan. Bulan ini saya ditemani sebuah novel berjudul Bride Wannabe.
Fiksi bukan berarti tak berisi. Kita tetap bisa merekam jejak perjalanan di setiap halamannya, lalu memetik kebaikan yang tersemat dari kata yang terjalin penuh pikat. Bukankah hikmah bisa juga menjelma secara tersirat?
Bride Wannabe novel pernikahan kedua yang saya baca. Di dalamnya ada keyakinan akan hadirnya belahan jiwa di waktu tak terduga—dan terbaik tentunya. Kalian penikmat genre ini juga, Playmates? Share judul novel favorit itu juga di sini, ya.
Wah jadi nostalgia, “ASL, pls” nih Mbak. Chat khas di MiRC yaaa 😁😁 bagus ih novelnya. Jadi ingat juga masa-masa galau ketika hubungan nggak jelas bakal berujung ke mana. Btw aku puuun, Mbak, kerap baca fiksi untuk memberi jeda pada hidup yang sangat-sangat nonfiksi ini.
Membaca novel-novel seperti teenlit, chiclit, metropop, dan weddinglit ini memang memberi sesnsasi sendiri. Apalagi jika ada sesuatu yang melempar kita pada masa-masa pencarian cinta dan jati diri. Setelah baca ini, jadi pengen baca novel ini juga, deh.
Wah, baru tahu ada novel seperti ini, mbak. Kayaknya saya yang beda generasi, deh dengan mbak-nya, hehe. Tapi pas baca artikel ini, saya jadi yakin kalau novel ini pasti membawakan kisah asmara yang seru. Bisa deh dimasukkan ke booklist untuk dibaca.
Aku sih dulu masih mainnya yahoo messenger, sering juga pakai istilah ini. Dahlah masa-masa itu lucu banget untuk dikenang. Nah, aku sebenarnya suka baca novel genre remaja, tapi novel sekarang banyakan absurd banget kupikir. Tapi kalau lihat novel ini, sepertinya menarik kalau baca ulasannya. Jadi pengen baca juga hihi
Tadinya aku sempat bingung dengan istilah ASL, pas cek ternyata itu bahasa umum kalau untuk pengguna aplikasi dating online. Sampai tanya ke temenku yang suka pakai aplikasi dating, katanya udah jd kalimat umum. Keren nih novelnya tidak hanya bahas fenomena sosial tapi bahas juga sampai ke karakter pengguna aplikasi tersebut
Salut Teh masih rutin baca, fiksi ini menghibur dan memberikan jejak pengalaman juga bagiku, jadi akupun bisa belajar, tidak hanya belajar diksi tetapi juga pelajaran hidup dari ceritanya
Jadi inget dulu saya juga pernah menggunakan Mirc untuk komunikasi dengan teman-teman pena. Kalau diingat-ingat jadi lucu juga ya pengalaman para abg awal 2000an ini, apalagi kalau sambil baca Bride Wannabe ini, kayanya bakal ada momen senyum-senyum sendiri nya