Insto Dry Eyes: Menemani Perjalanan Menuju Pertemuan yang Dinanti

Bismillah, izinkan kami memperkenalkan

Derana Nayanika Alfayra

boleh dipanggil Nanay. Harapan Bapak dan Ibu, sesuai namanya, Nanay jadi anak perempuan kuat, memiliki visi, dan pembawa keberkahan.

Sore itu sebuah pesan masuk di grup obrolan keluarga. Hanya beberapa kalimat, tetapi cukup untuk membuat grup keluarga yang biasanya sunyi mendadak ramai oleh doa, ucapan selamat, dan rencana perjalanan. Bukan perjalanan liburan, tetapi sesuatu yang lebih istimewa: perjalanan menuju pertemuan yang dinanti.

Pertengahan Juli kemarin adik kedua saya resmi menyandang peran baru sebagai ayah. Kami sekeluarga turut berbahagia, terlebih sebelumnya sang istri sempat keguguran. Keluarga besar kami kebanyakan tinggal di Garut, tetapi adik saya tinggal di Bandung. Untuk menemui keponakan baru, saya harus menempuh perjalanan kurang lebih dua jam.

Saya berangkat bersama ibu, si cikal, dan si bungsu. Pertama, kami menuju Stasiun Garut sekitar lima belas menit dengan menumpang taksi online. Perjalanan dengan anak-anak kerap membutuhkan fokus mata yang baik—pergerakan mereka seringkali terlalu cepat untuk diikuti.

Selain itu, keramaian dan pemandangan sepanjang jalan terus meminta perhatian. Belum lagi, godaan untuk mengabadikan momen dengan lensa kamera. Pun, pesan di ponsel yang terus masuk untuk berbagi lokasi terkini dengan mereka yang menantikan kami di ujung perjalanan sana.

Perjalanan Pertama Menemui Anggota Keluarga Baru

Setelah menjadi ibu, ada satu pemahaman yang perlahan mengisi relung hati saya: setiap orang begitu istimewa bagi mereka yang menyayanginya. Karena itu, setiap kali mendengar seseorang tertimpa musibah, pikiran saya selalu melayang kepada keluarganya. Betapa hancurnya hati mereka, pikir saya.

Barangkali itulah sebabnya kelahiran seorang anak hampir selalu menjadi sebuah perayaan. Kehadirannya membawa sukacita, bukan hanya bagi kedua orang tua, tetapi juga bagi keluarga besarnya.

Perasaan itulah yang menyelimuti keluarga kami ketika kabar kelahiran Nanay tiba. Setelah penantian yang cukup panjang, akhirnya kami bisa menyambut anggota keluarga baru dengan penuh syukur. Tak ingin menunda lebih lama, kami pun merencanakan perjalanan ke Bandung untuk menemuinya.

Perjalanan Menuju Pertemuan Istimewa

Anak-anak kurang suka naik bus, karenanya malam sebelum keberangkatan, saya membeli empat tiket kereta secara online. Kami mengambil jadwal siang. Meski angin terasa sejuk, sinar matahari waktu itu cukup menyilaukan. Beberapa kali saya mengucek mata karena silau, sesekali kelilipan, sementara debu dan polusi jalanan membuat mata terasa perih. Padahal kami tinggal di kota kecil, tak terbayang kondisi udara di kota-kota besar.

Sebelum dan sesudah naik kereta, kami menumpang taksi online. Ini sangat memudahkan, terutama saat harus bepergian bersama anak-anak. Di keramaian, mata saya bekerja ekstra—tak henti memantau pergerakan anak-anak. Para ibu pasti paham dengan kecepatan gerak mereka.

Saat duduk di kursi kereta, saya bisa agak santai—anak-anak duduk dengan tertib. Sesekali saya menangkap momen dengan kamera ponsel. Saat di perjalanan, tak lupa saya mengabarkan posisi kami kepada adik. Rasanya tak sabar menunggu momen ketika akhirnya bisa menggendong Nanay untuk pertama kalinya.

Ini memang bukan yang pertama, saya sudah pernah berkunjung ke rumahnya. Namun, ini perjalanan pertama menemui anggota keluarga baru—yang hari kelahirannya kami syukuri dan rayakan.

Mata yang Bekerja Tanpa Kita Sadari

Seringkali kita menghitung jam kerja mata hanya saat menatap layar gawai. Padahal, tanpa kita sadari, mata bekerja jauh lebih lama dari itu. Ia menjalankan begitu banyak tugas dalam senyap, dan seringkali baru kita sadari betapa besar peranannya ketika mulai bermasalah.

Bahkan saat di rumah, mata nyaris tak pernah benar-benar istirahat. Membaca buku, menulis artikel, menyiapkan bekal anak, membantu mereka mengerjakan tugas, hingga menatap layar ponsel—semuanya membutuhkan kerja mata yang terus-menerus. Tak jarang, kita menambah bebannya dengan pencahayaan yang kurang memadai.

Saat berada di luar ruangan, seperti ketika melakukan perjalanan ke Bandung beberapa waktu lalu, mata bekerja lebih keras. Mata harus fokus mengawasi anak-anak, memperhatikan kondisi sekitar, membaca papan petunjuk, hingga memastikan kami tidak melewatkan jadwal keberangkatan.

Di sela perjalanan, mata juga tetap menatap layar ponsel untuk memotret momen, membalas pesan, atau berbagi lokasi dengan keluarga yang menunggu di tujuan. Belum lagi debu dan polusi yang kerap membuat mata tidak nyaman. Tanpa disadari, sejak siang hingga perjalanan pulang pada malam esok harinya, mata hampir tidak memiliki jeda untuk beristirahat.

Lebih parah lagi, kita baru memahami arti pentingnya ketika masalah datang menyapa. Tiap orang berbeda kepekaan, ada yang sedikit saja merasa ada yang berbeda, langsung merespons. Tidak sedikit pula yang menunggu bereaksi hingga mata memberi sinyal bahwa ia dalam masalah besar.

Mata sering memberi tanda jauh sebelum kondisinya memburuk—mulai dari terasa sepet, perih, atau lelah. Sayangnya, keluhan-keluhan kecil itu kerap kita abaikan. Padahal, makin cepat ditangani, makin mudah puka mata kembali merasa nyaman.

Mata Kering: Jangan Abaikan Sinyal Kecil dari Mata

Tubuh hampir tidak pernah memberi peringatan secara tiba-tiba. Sebelum kondisi memburuk, ia biasanya lebih dulu mengirimkan sinyal-sinyal kecil dan meminta kita peka. Sekecil apa pun tanda yang diberikan, tidak ada salahnya untuk mulai waspada.

Pengalaman itu saya rasakan saat menempuh perjalanan ke Bandung beberapa saat lalu. Mata yang terus bekerja—ditambah paparan polusi, debu, dan terpaan angin—mulai memberi pertanda. Mata terasa sepet, perih, dan lelah. Meski tampak sepele, keluhan-keluhan itu cukup mengganggu kenyamanan selama perjalanan.

Pemandangan alam di balik jendela kereta terlewat beberapa saat karena saya memilih memejamkan mata sejenak. Begitu pula obrolan hangat bersama keluarga, yang tak bisa sepenuhnya saya nikmati.

Blue eyes clipart, cartoon character“/ CC0 1.0

Pernah mengalami salah satu keluhan berikut?

Jika ya, #MataSePeLeJanganSepelein—itu merupakan gejala mata kering. Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda, baik dari segi daya tahan tubuh, riwayat penyakit, genetik, dan lain-lain. Oleh karena itu, gejala mata kering pada tiap orang kemungkinan besar akan berbeda pula.

  • Mata merah
  • Mata terasa panas
  • Mata terasa seperti berpasir atau ada yang mengganjal
  • Mata berair karena iritasi pada mata
  • Sensitif terhadap sinar matahari
  • Penglihatan buram dan membaik setelah berkedip
  • Lendir di dalam atau sekitar mata, terutama saat bangun tidur
  • Mata terasa cepat lelah

Akan tetapi, mata SePeLe (sepet, perih, lelah) merupakan gejala yang paling sering dirasakan. Jika salah satu gejala sudah terasa, sebaiknya kita memberi jeda pada mata. Hindari dulu aktivitas yang bisa memperparah gejala tersebut, seperti: menatap layar gawai dalam waktu yang lama, membaca buku tanpa memperhatikan waktu, atau berada di lingkungan dengan kualitas udara yang kurang baik.

Ketika merasakan gejala yang membuat tidak nyaman tersebut, saya pun memilih untuk memejamkan mata sejenak di kereta. Debu, polusi, angin jalanan, dan layar gawai membuat mata saya lelah. Setelah bekerja keras, mata lebih dari layak untuk mendapatkan jeda meski sesaat.

Langkah Sederhana Menjaga Kenyamanan Mata

Selayaknya kita yang ingin dirawat ketika sakit, mata pun membutuhkan perawatan agar gejala yang timbul—meski SePeLe—bisa segera diatasi. Sebaliknya, jika kita abaikan, gejala tersebut bisa berlangsung terus-menerus. Pada akhirnya, keluhan itu pun dapat mengganggu kenyamanan dalam beraktivitas.

Masih banyak perjalanan lain yang ingin saya tempuh. Karenanya, mata harus selalu sehat agar saya tetap #BebasMataKering dan bisa menikmati tiap kebersamaan dan kegembiraan seutuhnya. Tanpa ada drama mata yang terasa SEpet, PErih, dan LElah.

Keinginan itu tentu harus dibarengi usaha agar mata tetap fit. Untuk gejala ringan, kita bisa melakukan perawatan sendiri di rumah. Melansir eyequ.com, berikut tiga langkah sederhana menjaga mata.

Memberikan Kompres Hangat

Kompres hangat dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membantu meredakan rasa tidak nyaman pada mata. Caranya, gunakan kain atau kapas bersih yang telah dibasahi dengan air hangat, kemudian peras hingga tidak terlalu basah.

Dengan mata terpejam, tempelkan kain hangat tersebut pada kelopak mata selama beberapa menit. Cara ini dapat kita lakukan secara berkala ketika mata terasa kurang nyaman.

Memberikan Waktu Istirahat untuk Mata

Aktivitas yang membuat mata terus-menerus bekerja, seperti menatap layar gawai atau membaca dalam pencahayaan yang kurang baik, dapat membuat mata lebih cepat lelah. Karena itu, mata juga membutuhkan jeda di tengah aktivitas.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menerapkan aturan 20-20-20, yaitu mengalihkan pandangan dari layar setiap 20 menit, kemudian melihat objek yang berjarak sekitar 20 kaki selama 20 detik. Kebiasaan sederhana ini memberikan kesempatan bagi mata untuk beristirahat sejenak.

Menggunakan Obat Tetes Mata

Ketika mata terasa kering, obat tetes mata dapat menjadi pilihan praktis untuk membantu memberikan kelembapan tambahan pada permukaan mata. Produk yang sesuai dapat membantu meredakan rasa tidak nyaman akibat mata kering.

Namun, pemilihannya tetap perlu kita sesuaikan dengan kondisi dan keluhan yang dialami. Jika mata kering terus berulang atau disertai keluhan yang lebih berat, berkonsultasi dengan dokter mata merupakan langkah yang lebih tepat agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani sesuai kebutuhan.

Insto Dry Eyes: Membantu Mata Tetap Nyaman di Setiap Perjalanan

Perjalanan panjang menghadirkan banyak cerita, tetapi mata juga membutuhkan perhatian agar setiap momen dapat dinikmati dalam waktu yang lebih lama.


Dalam perjalanan kemarin, mata sata tidak hanya berhadapan dengan layar. Debu, polusi, sinar matahari yang cukup terik, dan aktivitas mengawasi anak-anak membuat mata saya tetap bekerja hampir sepanjang waktu.

Untungnya, saya membawa si kecil yang menjadi teman perjalanan saat itu: #InstoDryEyes New Packaging. Kemasan barunya lebih eye–catching, sehingga lebih mudah kita temukan dari dalam tas. Ukurannya pun 7,5 ml, ringkas dan siap menjadi penyelamat yang membuat perjalanan tetap nyaman.


Kenali Insto Dry Eyes, merujuk pada halodoc.com

  • Membantu mengatasi mata kering: Mata yang terlalu kering dapat memicu respons alami berupa keluarnya air mata secara berlebihan.
  • Mengandung Hydroxypropyl Methycellulose (HPMC): Kandungan ini berperan sebagai pelumas yang membantu menjaga permukaan mata tetap lembap.
  • Membantu mempertahankan kelembapan mata: HPMC membentuk lapisan pada permukaan mata sehingga kelembapan dapat bertahan lebih lama.
  • Membantu memberikan rasa nyaman: Cocok untuk membantu meredakan rasa kering, sepet, atau sensasi seperti ada yang mengganjal pada mata.
  • Menemani aktivitas sehari-hari: Bisa menjadi teman bagi kalian yang banyak menatap layar, terlalu lama berada di ruangan ber-AC, atau menggunakan lensa kontak.

Dosis dan aturan pakai:

  • Gunakan 1–2 tetes pada masing-masing mata yang terasa kering.
  • Gunakan saat mata terasa tidak nyaman atau sesuai kebutuhan (biasanya 3–4 kali sehari).
  • Tutup rapat botol segera setelah digunakan untuk mencegah kontaminasi.

Penutup

Perjalanan kemarin kembali mengingatkan saya bahwa sebuah momen berharga tidak selalu hadir dalam bentuk kemewahan. Terkadang, ia bersemi dalam perjalanan sederhana, obrolan di sepanjang jalan, dan kesibukan kecil yang justru kelak hidup lebih lama dalam ingatan.

Karena itu, menjaga kenyamanan selama perjalanan menjadi bagian yang tidak bisa dianggap SePeLe. Ketika tubuh dan mata terasa nyaman, saya bisa lebih leluasa menikmati pemandangan, menemani anak-anak, dan menyimpan setiap potret kejadian kecil tanpa harus terganggu gejala mata kering.

Di perjalanan itu, INSTO DRY EYES menjadi si kecil yang turut menemani saya. Bukan pemeran utama dalam cerita, tetapi cukup berarti untuk menjaga kenyamanan mata, sehingga saya bisa tetap hadir dan menikmati perjalanan sampai tiba waktunya pulang.

Referensi:

  • https://www.alodokter.com/mata-kering
  • https://www.eyequ.com/artikel/atasi-mata-kering-langkah-sederhana-untuk-meredakan-gejala-dan-menjaga-kesehatan-mata
  • https://www.halodoc.com/artikel/insto-dry-eyes-untuk-apa-atasi-mata-kering-dan-iritasi

Tinggalkan komentar