Setiap bahaya mendekat, sosok asing tiba-tiba hadir menjaganya. Setelah tak ada lagi ancaman, sosok itu menghilang dari dalam mobil.
Sepenggal cerita di atas merupakan kisah Buya Hamka yang lebih dari satu kali Bapak ceritakan. Pengulangan itu kian meyakinkan saya bahwa Buya memang manusia istimewa.
Awalnya, saya hanya menikmati cerita yang kerap Bapak tuturkan tersebut. Saya merasa tidak perlu tahu dari mana sumbernya. Hingga kemudian beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah buku yang menceritakan Buya Hamka dari sudut pandang orang terdekatnya.
Satu bagian yang paling menarik perhatian saya adalah hal-hal gaib yang menyertai Buya. Ini kurang lebih sejalan dengan apa yang selalu Bapak ungkapkan perihal ulama bernama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah tersebut.
Gaib di sini sama sekali tidak bersifat mistis, ya. Penggalan kisah tersebut jauh dari kesan seperti itu. Di buku “hanya” diceritakan Buya yang berkomunikasi dengan jin dengan menggunakan isyarat. Dan, terdapat asumsi makhluk tersebut mengikuti ke mana pun beliau pergi. Namun, sampai halaman terakhir buku yang saya baca, tidak ada penyataan Buya yang mengonfirmasi anggapan tersebut.
Karenanya, saya bertanya pada Bapak—dari mana kisah Buya Hamka yang kerap beliau ceritakan itu bersumber. Jawabnya: Bapak baca dari Tafsir Quran Al-Azhar, yang merupakan mahakarya Buya Hamka. Ada yang sudah baca kitab tersebut, Playmates? Kalian juga menemukan kisah itu di dalamnya?
Identitas Buku
- Judul: Ayah
- Penulis: Irfan Hamka
- Pengantar: DR. Taufiq Ismail
- Tebal: xxviii+324 hal. ; 13.5×20.5 cm
- Penerbit: Republika Penerbit
- Cetakan XI, April 2016
- ISBN 978-602-8997-71-3
Ulasan Kisah Buya Hamka
Beberapa tahun lalu, saya sempat membaca buku ini. Namun, karena satu dan lain hal, saya berhenti di tengah jalan. Kemudian lambat laun kisah Buya Hamka ini terlupakan. Hingga akhirnya, saya mengikuti sebuah tantangan membaca.
Satu dari empat pekan tantangan tersebut mengharuskan peserta membaca sebuah buku yang memiliki pengaruh dalam hidup. Pengaruh di sini bersifat umum, tidak mesti sesuatu yang berdampak positif. Meski begitu, ingatan saya langsung tertuju pada sebuah buku berjudul Ayah karya Irfan Hamka ini.
Meski Buya merupakan seorang sastrawan, Irfan menulis buku ini dengan gaya santai dan sederhana. Jadi, kalian bisa menikmatinya tanpa harus mengerutkan kening. Bahkan, saya merasa editor tidak terlalu mengotak-atik tulisannya.
Buya Hamka telah berpulang lebih dari 40 tahun lalu, tetapi sosoknya tetap abadi dalam hati dan ingatan banyak orang. Selain itu, karya-karya beliau masih dibicarakan hingga kini—tak lekang oleh waktu.
Semua yang kita tahu tentangnya merupakan apa yang tampak dari luar. Karenanya, buku ini hadir untuk menggenapkan persepsi itu—menampilkan sosok ulama berdarah Minang tersebut dari sudut pandang anak kandungnya.
Jika saya—setelah menamatkan buku ini–harus menyebut sebuah kata yang bisa mendeskripsikan Buya Hamka, tidak lain itu adalah teladan. Bagi anak-anaknya, beliau merupakan teladan yang lahir di rumah.
Pemaparan Irfan Hamka kian menguatkan pandangan saya bahwa peranan ayah sebagai pemberi contoh dalam keluarga merupakan hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Meski sesekali berada di luar rumah karena harus bergerilya, Buya tidak pernah meninggalkan perannya sebagai ayah.
Buya tetap hadir, bahkan ketika yang dihadapi hanyalah perkara yang tampak sepele, seperti saat anak-anaknya dikeroyok. Di sisi lain, beliau juga memberi teladan dalam momen-momen krusial: seperti ketika bersitegang dengan Soekarno, Pramoedya Ananta Toer, dan M. Yamin. Dalam setiap peristiwa itu, Buya menunjukkan kemurnian hati yang tetap terjaga.
Penutup
Melalui sikap, kebiasaan, dan keputusan-keputusan yang diambilnya, Buya Hamka menunjukkan bahwa pendidikan anak tidak selalu hadir dalam bentuk nasihat panjang, melainkan melalui teladan yang disaksikan setiap hari. Dari rumah itulah nilai-nilai tentang kejujuran, kesederhanaan, tanggung jawab, dan kasih sayang tumbuh, lalu melekat dalam ingatan anak-anaknya hingga dewasa.
Lebih dari itu, keteladanan beliau tidak hanya menyentuh anak-anaknya. Namun, juga menyebar kepada kita sebagai masyarakat luas. Sosoknya abadi meski telah berpulah puluhan tahun lalu.
Kisah Buya Hamka bisa menjadi salah satu kisah yang orang tua tuturkan pada anak-anak. Beliau lebih dari layak untuk kita perkenalkan sebagai tokoh idola dari kalangan muslim. Kalian sudah baca buku ini, Playmates? Atau kalian memiliki rekomendasi bacaan lain yang juga mengangkat tema keteladanan?