Bagi generasi 90-an, televisi pernah menjadi kawan karib pada masanya. Ia menjadi sumber utama informasi dan hiburan. Tak ada siaran ulang, sehingga setiap jadwal acara favorit tak boleh terlewat. Tak disangka, momen viral buku Broken Strings Aurelie baru-baru ini justru membawa saya kembali ke era sebelum gawai merajalela.
Di suatu sore yang tenang, saya melangkah menuju benda berbentuk tabung itu. Dengan satu kali klik, layar hitamnya seketika terang benderang. Sebuah acara infotainment sedang mengudara. Jika ingin mengetahui kabar terkini, jawaban hampir pastinya adalah televisi.
Berbeda dengan zaman sekarang, jadwal tayang kala itu terasa begitu keramat. Jika ketinggalan, tamatlah sudah. Saat bertemu teman-teman setelahnya, mereka yang tertinggal hanya bisa menjadi pendengar.
Di layar, saya melihat dua orang berdiri berdekatan. Sekilas, keduanya tampak seperti adik dan kakak, atau mungkin om dan keponakan. Namun, bahasa tubuh mereka mengatakan hal lain. Saya agak kesulitan menerima kesimpulan yang ditarik oleh pikiran saya – bahwa mereka adalah sepasang suami istri.
Tahun-tahun berlalu, nama kedua pelakon itu tak pernah benar-benar luntur dari ingatan, saking ganjilnya hubungan mereka. Ada rasa tak rela saat melihat gadis itu menjalin relasi dengan pria yang jauh lebih dewasa. Ada sesuatu yang terasa salah, meski sukar dijelaskan.
Ruang ingatan saya sempat kacau balau. Saya ingat jelas narasi dari acara infotainment yang saya tonton saat itu: mereka merupakan suami-istri. Namun belakangan, sang perempuan – yang kini telah dewasa – tak mengakui adanya ikatan pernikahan tersebut. Saya sempat mengira telah keliru mengingat. Mungkin bukan aktris itu yang muncul di layar kaca.
Hingga akhirnya, media sosial ramai memperbincangkan buku Broken Strings Aurelie yang rilis pada tanggal 10 Oktober 2025. Senar kusut di benak saya perlahan terurai, bersamaan dengan fakta yang jauh lebih menakutkan daripada sekadar mimpi buruk.
Buku Broken Strings Aurelie

Intinya kacamata. Mama udah lah. Yang waras, that’s simple.
Di kalangan pengguna media sosial, kata-kata di atas pasti terdengar familier. Terlebih setelah diedit dan dipotong, banyak warganet yang menjadikannya sebagai sound dalam konten mereka. Kalimat yang menyebalkan itu kian hari kian akrab di telinga.
Potongan kalimat tersebut berasal dari sebuah wawancara dengan seorang aktor yang mengklaim dirinya sebagai mantan suami Aurelie Moeremans. Tak lama setelah Aurelie membagikan file PDF bukunya, sosok itu muncul dengan sendirinya. Padahal, selain menyebut namanya sendiri, Aurelie menyamarkan nama tokoh-tokoh lain dalam kisahnya.
Buku Broken Strings Aurelie pun tak ayal menjadi bahan warganet untuk bertindak layaknya seorang detektif. Selain tokoh antagonis yang muncul ke permukaan atas klaimnya sendiri, karakter-karakter lain ikut ditebak-tebak siapa rujukannya di dunia nyata.
Beberapa nama terseret. Jika cukup rajin membaca kolom komentar, kita akan menemukan deretan tebakan warganet – Mulai dari Milo, Zane, Tom, hingga Kelly. Sebelum membaca buku ini, saya sudah lebih dulu menyimak berbagai tanggapan warganet. Katanya, banyak yang tak sanggup menamatkannya, lantaran begitu kejamnya sosok penjahat memperlakukan Aurelie yang saat itu masih belia.
Demi kenyamanan membaca, saya memberi sugesti pada diri sendiri bahwa ini hanyalah buku yang akan saya nikmati sebagaimana bacaan lainnya. Saya berusaha untuk tidak terlalu terpaku pada fakta bahwa kisah ini nyata. Meski demikian, di dalam buku tertulis jelas: Broken Strings adalah memoar – sebuah catatan perjalanan hidup berdasarkan ingatan sang penulis.
Deskripsi Buku
Aurelie membagikan buku PDF-nya secara gratis dengan menyematkan tautan di bio profil Instagram miliknya. Terdapat dua versi, yakni bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Ia menulis versi asli buku ini dalam bahasa Inggris. Namun, karena tingginya atensi publik, perempuan yang kini menetap di California itu kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.
Dalam proses penulisannya, Aurelie tidak menggunakan jasa editor maupun penerbit. Meski demikian, ke depannya kemungkinan sebuah penerbit akan menerbitkan versi buku fisiknya.
Untuk sebuah catatan pribadi, buku setebal 214 halaman ini – menurut saya – tersaji dengan sangat rapi, baik dari segi ejaan, diksi, maupun susunan kalimat. Ia bahkan terasa layak dibaca sebagaimana sebuah novel.
Sinopsis Buku Broken Strings Aurelie
Aurelie Moeremans merupakan gadis berdarah campuran – ayahnya orang Belgia, sementara ibunya berasal dari Indonesia. Meski menjalani kehidupan sederhana di negeri orang, sang ibu tak memiliki rencana untuk kembali menetap di tanah air. Bahkan, ia tak mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anaknya.
Hingga suatu hari, sebuah keperluan mengharuskan keluarga kecil itu berkunjung ke Indonesia. Dalam kunjungan singkat tersebut, Aurelie mengikuti anjuran sang nenek untuk mengikuti audisi modelling dan akting.
Tanpa menaruh ekspektasi apa pun, Aurelie kembali ke Belgia dengan perasaan ringan. Gadis berusia 15 tahun itu melanjutkan hari-hari seperti biasa di kota kelahirannya.
Tiba-tiba, kabar mengejutkan datang dari Indonesia. Sebuah rumah produksi tertarik pada bakat Aurelie, meski masih terkendala bahasa. Singkat cerita, ia bersama sang ibu dan adiknya kembali ke Indonesia untuk menjajal peluang tersebut. Sementara itu, sang ayah tetap tinggal di Belgia sambil menunggu perkembangan karier putrinya.
Secercah harapan pun hadir. Karier Aurelie mulai menemukan jalannya. Namun, di jalan itulah ia bertemu seseorang yang kelak membuat senar hidupnya putus terlalu dini. Dengan usia hampir dua kali lipat dari Aurelie, pria itu menawarkan rasa aman – kenyamanan yang semua gadis kerap impikan.
Perlahan, kenyamanan tersebut berubah menjadi belenggu. Tanpa disadari, sebuah tembok menjulang tinggi, memisahkan Aurelie dari orang-orang terdekatnya, termasuk sang ibu. Pria bernama Bobby itu berhasil mengaburkan batas antara benar dan salah, perlindungan dan pengekangan, bahkan cinta dan penindasan.
Aurelie yang masih belia pun terperangkap. Sekadar meminta tolong kepada sang ibu pun terasa mustahil. Ketakutan demi ketakutan tumbuh, dan justru ketakutan itulah Bobby manfaatkan untuk mengendalikan gadis yang menguasai banyak bahasa tersebut.
Meski tumbuh di Eropa, Aurelie menjunjung tinggi nilai kesucian. Namun, Bobby merenggutnya, bahkan sebelum ia mencapai usia legal. Puncaknya, pria itu memanipulasi sebuah pernikahan saat Aurelie sudah berusia 18 tahun – sebuah pernikahan yang berlangsung tanpa kehadiran orang tua sang gadis.
Ulasan Buku Broken Strings Aurelie

Setelah pernikahan yang dimanipulasi terjadi, Broken Strings bergerak ke wilayah yang jauh lebih gelap dan personal. Aurelie, yang takut akan Tuhan, memandang pernikahan sebagai sesuatu yang sakral.
Terlebih dalam keyakinannya, pernikahan hanya terjadi sekali seumur hidup. Keyakinan itulah yang membuatnya bertahan, meski setelahnya “suami” dan keluarganya memperlakukan dirinya dengan buruk.
Pada titik inilah, Broken Strings tak lagi sekadar menjadi kisah tentang karier yang dimulai di usia belia. Buku ini menjelma menjadi catatan sunyi tentang bagaimana relasi kuasa, ketakutan, dan manipulasi berkerja perlahan – mengaburkan batas antara aman dan berbahaya, cinta dan penindasan – hingga akhirnya memutus senar kehidupan seseorang, nyaris tanpa suara.
Setelah membaca buku ini, ingatan saya seolah tertata kembali. Pasangan suami istri yang dulu saya lihat di acara infotainment tempo hari memang Aurelie dan Bobby.
Perempuan yang kala itu disebut tidak mengakui sebuah pernikahan pun memang Aurelie. Kini saya memahami bahwa sebuah ikatan pernikahan bisa dinyatakan tidak sah, sehingga keduanya tidak serta-merta disebut janda atau duda setelahnya.
Satu hal yang saya soroti dari pembawaan Aurelie adalah ketenangannya, bahkan sejak masih belia. Di situasi yang paling mencekam pun, ia masih bisa tersenyum.
Ini memang menjadi kekuatannya. Namun, di sisi lain, ketenangan itu pula yang kemungkinan membuat sang ibu sulit mendeteksi kejadian nahas yang tengah menimpa anaknya.
Dari rangkaian kisah ini, kita dapat melihat dengan jelas bahwa pengaruh terbesar sering kali datang dari pikiran sendiri. Aurelie mampu melepaskan diri dari jerat Bobby tepat setelah ia menyadari keberanian yang ia miliki.
Tak ada adegan kejar-kejaran karena kuasa Bobby sejatinya hanyalah doktrin yang ia tanamkan sejak Aurelie belum mampu berpikir matang. Ketakutan yang ia sebarkan tak lebih dari pagar ilusi. Begitu Aurelie menyadarinya, Bobby pun mengerdil dengan sendirinya.
Bahkan saat Aurelie menunjukkan sedikit keberanian dan ketegasan, Bobby langsung menghilang tanpa perlawanan. Ia pergi karena tahu gadis lugu itu telah menemukan kekuatan sekaligus kepercayaan dirinya.
Penutup
Saya sempat menyimak konten seorang dokter yang tengah membaca buku Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah. Untuk menyiasati agar tidak terlalu larut dalam kepedihan masa muda Aurelie, dokter yang juga content creator tersebut membayangkan kehidupan Aurelie di masa kini.
Aurelie sekarang hidup nyaman di Amerika Serikat bersama suaminya yang berprofesi sebagai dokter. Bahkan, mereka tengah menantikan kehadiran buah hati. Gambaran ini, menurut saya, cukup membantu untuk meminimalisasi efek kejut dari detail cerita yang pada beberapa bagian terasa begitu tidak manusiawi.
Saya sendiri pun memilih tidak terlalu mengekspos apa saja yang secara rinci Aurelie alami selama berada dalam kendali Bobby. Saya sadar, tidak semua pembaca ulasan ini sedang berada dalam kondisi baik-baik saja. Cukuplah kita ketahui bahwa ia mengalami child grooming serta penderitaan fisik, mental, dan kerugian finansial.
Bagi yang merasa siap, pembaca bisa langsung mengunduh file PDF buku ini melalui tautan di akun Instagram Aurelie – selagi masih dapat kita akses secara gratis. Kita tidak tahu, jika kelak buku ini diterbitkan dalam bentuk fisik, apakah versi gratis tersebut akan tetap tersedia atau tidak.
Tak semua korban memiliki keberanian untuk bersuara seperti Aurelie. Karena itu, sudah sepatutnya kita mengambil pelajaran dari kisah ini – juga menyerap keberanian yang ia tularkan. Mengurai luka, lalu menyajikannya kepada publik, jelas bukan perkara mudah.
Dengan keberanian yang buku Broken Strings Aurelie tularkan, semoga makin banyak orang yang menemukan jalan menuju pemulihan. Bahkan, semoga kisah ini dapat menjadi penghalau agar peristiwa serupa tak lagi terulang.
Buku Broken Strings nya Aurelie ini sungguh menggemparkan dan ini adalah langkah berani yang ia ambil.
Di tengah gemuruh ragam komentar hadirnya buku ini cukuplah ini menjadi pelajaran bagi saya sendiri untuk lebih waspada dan lebih peka dengan perkembangan anak gadis agar ia tak merasakan kekurangan rasa cinta dari ayahnya sehingga ia tak perlu tertipu dengan cinta palsu yang banyak ditawarkan di luar sana