Apa genre buku favoritmu?
Kalau ada yang menanyakan perihal itu pada saya, jawabannya pasti misteri atau thriller. Meski saya tertarik untuk membaca genre apa pun—asal alurnya menarik—tetapi cerita misteri semacam novel Pesantren Impian tetap menduduki tahta tertinggi.
Saya mulai menyukai genre ini sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Detective Conan menjadi pemegang kunci menuju dunia misteri yang menegangkan, tetapi membuat penasaran penasaran dan candu itu.
Awalnya, saya menonton animenya, kemudian lanjut versi komik. Dari sana, bacaan saya mulai merambah ke Sherlock Holmes. Dalam dunia Detective Conan, diceritakan ia sangat menggemari detektif fiktif asal London tersebut. Hal ini jelas terlihat pada nama Conan yang diambil dari nama Sir Arthur Conan Doyle—sang penulis Sherlock Holmes.
Dari sana, saya juga mulai menjajal karya Agatha Christie. Kian hari, kecintaan saya pada genre misteri kian bertambah. Belakangan, novel Dan Brown dan serial Lima Sekawan by Enid Blyton mampu mencuri hati saya.
Banyak orang yang menyalahpahami genre misteri ini sebagai horor. Padahal hal yang berbau misteri tidak selalu berhubungan dengan hantu. Justru saya pribadi kurang bisa menikmati cerita berbau mistis. Terlebih kisah yang menggabungkan horor dan religi.
Novel Pesantren Impian
Setiap bertemu bacaan misteri, adrenalin juga terpacu. Saya biasanya membutuhkan waktu agak lama untuk menamatkan sebuah buku, tetapi khusus genre ini setiap halamannya bak dipenuhi magnet yang bisa menarik saya untuk segera menyelesaikannya.
Novel misteri yang kerap saya baca kebanyakan berupa terjemahan. Namun, baru-baru ini saya menyelesaikan novel misteri asli karya penulis Indonesia: Asma Nadia. Ya, kalian tidak salah baca, Playmates, ini Asma Nadia yang sohor sebagai penulis islami.
Menurut saya ini kombinasi apik. Cerita islami yang sempat diramaikan kisah poligami, kini menawakan sesuatu yang segar. Pesantren karangan Bunda Asma menampilkan panggung misteri. Menurut kalian, bisakah Asma Nadia menulis kisah misteri sebaik tulisannya terdahulu, Playmates? Yuk, kita intip ulasan novel Pesantren Impian ini.
Identitas Buku

- Judul: Pesantren Impian
- Penulis: Asma Nadia
- Tebal: vi+324 314 hlm. ; 20 cm x 13 cm
- Penerbit: AsmaNadia Publishing House
- Cetakan kedelapan, Januari 2016
- ISBN 978-602-9055-29-0
Ulasan Novel Pesantren Impian
Dua minggu yang lalu baru saja saya dikagetkan oleh karya Asma Nadia yang berjudul Rumah Tanpa Jendela. Dari zaman sekolah, saya terbiasa mengelompokkan Bunda Asma sebagai penulis cerita islami. Namun, karya drama keluarga darinya ternyata bagus juga.
Sekarang saya kembali membaca karya adik kandung Helvy Tiana Rosa tersebut. Kali ini genre yang ia garap lebih mengejutkan: misteri. Senang rasanya mengetahui jangkauan genre cerita yang Asma Nadia kian beragam. Sebelumnya, saya sudah mengulas dua novel bertema inspirasi karya Bunda Asam—Sehidup Sesurga denganmu dan Bidadari untuk Dewa.
Meski terbiasa dengan novel misteri karya penulis luar, saya tetap antusias membaca novel Pesantren Impian. Latar dan tokohnya—yang sangat melokal—menjadikannya lebih mudah dipahami dan dibayangkan.
Pesantren sebagai panggung misteri menghadirkan banyak teka-teki. Hampir semua penghuni memiliki tabir kisahnya sendiri. Namun, yang paling membetot perhatian adalah identitas asli si Gadis dan pelaku perudapaksaan.
Bunda Asma begitu telaten menyembunyikan siapa sebenarnya si gadis—yang melakukan pembunuhan di Hotel Tiara. Pasti butuh ekstra ketelitian saat menceritakan gadis itu—karena harus menyisipkannya dalam narasi yang bercampur dengan gadis-gadis lain—tanpa meninggalkan plot hole.
Buat yang penasaran siapa si Gadis, kalian harus menamatkan buku ini, karena Bunda Asma membuka identitasnya benar-benar di halaman terakhir. Untuk tabir satunya lagi—pelaku pemerkosaan—lebih mudah ditebak, karena dari awal sang penulis hanya menyinggung tiga tersangka.
Senang rasanya saat saya berhasil menebak beberapa bagian tabir misteri. Namun, saya sempat dibuat kesal luar biasa oleh tokoh yang digambarkan paling rapuh dalam kisah ini. Bukannya saya tidak memiliki empati, tetapi tokoh tersebut terus-terusan menolak penjelasan dari seseorang. Hingga pada akhirnya, dia hampir celaka.
Secara keseluruhan saya menyukai novel yang sudah dialihwahanakan sebagai film tersebut. Asma Nadia menulis cerita misteri ini sama baiknya dengan novel-novelnya lain. Kini, saya penasaran ingin nonton versi filmnya juga.