Cerita tentang Tawakal: Ibrah dari Menyerahkan Urusan pada Allah

Selamat hari Jumat, Playmates. Jumat berkah, Jumat yang cerah. Seperti biasa di rajanya hari tersebut, saya menyempatkan diri untuk mengisi ulang rohani. Kali ini, saya berkesempatan untuk mengambil pelajaran dari cerita tentang tawakal.

Sebenarnya saya sempat galau karena sekolah si cikal dan si bungsu mengadakan kajian di waktu bersamaan. Namun, karena kajian di sekolah si cikal merupakan kegiatan bulanan, jadi saya memutuskan menuntut ilmu di sana. Perihal kajian di sekolah si bungsu, bisa saya hadiri di minggu-minggu berikutnya.

Setiap pagi masih selalu ada drama yang menghiasi, tetapi dengan “kekuatan bulan”, semua bisa teratasi. Ya, meskipun kadang masih ada kesiangannya kalau adegan nangis si bungsunya tak terkendali. Padahal hanya karena saya suruh mandi.

Seperti pada Jumat kemarin, jam delapan kami baru sampai di depan kelas. Untungnya, Nenek ada jadwal olahraga di Kerkof, jadi si cikal bisa berangkat duluan sebelum setengah delapan.

Di depan kelas pun drama masih berlangsung, tetapi tidak lama. Setelah bertemu para guru, si bungsu tidak lagi banyak tingkah. Selepas memastikan dia masuk kelas, saya meluncur ke area sebrang jalan — sekolah si cikal. Dengan agak tergesa, saya menuju aula di lantai dua untuk menyimak cerita tentang tawakal dari Ustaz Suhana.

Cerita tentang Tawakal

Tiga cerita tentang tawakal dari para teladan

Ini merupakan kajian pertama Ustaz Suhana yang saya simak. Beliau merupakan sosok baru. Tidak seperti narasumber lain yang biasanya saya kenal karena merupakan tenaga pengajar di yayasan tempat anak-anak bersekolah.

Selain sosoknya, isi kajiannya pun lain dari yang lain. Durasi dua jam bergulir tanpa terasa karena Ustaz Suhana lebih banyak bercerita. Bukan sembarang cerita, itu adalah cerita pendek tentang tawakal yang diambil dari sepenggal perjalanan hidup orang-orang saleh.

Berikut beberapa cerita tentang tawakal dari orang-orang saleh yang Ustaz Suhana sampaikan. Buka hati, buka pikiran, mari kita selami dan ambil pelajaran.

Utsman bin Affan

Pada suatu ketika, Madinah mengalami kemarau panjang dan umat Muslim kesulitan memperoleh air bersih. Di tengah situasi buruk itu, keadaan makin parah karena satu-satunya sumber air adalah sumur milik seorang Yahudi.

Sang pemilik sumur mengambil kesempatan dari situasi pelik tersebut. Setiap hari sumurnya ramai oleh para warga yang hendak membeli air darinya.

Utsman bin Affan, sebagai saudagar kaya raya, terenyuh hatinya melihat keadaan tersebut. Beliau berniat untuk membeli sumur Raumah agar umat tidak perlu membeli air bersih lagi. Namun, orang Yahudi itu tidak melepasnya, tentu dengan pertimbangan mempertahankan keuntungan.

Sang sahabat Nabi tak putus asa. Beliau mengajukan sewa dua hari sekali. Jadi kesepakatannya adalah satu hari sumur disewa Utsman sehingga umat boleh mengambil sepuasnya. Di hari lain, si pemilik sumur tetap menjalankan bisnis penjualan airnya.

Dengan demikian, tentu tidak ada lagi yang membeli air karena semua umat memilih mengambil air di hari Utsman menggratiskan. Akhirnya pemilik sumur itu menyerah dan memutuskan menjualnya.

Dari kisah ini, kita bisa belajar tawakal dari Utsman bin Affan. Beliau mengusahakan yang terbaik bagi umat dengan hartanya. Saat belum berhasil, beliau terus mencoba, sampai pada akhirnya tujuan tercapai.

Dengan kata lain, tawakal itu bukan berdiam diri tanpa melakukan apa pun, melainkan berusaha sekuat tenaga lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Usaha dan keyakinan ini yang menjadi esensi tawakal.

Abdurrahman bin Auf

Sama seperti halnya Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf pun merupakan seorang saudagar kaya raya. Beliau memulai usahanya dari nol. Meskipun ada seorang sahabat Anshar yang menawarkan bantuan, beliau lebih memilih pergi ke pasar untuk mencari rezekinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain.

Ketekunannya membawa Abdurrahman bin Auf menjadi hartawan. Namun, sedikit pun beliau tidak terpikat pada harta. Bahkan beliau merasa iri pada Mush’ab bin Umair yang sederhana dan rela meninggalkan kenikmatan demi agama.

Abdurrahman bin Auf menjalankan usahanya dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menjadikannya ambisi. Beliau menerima apa adanya, seperti pada suatu hari ketika membeli kurma busuk dengan harga normal. Tak disangka, ternyata beliau malah meraih keuntungan karena ada orang Yaman yang membutuhkannya untuk obat.

Sikap tawakal bisa kita lihat dari kerja keras Abdurrahman bin Auf, tetapi di sisi lain hatinya tidak pernah bergantung pada harta. Selamanya beliau tetap condong pada Allah.

Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam

Berikutnya adalah kisah tawakal dari manusia paling mulia, teladan dari para teladan – Nabi Muhammad. Tidak ada insan di muka bumi yang lebih tawakal daripadanya. Dengan keadaan sudah dijamin masuk surga, beliau tetap beribadah dan bertawakal pada Allah.

Salah satu kisah ketawakalannya adalah pada saat perjalanan ke Thaif. Beliau ke sana untuk mencari dukungan dan berdakwah. Namun, bukannya sambutan baik, yang ada justru penolakan dari penduduk. Mereka bahkan melempari beliau dengan batu.

Di titik tersebut, Nabi Muhammad berdoa kepada Allah, menyampaikan segala keluh kesah dan harapannya. Saat itu Malaikat Jibril menawarkan untuk membinasakan penduduk Thaif. Setelah pelemparan itu, apakah Nabi menerimanya?

Tentu saja tidak. Beliau menolak dan berkata bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak, bukan untuk melaknat. Nabi bahkan berharap kelak di antara keturunan mereka ada yang beriman. Masya Allah.

Sikap tawakal tercermin dari kegigihan Nabi Muhammad dalam berdakwah. Dalam proses itu, beliau menerima ujian dengan sabar dan tetap menyerahkan segala urusan pada Allah. Bahkan, saat ada kesempatan pun, Nabi tidak tergoda untuk balas dendam.

Pelajaran dari Cerita tentang Tawakal Para Teladan

Kajian rutin bulanan tentang tawakal

Cerita tentang tawakal yang Ustaz Suhana sampaikan dengan gaya santai tidak jarang membuat kami tergelak. Gaya berdakwahnya memang mampu menghidupkan suasana.

Akan tetapi, setiap detail kisahnya mampu menelusup ke sanubari terdalam.

  • Dari Utsman bin Affan, kita bisa belajar tawakal dengan harta serta mengusahakan yang terbaik untuk umat.
  • Selanjutnya kisah Abdurrahman bin Auf mengajarkan tawakal dalam mencari rezeki dan tidak bergantung pada harta maupun orang lain.
  • Yang terakhir, kita bisa meneladani sikap terpuji Rasulullah sallallahu ‘alaihi wassalam. Beliau tawakal dalam menghadapi ujian besar, sabar, dan tidak tertarik untuk balas dendam.

Dari ketiga kisah di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa tawakal tidak berbanding lurus dengan pasrah buta. Tawakal hanya bisa dicapai saat kita sudah berusaha maksimal. Setelah itu, kita serahkan kepada Allah untuk menentukan hasil terbaik.

Keteladanan mereka bisa kita implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hal keluarga, pekerjaan, rezeki, maupun masalah hidup. Meski Allah yang menentukan, kita tetap harus berikhtiar seoptimal mungkin. Setelah itu, kita hanya perlu bertawakal, karena dengan demikian hati kita terbebas dari rasa gelisah.

Di antara kerumitan kehidupan, sudahkah kita bertawakal dengan benar atau baru pasrah tanpa usaha? Semoga kita bisa mengambil ibrah dari cerita tentang tawakal para teladan ini.

Penutup

Alhamdulillah kajian bulanan di sekolah si cikal berjalan dengan lancar. Kisah-kisah para teladan yang Ustaz Suhana sampaikan menjadi bahan refleksi perihal sudah sampai mana pemahaman kita tentang tawakal.

Banyak yang salah memahami tawakal ini sebagai kata lain pasrah. Padahal dari kisah-kisah di atas kita bisa melihat jelas bahwa tawakal adalah titik saat kita sudah berusaha optimal dan memasrahkan segala hasilnya pada Allah.

Semoga kita mampu untuk mengambil ibrah dari cerita tentang tawakal para teladan ini dan merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Kalian tahu kisah para teladan lainnya, Playmates? Bagikan cerita tawakal favorit kalian di sini, yuk!

5 pemikiran pada “Cerita tentang Tawakal: Ibrah dari Menyerahkan Urusan pada Allah”

  1. Banyak yang salah menafsirkan tawakal dengan berpasrah begitu saja, padahal tidak demikian, ya. Tawakal adalah proses ikhtiar atau usaha yang maksimal, baru setelah itu menyerahkan hasilnya pada Allah.
    Mudah-mudahan banyak yang membaca artikel ini sehingga banyak yang tercerahkan tentang makna tawakal sebenarnya dan belajar dari tarikh Nabi dan sahabat Nabi yang hidup penuh dengan ketawakalan

    Balas
  2. Terimakasih kak, kembali diingatkan makna tawakal melalui tulisan ini. Kisah-kisah sahabat dan Rasulullah memang telah teruji tawakalnya. Mudah-mudahan kita dapat meneladaninya dengan kemampuan terbaik kita. Aamiin

    Balas
  3. Alhamdulillah, sharingnya menyejukkan hati Teh
    Senangnya ada siraman rohani rutin seperti ini, kajiannya pasti tiap bulan ya? program yang layak untuk ditiru ini, tidak hanya anaknya yang belajar akademik di sana, ortunya juga belajar nih

    Balas

Tinggalkan komentar