Halo, ane Fauzan. Lebih cakep daripada Fatin. Tahu Pierce Brosnan? Nah, mirip-mirip itulah. Ane sekelas sama Fatin, tapi kalo pas terima rapor, ane ukui Fatin, ehm … rada jauh di atas ane.
Perkenalan karakter tersebut terdapat dalam sebuah novel plus komik berjudul Double eF team, yang merupakan terbitan Mizan pada 2003. Dari sanalah saya mulai mengenal sosok Pierce Brosnan—salah satu pemeran James Bond. Saya tidak terlalu mengikuti perjalanan panjang agen 007 tersebut, tetapi tiap berkesempatan menonton beberapa filmnya, saya tidak pernah kecewa. Begitu pula pada Skyfall James Bond yang saya tonton pada Juli 2026 di salah satu platform nonton berbayar.
Dari semua pemeran James Bond, saya hanya sempat mengenal Roger Moore, Pierce Brosnan, dan Daniel Craig. Untuk Roger Moore, saya hanya sempat mendengar namanya dari Bapak yang kerap menyisipkan nama itu dalam obrolan. Kemudian, novel komik islami Double eF Team mengenalkan saya pada pierce Brosnan.
Belakangan baru saya menyadari, mungkin novel tersebut terbit saat hype James Bond Die Another Day yang rilis pada 2002, masih terasa kencang. Ketika itu original soundtrack-nya pun hits. Madonna yang membawakan lagu yang memiliki judul yang sama dengan filmnya tersebut. Entah beberapa tahun kemudian, saya baru bisa menonton film tersebut saat sebuah stasiun televisi swasta menayangkannya.
Ketika saya dewasa, James Bond berada pada era Daniel Craig. Meski tidak menonton film-filmnya, saya mengetahui kelima judulnya. Terlebih Skyfall James Bond. Selain filmnya, original soundtract-nya yang dibawakan Adele juga mendulang kesuksesan.
Skyfall James Bond
James Bond merupakan seorang agen mata-mata MI6—sebuah organisasi spionase milik Inggris. Ia merupakan tokoh fiksi yang berasal dari novel karya Ian Fleming. Pada perkembangannya, film-film James bond tidak selalu berdasarkan novelnya.
Pierce Brosnan yang tampan dengan rambut anti badainya meski sudah habis-habisan berkelahi, menjadi gambaran James Bond yang pertama nempel dalam ingatan. Sehingga, saat pertama melihat Bond versi Daniel Craig, saya butuh beberapa saat untuk beradaptasi. Namun akhirnya, Bond Craig menjadi Bond favorit saya.
Tadinya saya tidak berencana menonton aksi agen 007 tersebut, sehingga asal pilih saja tanpa memperhatikan urutan. Meski relatif masih bisa mengikuti, tetapi tentu lebih baik menonton Bond Craig secara berurutan. Mulai dari Casino Royale, Quantum of Solace, Skyfall, Spectre, dan terakhir No Time to Die.
Berbeda dengan Bond versi lainnya yang cenderung berdiri sendiri antar judul. Bond Craig menawarkan sesuatu yang berbeda—lima film yang memiliki perkembangan dari awal karier James Bond sebagai mata-mata.
Saya sendiri langsung lompat ke film James Bond Daniel Craig yang ketiga yakni Skyfall. Kalian sudah menontonnya, Playmates? Sepertinya kebanyakan sudah karena ini termasuk film lama. Bagi yang belum, jangan khawatir, berikut saya tulis ulasannya. Let’s chek this out.
Deskripsi Film

- Sutradara: Sam Mendes
- Produser: Michael G. Wilson, Barbara Broccoli
- Skenario: John Logan, Neal Purvis, Robert Wade
- Berdasarkan: Novel James Bond
oleh Ian Fleming - Pemeran: Daniel Craig, Javier Bardem, Ralph Fiennes, Naomie Harris, Bérénice Marlohe, Albert Finney, Judi Dench
- Distributor: Metro-Goldwyn-Mayer, Columbia Pictures
- Tanggal rilis: 23 Oktober 2012 (London)
- Durasi: 142 menit
Sumber Wikipedia
Sinopsis Skyfall James Bond
Ketika sedang melakukan pengejaran di Turki, James Bond terlibat pergumulan di atas kereta dengan Patrice—orang yang membunuh seorang rekannya, Ronson, dan mencuri hard drive berisi nama-nama agen rahasia MI6 yang menyusup ke berbagai organisasi teroris.
Di tengah situasi genting itu, M (kepala MI6) malah memerintahkan Eve Moneypenny menembak, padahal posisi Bond tidak aman. Alhasil, agen 007 itu tertembak dan jatuh ke sungai, sementara Patrice berhasil melarikan diri membawa hard drive curian.
Selama James Bond menghilang, MI6 berada di ujung tanduk. Kelayakan M sebagai kepala badan intelejen tersebut dipertanyakan, menyusul bocornya satu persatu nama agen rahasia ke publik. Hal ini berdampak langsung pada tewasnya agen-agen tersebut.
Belum lagi sistem MI6 berhasil dibobol yang mengakibatkan kebakaran hebat. Untuk sementara M dan anak buahnya mengungsi ke sebuah gadung di bawah tanah. Dalam situasi tersebut, Kementrian Luar Negeri meminta pertanggungjawaban M dan membentuk badan pengawas di bawah komando Gareth Mallory.
Sementara itu nun jauh di sana, Bond menjalani hidup urakan—alkohol dan perempuan kian membuat berantakan. Fisik dan mentalnya tidak seperti dulu lagi. Perasaan terkhianati menenggelamkan dirinya dalam kebencian dan pengasingan.
Akan tetapi, Bond memilih untuk kembali. Rasa kecewanya pada M tidak lebih besar daripada dedikasinya. Meski tidak memenuhi kualifikasi untuk bertugas lagi, M tetap mengizinkannya untuk memburu Patrice ke Shanghai.
Terjadi lagi pergumulan, tetapi kali ini terjadi di gedung tinggi ibu kota Tiongkok. Patrice terjatuh, lalu tewas. Dari barang-barangnya, Bond mendapat petunjuk bahwa jejak si dalang kekacauan—Raoul Silva—berada di sebuah kasino di Macau.
Bond sempat terlibat cinta satu malam dengan salah satu anak buah Silva, yang bernama Severine. Ia menjanjikan kebebasan pada wanita tersebut, tetapi Silva menghapus harapannya.
Bond dan Silva berhadapan. Dengan cukup mudah Bond berhasil membekuknya. Padahal, Silva memang sengaja ingin ditangkap agar dekat dengan M dan bisa menghabisinya. Ia menunggu kesempatan untuk menuntaskan dendam. Berhasilkah Silva?
Ulasan Skyfall James Bond

Raoul Silva: “Well, everybody needs a hobby.” (Yah, setiap orang perlu punya hobi.)
James Bond: “Resurrection.” (Kebangkitan dari kematian/Resurreksi.)
Percakapan di atas terjadi saat Silva menginterogasi Bond. Saya tersenyum pada bagian itu karena memang Bond sepertinya memang mempunyai hobi bangkit dari kematian. Entah berapa kali ia dianggap tewas, tetapi kemudian muncul kembali untuk mengalahkan musuh.
Judul-judul filmnya pun tidak jarang menggunakan kata die, mulai dari Live and Let Die, Tomorrow Never Dies, Die Another Day, dan No Time to Die. Sepertinya Bond memang berkawan karib dengan kematian.
Dalam Skyfall, Bond tampil tidak seprima biasanya. Setelah bangkit dari kematian, ia masih terluka, baik secara fisik dan mental. Banyak yang berpendapat Bond Craig ini memang yang paling tampak manusiawi. Ia bisa tampak berantakan selayaknya orang biasa.
Skyfall ini bukan jenis film yang bisa disambi dengan bermain ponsel atau mengerjakan pekerjaan lain. Alur ceritanya padat, sehingga kita harus benar-benar fokus. Saya sempat memencet tombol rewind pada remote control beberapa kali karena ada detail yang kurang dipahami. Terlebih, saat harus mengikuti sepak terjang Silva yang terobsesi untuk membalas dendam pada M.
Saya melihat Bond dan Silva menanggung rasa yang sama. Keduanya merupakan “kesayangan mommy” di MI6, tetapi kemudian dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar. Bedanya, Silva membenci, sementara Bond memilih untuk kembali.
Skyfall menunjukkan bahwa pengkhianatan tidak selalu melahirkan dendam. Bagi sebagian orang, ia menjadi alasan untuk membalas. Bagi yang lain, ia justru menjadi ujian untuk tetap setia pada nilai yang diyakini.