Jumat itu terasa berbeda. Ada sendu yang bergelayut memenuhi dada. Kajian rutin di sekolah si bungsu di tahun ajaran ini akhirnya menemui ujungnya. Tema pamungkas yang dipilih adalah keutamaan bulan Dzulhijjah.
Meski kajian terbuka untuk umum dan sekolah dasar si bungsu nantinya pun masih berada dalam naungan yayasan yang sama, tentu menghadiri kajian TK saat menjadi wali santri TK menghadirkan rasa memiliki yang lebih besar.
Terlebih, jadwal kajian terasa sangat sesuai dengan jadwal pulang sekolah di hari Jumat yang lebih awal. Jadi, para orang tua bisa sekalian menunggu anak tanpa harus bolak-balik antar jemput. Meski demikian, saya niatkan untuk terus mendatangi majlis ilmu tersebut. Tak peduli status di tahun depan bukan sebagai wali murid di taman kanak-kanak itu lagi.
Keutamaan Bulan Dzulhijjah
Di sini gempita Idul Adha memang tak semeriah Idul Fitri. Konon, ini berbeda dengan tradisi di negara mayoritas muslim lain yang lebih merayakan Idul Adha. Namun, jika saya selami, yang menyebabkan Idul Fitri lebih semarak adalah karena pada momen itu kita fokus pada saling memaafkan.
Tentunya, Lebaran melibatkan individu yang lain, sehingga kita lebih sibuk berinteraksi dengan banyak orang. Sementara Idul Adha terasa lebih senyap karena ia bekerja dari dalam—mengajarkan tentang keikhlasan.
Yang jarang kita sadari, fokus yang tidak berimbang itu seringkali menutup kesadaran akan keagungan Idul Adha. Bahkan bukan hanya pada tanggal 10, hari-hari awal di bulan Dzulhijjah seluruhnya memiliki keutamaan.
Karenanya, setiap memasuki bulan tersebut kita harus bersyukur serta berniat dan mengusahakan untuk berqurban. Berikut beberapa keutamaan bulan Dzulhijjah yang mesti kita ketahui.
Hari-Hari Paling Agung di Sisi Allah

Salah satu keutamaan bulan Dzulhijjah terletak pada sepuluh hari pertamanya. Banyak ulama menafsirkan firman Allah dalam Surah Al-Fajr ayat 1–2, “Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh”, sebagai isyarat kepada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Allah tidak bersumpah dengan sesuatu kecuali karena kemuliaan dan keagungannya.
Para ulama juga menjelaskan bahwa sepuluh hari pertama Dzulhijjah lebih utama daripada sepuluh hari terakhir Ramadan dari sisi siangnya. Pada hari-hari inilah berkumpul berbagai ibadah besar seperti salat, puasa, sedekah, dzikir, kurban, hingga ibadah haji. Karena itulah Rasulullah saw. bersabda bahwa tidak ada amal saleh yang lebih dicintai Allah daripada amal yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
Hari-Hari Paling Utama
Selain disebut sebagai hari-hari yang agung, sepuluh hari pertama Dzulhijjah juga dikenal sebagai hari-hari yang paling utama. Rasulullah menyebutnya sebagai hari-hari terbaik untuk beramal. Keistimewaan ini tidak diberikan kepada hari-hari lain dalam setahun.
Keutamaan tersebut menjadi pengingat bahwa Islam mengenal waktu-waktu istimewa yang dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak amal. Sebagaimana Ramadan memiliki malam Lailatul Qadar, Dzulhijjah memiliki sepuluh hari terbaik yang menjadi kesempatan emas bagi setiap muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hari-hari ini datang hanya sekali dalam setahun, sehingga kehadirannya layak disambut dengan kesungguhan.
Dilipatgandakannya Pahala Amal
Imam Ad-Darimi meriwayatkan keterangan yang menunjukkan betapa besarnya nilai amal saleh pada hari-hari ini. Amal yang mungkin tampak sederhana dalam keseharian dapat memperoleh pahala yang jauh lebih besar ketika dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.
Karena itu, tidak semua amalan harus berupa ibadah yang berat. Memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, bersedekah, membantu orang lain, menjaga lisan, hingga meminta dan memberi maaf merupakan bentuk-bentuk kebaikan yang dapat dilakukan siapa saja. Yang menjadi penekanan bukan semata besarnya amal, melainkan kesungguhan hati dalam memanfaatkan waktu yang telah dimuliakan Allah.
Amal pada Hari-Hari Ini Lebih Dicintai Allah
Keutamaan yang paling menggugah adalah sabda Rasulullah bahwa tidak ada hari-hari ketika amal saleh lebih dicintai Allah daripada amal yang dilakukan pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Para sahabat yang mendengar hadits riwayat Bukhari ini sampai bertanya, “Tidak juga jihad di jalan Allah?”
Pertanyaan itu menunjukkan betapa tinggi kedudukan jihad dalam pandangan mereka. Namun, Rasulullah menjelaskan bahwa amal pada hari-hari tersebut tetap lebih dicintai Allah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan mengorbankan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan membawa apa pun.
Penjelasan ini menggambarkan betapa luar biasanya kesempatan yang Allah berikan kepada umat Islam. Jika amalan sederhana yang dilakukan dengan ikhlas pada hari-hari ini bisa memiliki kedudukan yang demikian tinggi, maka sepuluh hari pertama Dzulhijjah seharusnya tidak berlalu begitu saja tanpa diisi dengan berbagai bentuk kebaikan.
Amal Terbaik untuk Mendapatkan Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Sama seperti kajian sebelumnya yang menghadirkan Ustadz Ramdhan, atmosfer kala itu hidup dan menyenangkan. Narasumber yang humoris memang tak pernah gagal menghidupkan suasana.
Akan tetapi, keceriaan itu tak mengurangi esensi kajian sebagai majlis ilmu. Semua tetap dalam koridornya. Lebih lanjut, Ustadz Ramdhan menjabarkan lebih detail amalan apa saja yang sebaiknya kita kerjakan pada hari-hari istimewa tersebut.
Meninggalkan kemaksiatan
Dalam kehidupan beragama, melaksanakan perintah dan meninggalkan kemaksiatan merupakan sebuah standar. Namun, pernahkan kita menyadari bahwa keduanya memiliki tingkat kesulitan yang berbeda?
Kalau kita renungkan, melaksanakan perintah relatif lebih mudah daripada meninggalkan kemaksiatan. Misal, kita akan lebih patuh pada perintah salat dan zakat alih-alih menjauhi riba dan gibah.
Pada momen istimewa di bulan Dzulhijjah ini, alangkah baiknya jika kita lebih memperhatikan pada apa yang selama ini disepelekan, yakni menghindari maksiat. Jangan sampai ada perasaan cukup karena telah melaksanakan perintah, padahal masih banyak larangan yang kita abaikan.
Memperbaiki niat ibadah
Niat menjadi fondasi bagi setiap apa yang kita lakukan. Bagaimana pun kondisinya, kita tetap harus tetap mempunyai niat yang lurus, meski pada kenyataannya pada saat itu kita tidak punya kapasitas atau probabilitas melakukan sesuatu.
Misal, saat tak punya uang, setidaknya kita tetap harus memiliki niat untuk melakukan qurban. Meski tidak melakukannya, tetap ada kebaikan bagi kita sama halnya seperti yang berqurban. Sebaliknya, jika kita memiliki niat buruk, contohnya ingin melakukan operasi plastik tanpa alasan medis jika punya uang. Keburukan setimpal dengan yang benar-benar melakukannya akan kita dapatkan.
Imam Attirmidzi mengatakan bahwa dunia ini ditujukan untuk empat golongan:
- Orang yang diberi harta, ilmu, taqwa
- Orang yang memiliki ilmu, harta tidak. Namun, ia memiliki niat yang baik, maka baginya pahala sama
- Orang yang memiliki Harta, ilmu tidak. Namun, tidak memiliki niat yang baik, malah berbuat maksiat
- Orang yang tidak memiliki harta, ilmu, juga niat baik. Maka, dengan niat buruknya saja, ia mendapatkan siksa yang sama.
Karenanya, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan momen istimewa yang bisa kita manfaatkan untuk meluruskan niat. Segala hal kecil yang kita lakukan, bahkan yang belum bisa dilakukan semoga senantiasa berawal dari niat baik yang kelak bermuara pada pahala.
Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Implikasinya pada Ibadah Qurban
Jika membahas bulan Dzulhijjah, tak lengkap jika tidak menyinggung Idul Adha. Hari itu bukan hanya hari ketika kita menyembelih binatang dan berbagi. Lebih dari itu, momen tersebut mengingatkan pada kesabaran, kesalehan, serta keikhlasan dari Nabi Ibrahim, Siti Hajar, Nabi Ismail.
Ustadz Ramdhan mengajak untuk mengambil pelajaran dari keluarga ideal tersebut, agar kita bisa menjadikannya teladan bagi kehidupan rumah tangga masing-masing. Berikut implikasi dari Ibadah Qurban yang bisa kita jadikan bahan refleksi.
- Memberikan makna pada kita bahwa komunikasi yang baik antara suami dan istri itu penting
- Menyamakan visi dan persepsi berumah tangga
- Menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri kita
Penutup
Menjelang akhir kajian, saya menyadari bahwa Dzulhijjah bukan hanya tentang hari raya. Ia adalah undangan untuk kembali menata hati dan memperbaiki diri.
Di bulan yang mulia ini, kita diajak untuk tidak sekadar menambah amal, tetapi juga mengurangi hal-hal yang menjauhkan kita dari Allah. Sebab terkadang, yang paling berat bukanlah melakukan kebaikan, melainkan meninggalkan kebiasaan yang salah.
Mungkin itulah makna keutamaan bulan Dzulhijjah yang ingin saya bawa pulang hari itu. Bahwa setiap pertemuan dengan ilmu semestinya meninggalkan jejak, dan setiap Dzulhijjah semestinya menghadirkan langkah yang lebih dekat kepada-Nya.