Kalian menganggap sejarah membosankan, Playmates? Kalau begitu kalian mesti coba membaca sejarah dalam bentuk novel. Baru-baru ini saya membaca novel sejarah Islam yang terdiri dari enam buku. Sebelumnya saya sudah mengulas Ghazi 1, sekarang kita bahasĀ novel Ghazi jilid dua, yuk.
Secara keseluruhan Ghazi berkisah tentang kekhalifahan Turki Utsmani. Dalam sejarah Islam, Utsmani telah menorehkan tinta emas. Keberadaannya mencapai enam abad dan selama itu pula Islam menjadi kekuataan yang dunia segani.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Utsmani menjadi salah satu kebanggan terbesar umat Islam. Saya pikir setiap muslim harus mengetahui tokoh dan kisah yang terlibat dengannya. Bukan untuk larut dalam nostalgia, tetapi untuk menumbuhkan semangat cinta agama yang kini kadang dianggap sepele oleh dunia.
Novel Ghazi
Saya menikmati perjalanan membaca The Chronicles of Ghazi: The Rise of Ottomans. Novel Ghazi jilid pertama itu mayoritas bercerita Turki Utsmani pada masa pemerintahan Sultan Murad I dan Sultan Bayazid I. Sultan Mehmed II Al-Fatih yang disebut namanya di blurb cover belakang buku justru muncul sekilas di awal.
Pertempuran besar antara Utsmani dan Kristendom mengambil porsi besar dari alur cerita Ghazi 1. Di sela-sela membaca, saya sempatkan untuk mencari tahu kebenaran setiap detail yang novel ini ceritakan.
Saya makin antusias saat mengetahui kisah yang bersumber dari narasi Ustadz Felix ini memang akurat. Karena ini novel, tentu ada bumbu pemanis pada monolog dan dialog. Begitu selesai menamatkan Ghazi 1, saya langsung “melahap” novel Ghazi 2, The Clash of Cross and Crescent.
Deskripsi Buku

- Judul: The Chronicles of Ghazi: The Clash of Cross and Crescent
- Penulis: Sayf Muhammad Isa dan Felix Y. Siauw
- Penerbit: Alfatih Press
- Tahun Terbit: 2014
- Genre: Novel Sejarah
- Tebal: 363 halaman
Sinopsis Novel Ghazi
Setelah kekalahan memalukan pihak aliansi kristendom pada pertempuran Nicopolis, Sigismund terus berbenah. Dia menghimpun kekuatan dengan membangun sebuah ordo. Atas saran perempuan yang kemudian menjadi istrinya, Barbara Celje, dia mendirikan Ordo Naga.
Ordo tersebut memiliki misi untuk menahan laju kekuatan Turki Utsmani yang makin sulit dibendung. Selain itu, ordo tersebut mengukuhkannya juga sebagai pimpinan tertinggi dari kerajaan-kerajaan Eropa Timur.
Dalam usahanya itu, Kristendom harus menghadapi kerusakan dari dalam. Kepentingan masing-masing pihak merongrong kesolidan aliansi. Tak ada kawan abadi, yang ada hanya pemuasan ambisi pribadi.
Kesetiaan Mircea dan anak-anaknya (Alexandru dan Vlad) dari Wallachia pada Sigismund (Hungaria dan Ordo Naga) tampak tak ada artinya. Tak disangka, Sigismund, atas saran Hunyadi (tangan kanan Sigismund) dan Barbara, malah mendukung pemberontak yang ingin menggulingkan kekuasaan keluarga Mircea.
Sebelumnya memang telah lama terjadi gejolak internal di Wallachia. Banyak boyar (Bangsawan) yang tidak menyukai kepemimpinan Mircea. Usaha untuk mengudetanya pun bukan sekadar wacana.
Akan tetapi, kesempatan emas itu baru datang selepas pihak pemberontak mendapat dukungan besar dari Hungaria. Jalan makin terbuka lebar selepas mereka berhasil melenyapkan Mircea dalam penyergapan di tengah hutan.
Setelah kehilangan takhta dan hampir semua anggota keluarganya, Vlad II Dracul melakukan manuver yang tak seorang pun dapat prediksi. Keputusannya inilah yang pada akhirnya membuat takdir Mehmed II Al-Fatih dan Vlad III Dracula saling beririsan.
Ulasan Novel Ghazi

The Chronicles of Ghazi: The Clash of Cross and Crescent ini merupakan jilid kedua dari serial Ghazi. Cover-nya senada dengan seri sebelumnya, hanya saja yang ini berwarna hitam-hijau, sedangkan jilid satu bernuansa hitam-merah.
Cerita masih berpusat pada persaingan Turki Utsmani melawan Kristendom. Kekuasaan kesultanan Utsmani yang sudah beralih ke Sultan Murad II (Ayah Muhammad Al-Fatih) masih harus menghadapi Sigismund beserta antek-anteknya.
Ada sedikit detail yang saya beri catatan khusus. Di novel, selepas Sultan Bayazid I tidak lagi menjadi khalifah, lalu muncullah Sultan Murad II. Ini bisa menimbulkan sedikit kebingungan karena dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa Sultan Bayazid I merupakan kakek dari Sultan Muhammad II Al-Fatih.
Padahal dari berbagai sumber yang saya baca Sultan Al-Fatih itu merupakan cicit dari Sultan Bayazid I, bukan cucu. Jadi dari Sultan Bayazid I, takhta tidak langsung ke Sultan Murad II, melainkan lanjut ke Sultan Muhammad I terlebih dahulu.
Saya tidak tahu alasan tidak disebutkannya Sultan Muhammad I dalam novel. Namun, karena novel Ghazi ini novel sejarah yang akurat memang lebih baik tertulis seperti adanya. Tidak perlu mengambil bagian satu bab, cukup satu-dua paragraf untuk menginformasikan suksesi takhta Turki Utsmani.
Selanjutnya, pertempuran dalam novel ini tidak sepadat jilid satu yang didominasi kisah-kisah perang besar. Di sini hanya diceritakan beberapa kali penyergapan yang relatif kecil, tanpa melibatkan jumlah pasukan yang besar.
Akan tetapi, karena itulah emosi, dinamika, dan intrik dalam seri dua ini jauh lebih terasa. Apalagi pengkhianatan demi pengkhianatan menggerogoti aliansi kristendom dari dalam. Sudut pandang dari pihak ini pun mendapatkan cukup banyak porsi kemunculan, sehingga kita bisa melihat dari dua sisi.
Muhammad Al-Fatih dan Dracula hadir secara bergantian semenjak kelahirannya. Hingga kemudian mereka bertemu untuk pertama kalinya saat Vlad II (Ayah Dracula, bangsawan Wallachia) meminta bantuan pada Sultan Murad II.
Penutup
Saat menamatkan The Chronicles of Ghazi jilid dua ini, saya tidak seantusias kala menyelesaikan membaca jilid satu. Bukannya tidak seru, tetapi itu karena belum ada novel Ghazi jilid tiga di perpustakaan mini keluarga kami. Dari enam buku serial tersebut, baru dua jilid yang menghuni rak di ruang keluarga.
Secara keseluruhan, saya suka novel sejarah ini. Banyak ilmu, pengetahuan, dan insight yang saya dapat. Tentunya selain itu semua, setelah membacanya, muncul kebanggaan terhadap Islam dan para tokoh yang berjuang di jalan lurus.
Melihat kondisi Islam dewasa ini, rasanya siapa pun sulit percaya, Islam pernah berjaya dengan menguasai separuh dunia. Namun, ini bukanlah sesuatu yang mesti kita sesali. Justru dengan mengetahui sejarah Islam, kita bisa mengambil pelajaran dan menumbuhkan persatuan.
Mengapa persatuan? Karena dalam kondisi seperti itulah Islam bisa mencapai posisi terbaiknya. Kalian suka sejarah kebudayaan Islam, Playmates? Sharing di sini, yuk, materi apa yang paling kalian favoritkan?
Terima kasih sharing novelnya, Mbak. Saya pernah baca novel sejarah Islam berjudul “99 Cahaya di Langit Eropa” yang ditulis oleh Hanum Rais. Ada kisah runtuhnya Islam juga dari Dinasti Ottoman di Turki dan pergolakan melawan bangsa Romawi yang membuat saya punya impian ke Turki dan Spanyol untuk tapak tilas kejayaan Islam di negara2 tersebut. So far, baru Turki yang terwujud. Spanyol entah kapan, tapi saya terus berharap dalam doa… š¤
Saya suka belajar sejarah Islam juga apalagi dikemas dalam bentuk novel. Tidak mudah pastinya dalam menyusunnya tapi lebih mudah untuk dicerna
Ustad Felix Siauw memang fasih banget nih kalau sudah berkisah tentang kekhalifahan Turki Utsmani. Apalagi ini dikemas dalam bentuk novel pastinya lebih terasa kisah sejarahnya
Kisah Ghazi ini menarik karena menggambarkan perjalanan tokoh yang penuh konflik batin sekaligus semangat perjuangan. Membaca sinopsisnya bikin penasaran bagaimana akhirnya Ghazi menghadapi tantangan besar dalam hidupnya.