Tanggal merah, kok, nggak libur?
Meski bisik-bisik, saya masih bisa mendengar obrolan singkat dua bocah lelaki itu. Sekolah anak-anak memang beda dari yang lain. Tidak ada hari libur di tanggal merah selain 17 Agustus. Namun sebagai konpensasi, kami selalu libur lebih awal di setiap libur panjang. Seperti kali ini, saat sekolah lain masih berjibaku dengan minggu terakhir sekolah, anak-anak sudah libur. Tanpa rencana, tiba-tiba pagi itu, kami sudah berjalan kaki menuju Bukit Tegal Malaka Garut.
Seringkali liburan dibayangkan sebagai perjalanan panjang, berkendara jauh, koper penuh, booking tiket dan hotel, serta daftar tempat yang harus dikunjungi. Namun, saat itu setelah salat Subuh, kami bergerak menuju sebuah bukit yang tidak terlalu jauh dari rumah.
Si Bungsu masih terlelap, jadi yang berangkat hanya saya, suami, dan si cikal. Ini pengalaman kedua saya ke Bukit Tegal Malaka, sehingga semuanya tidak terlalu asing. Namun, kami mengambil jalan berbeda dari sebelumnya demi sebuah pengalaman baru.
Jika sebelumnya, saya dan suami full jalan kaki dari rumah menuju bukit. Kali ini, kami melakukan penyesuaian demi kenyamanan si cikal. Sayang sekali si bungsu tidak ikut. Mungkin lain kali kami bisa menjelajah Bukit Tegal Malaka Garut dengan formasi lengkap.
Menapaki Jalan Menuju Bukit Tegal Malaka Garut

Kami keluar rumah pukul 06.30. Matahari masih malu-malu menyapa. Jalanan pun lengang tanpa banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Kami berjalan kaki sampai Simpang Lima.
Sebenarnya hari yang masih sangat pagi cocok untuk jalan santai. Namun, karena khawatir si cikal kelelahan, kami memutuskan untuk naik angkutan umum warna cokelat jurusan Cipanas.
Kami turun saat angkot sudah mencapai titik pemberhentian terakhir sebelum akhirnya sang sopir putar balik. Suami membayar Rp10.000 untuk ongkos kami bertiga.
Rute ini berbeda dengan rute yang kami ambil saat pertama kali ke Bukit Tegal Malaka. Sebelumnya, kawasan wisata pemandian air panas itu menjadi rute kepulangan. Untuk kali ini menjadi arah kedatangan dan kepulangan agar lebih mudah menjangkau angkot.
Dari Cipanas Indah, kami terus berjalan hingga sampai di jalanan beraspal. Kami kemudian mengambil arah kanan. Tidak lama setelah itu, di seberang mulai tampak sebuah spanduk bertuliskan Bukit Tegal Malaka Garut.
Di sana ada pos penjaga. Namun, mungkin karena masih terlalu pagi, belum ada yang berjaga di sana. Kami lanjut jalan kaki menanjak dalam suasana yang masih hening. Hanya satu, dua orang yang terlihat menuju bukit yang sempat viral tersebut.
Kurang lebih setelah lima belas menit, kami sampai di kawasan wisata Bukit Tegal Malaka. Warung dan cafe kebanyakan masih tutup, padahal saya berharap bisa menemukan penjual lontong dan aneka gorengan.
Saya sempat melihat tulisan di sebuah banner cafeābuka mulai pukul 08.00 hingga 23.00 WIB. Mungkin tempat ini lebih hidup pada malah hari, pikir saya. Tentu bukan tanpa alasan cafe tersebut buka sampai larut malam. Saya pun teringat pada kabar yang menyebutkan bahwa pemandangan citylight dari bukit ini sangat indah.
Kami melewati cafe tersebut dan menuju sebuah warung yang mulai berbenah. Segelas besar teh manis hangat cukup untuk menambah energi, bagi saya. Sementara suami agak mengeluh karena menyesal tidak membeli gorengan di bawah, begitu turun dari angkot.
Langit Terbuka dan Angin yang Menyambut

Area camping menjadi penanda perjalanan menuju puncak bukit segera dimulai. Di sini kehidupan lebih terasa karena ada beberapa kelompok orang yang selesai berkemah semalam.
Si cikal ingin buang air kecil, lalu saya mengantarnya. Kamar mandi ada di sebelah kiri area camping, dekat dengan musala. Selain kamar mandi biasa, ada pula beberapa portable toilet berwarna biru.
Saya menunggu di luar sambil membayangkan suasana malam di sana tampaknya tidak angker. Tidak lama kemudian si cikal keluar dan saya pun menyerahkan Rp3.000 kepada petugas penjaga loket.
Kami kembali ke warung tempat suami menunggu. Setelah membayar teh manis dan makanan ringan, kami menuju jalan setapak yang dipenuhi ilalang. Ilalang-ilalang itu bersemu kemerahan di ujung atasnya. Konon ini hanya terjadi sekitar Juni-Juli.
Sayup-sayup terdengar suara orang. Inilah yang membuat si cikal merasa tenang. Di jalan menanjak itu pun kami sesekali melewati pendaki lain yang sedang berhenti demi berfoto atau menyantap bekal sarapan.
Matahari yang bersinar hangat dan angin yang bertiup lembut seolah menyemangati kami untuk terus melangkah. Jalur ke puncak bukit tidak terlalu panjang dan tidak curam, sehingga aman untuk anak-anak. Si cikal pun tidak tampak kelelahan. Bukit Tegal Malaka bisa menjadi pilihan orang tua yang ingin memperkenalkan pendakian, sebelum mengajak buah hati naik gunung nantinya.
Saya sempat membayangkan bisa berlarian di bukit, tetapi ternyata hampir seluruh hamparan tanah dipenuhi ilalang. Hanya ada jalan setapak dan area camping yang lebih kecil daripada area camping dekat toilet tadi.
Kami berhenti sesekali untuk mengabadikan momen, terutama saat melihat batuan besar yang bisa dijadikan latar foto. Saya tidak tahu persis, tetapi sepertinya perjalanan dari tempat camping ke atas tidak memakan waktu lebih dari setengah jam.
Saat memutuskan untuk turun, kami berpapasan dengan lebih banyak orang yang mulai mendaki. Tampaknya kami memilih waktu yang lebih pagi dari kebanyakan orang. Lain kali harus lebih pagi agar kami bisa berburu sunrise.