Raffi Ahmad akan beradu acting dengan Yuni Shara dalam sebuah film drama musikal berjudul Rumah Tanpa Jendela.
Sekitar tahun 2011 saat masih berkawan dengan acara-acara televisi, saya menyimak sebuah acara infotainment yang mengabarkan project terbaru dari dua nama sohor tersebut. Kala itu saya belum mengetahui bahwa Rumah Tanpa Jendela merupakan karya dari Asma Nadia.
Tujuh tahun kemudian, adik kedua saya membawa pulang sebuah buku baru. Saya agak kaget saat membaca judulnya: Rumah Tanpa Jendela Asma Nadia. Ini judulnya kok sama dengan film Raffi Ahmad dan Yuni Shara?
Saya langsung berselancar di dunia maya untuk mencari tahu. Hasilnya? Film dan novel itu memang karya yang sama. Namun, tidak seperti yang lain, justru novel Rumah Tanpa Jendela lahir setelah filmnya rilis terlebih dahulu.
Rumah Tanpa Jendela
Pada awalnya karya ini berbentuk cerita pendek berjudul Jendela Rara. Kemudian seorang sutradara—Aditya Gumay—mengontak Asma Nadia. Dia menyatakan ketertarikan untuk mengalihwahanakan cerpen tersebut ke layar lebar.
Generasi 90-an pasti familier dengan nama sutradara tersebut. Ia merupakan pimpinan sanggar Ananda yang dulu tenar dengan acara televisi Lenong Bocah, yang melambungkan banyak nama, seperti Okky Lukman, Lia Waode, Chika Waode, Noval Kurnia, Mellisa Grace, dan masih banyak yang lainnya.
Setelah film itu tayang, barulah Asma Nadia menerbitkan versi novelnya. Meski sudah terbit hampir sepuluh tahun lalu dan bukunya sudah bertengger manis di rak dari 2018, saya baru berkesempatan membacanya sekarang. Kalian sudah baca Rumah Tanpa Jendela ini belum, Playmates?
Identitas Novel
- Judul: Rumah Tanpa Jendela
- Penulis: Asma Nadia
- Tebal: vi+215 hal. ; 13.5×20.5 cm
- Penerbit: Republika Penerbit
- Cetakan Kedua, November 2017
- ISBN 978-602-0822-85-3
Sinopsis
Rara sebelumnya menganggap dirinya memiliki keluarga cemara, hingga pada suatu hari ia menyadari tidak memiliki sesuatu yang penting dalam hidup—sebuah jendela. Setelah itu, hari-harinya tak pernah terlewat tanpa menyinggung sesuatu yang bagi kebanyakan orang merupakan hal yang sederhana.
Si gadis berambut panjang itu, bersama ayah dan ibunya, tinggal di kawasan kolong jembatan. Mereka menempati sebuah rumah tripleks yang sangat sedehana–tanpa jendela. Sehari-hari, ia ngamen atau membersihkan kaca mobil di lampu merah. Kalau musim penghujan tiba, gadis kecil itu menjadi ojek payung.
Rara belum sekolah meski ia sudah sembilan tahun. Ia tidak sendiri, teman-temannya—Akbar, Rafi, Yati, dan yang lainnya—juga belum mempunyai kesempatan untuk mengenyam pendidikan.
Bagi anak-anak kolong jembatan itu sekolah merupakan sesuatu yang mewah. Di antara tumpukan sampah, kuburan Cina, dan warung remang-remang, tak ada yang menganggap anak-anak seusia mereka seharusnya mendapatkan pendidikan sebagaimana mestinya.
Dalam kerasnya hidup, Rara mempunyai sebuah dunia rahasia. Dunia tempat ia bisa menari dengan bebas tanpa memikirkan esok akan makan apa. Tak ada kecemasan, tak ada kekurangan. Yang ia lihat hanya warna-warni pelangi yang menawan hati.
Suatu hari, Rara melewati sebuah rumah dengan jendela besar. Selain membuatnya menjadi mempunyai sebuah mimpi, pemandangan itu pun setidaknya membuat ia menyadari betapa menyedihkan kehidupannya.
Makin bertambah usia, makin banyak pula yang datang di kehidupan Rara. Ada Alia—Bu Guru cantik yang mendirikan sekolah singgah di lingkungan tempat tinggal Rara. Adapula Aldo, teman sebaya kaya raya yang merupakan seorang anak spesial. Anak laki-laki itu mempunyai seorang nenek baik hati, kakak laki-laki seorang anak band, kakak perempuan modis sedikit angkuh, dan seorang ibu pengusaha berlian.
Yang tidak Rara sangka—people come and go. Di saat ia menyambut orang baru, orang-orang lama pergi dengan cara menyakitkan. Bisakah Rara berdamai dengan hal itu? Dan, apakah ia bisa punya jendela di hidupnya?