“Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu, mari jatuh cinta.”
Kalian sudah menemukan buku yang bisa membuat kalian jatuh cinta, Playmates? Kala belum, barangkali buku tentang ayah bisa menyentuh hati kalian. Bisa jadi tema tersebut merupakan jalan kalian mencintai membaca.
Dari pandangan saya, quote dari Nazwa Shihab di atas merupakan sebuah motivasi bagi orang yang tidak gemar membaca. Kemungkinan dari mereka menganggap buku sebagai sesuatu yang membosankan.
Hal itu terjadi karena buku di dunia mereka terbatas pada buku pelajaran. Masa kecil sebelum itu, tak ada bacaan yang menemaninya sebelum tidur. Tak ada buku petualangan seru yang lusuh karena bolak-balik minta dibacakan oleh ayah atau ibu.
Tidak adanya memori baik perihal bacaan di masa kecil menjadi awal semula. Kemudian bacaan rumit pelajaran menorehkan kesan pertama tentang buku. Seperti itulah spekulasi di kepala saya terkait hal tersebut.
Lebih lanjut, quote Mbak Nana tampak mengandung sebuah tantangan. Tantangan untuk tidak berhenti mencoba membaca sebelum menemukan apa yang bisa membuat jatuh cinta. Setelah rasa itu tumbuh, niscaya kalian akan memandang buku dengan cara berbeda.
Dalam upaya tersebut, saya menawarkan empat buah buku tentang ayah. Semuanya ditulis oleh penulis pria dan ada satu hal yang menjadikannya lebih istimewa, yakni mereka berempat berasal dari Sumatra.
Buku tentang Ayah
Sama halnya seperti ibu, ayah pun memiliki peranan penting dalam hidup kita. Kehadiran keduanya menjadikan kita utuh dalam segala aspek. Namun, terkadang banyak yang melupakan pentingnya sosok ayah, baik dari masyarakat umum maupun ayah itu sendiri.
Kalau memperhatikan sekitar, tidak akan sulit bagi kita untuk menemukan orang yang tidak memiliki sosok ayah dalam hidup. Sedihnya, hal ini tidak hanya menimpa anak yatim, tetapi juga anak yang ayahnya masih ada.
Ini pun mengganggu pikiran saya. Bagaimana mungkin seorang lelaki beranggapan kalau mereka sudah berpisah dengan istri, itu berarti tanggung jawab dia sebagai ayah menjadi gugur?
Misal sikap buruk ayah itu disebabkan luka masa lalu yang juga merasakan pengabaian dari ayahnya, ini harus berhenti di sini. Jangan lagi ada generasi berikutnya yang merasakan hal yang sama.
Oleh karena itu, kita membutuhkan edukasi terkait hal ini. Bisa dari sudut pandang agama, parenting, lingkungan, dan aspek lainnya. Dari segi hobi dan hiburan, bacaan pun bisa mengambil kontribusi, salah satunya dengan menyediakan buku tentang ayah.
Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye

Tere Liye merupakan penulis yang berasal dari Lahat, Sumatra Selatan. Dia telah menerbitkan lebih dari 50 judul novel. Novel-novel tersebut memiliki genre bervariasi. Mulai dari religi, romansa, aksi, hingga drama keluarga.
Salah satu novelnya yang bergenre drama keluarga adalah Ayahku (Bukan) Pembohong. Ini merupakan kisah yang menginspirasi antara ayah dan anak. Sang anak, Dam, hidup bersama kisah-kisah hebat yang kerap diceritakan ayahnya.
Dam begitu mengidolakan sang ayah. Dia memercayai setiap detail masa lalu ayahnya yang luar biasa seperti menjadi pelari tercepat dan bertualang bersama serigala.
Makin Dam Dewasa, kisah sang ayah makin terdengar mustahil. Terlebih pendapat orang-orang di sekitarnya yang meragukan itu semua mulai meracuni pikiran Dam. Sang anak pun mulai beranggapan bahwa mungkin saja ayahnya itu seorang pembohong.
Kegamangan Dam tidak berpengaruh pada ayahnya. Dia tetap bersemangat berkisah, tetapi Dam sudah tidak sanggup mendengar itu. Puncaknya, sang anak memuntahkan segala keresahan dan mempertanyakan kebenaran kisah kehebatan ayahnya.
Sang ayah merasa tidak perlu membela diri, dia yakin pada akhirnya semua akan terungkap. Pada akhir cerita semua tabir terbuka dengan cara yang mengejutkan. Fakta menyentuh ini mampu menggugah hati Dam untuk melihat sang ayah dari sisi yang lain.
Novel yang rilis pada tahun 2011 ini menyadarkan kita tentang pentingnya kepercayaan dalam hubungan keluarga. Meskipun kasih sayang ayah kerap luput disadari, tetapi itu bukan berarti ayah tidak peduli.
Ayah Karya Andrea Hirata

Andrea Hirata begitu lekat dengan Belitong. Novel pertamanya langsung meraih popularitas dan mengangkat nama Belitong. Di sanalah sepuluh laskar pelangi merawat mimpi untuk memperoleh pendidikan.
Bagi pencinta serial tersebut pasti tahu bahwa Ikal mempunyai ikatan yang kuat dengan ayahnya. Meskipun pendiam, sang ayah tetap mampu mengirimkan sinyal bahwa ia selalu bangga pada anak-anaknya.
Pada tahun 2015, Andrea Hirata merilis sebuah novel yang bercerita khusus tentang ayah. Ini bukan tentang Ikal, dialah Sabari, seorang ayah yang bertekad memberikan yang tebaik untuk anaknya meski hidup serba kekurangan.
Meskipun kesehariannya tidak mudah, Sabari tidaklah sama dengan lelaki kebanyakan yang lepas tanggung jawab atas anak setelah bercerai. Bahkan, dia yang mengurus sang anak, Zorro, karena sang istri, Marlena, meninggalkannya tidak lama setelah melahirkan.
Sabari tidak pernah mengeluh selama dia mengurus anaknya seorang diri. Justru dia bahagia bisa selalu dekat dengan Zorro. Namun, tiba-tiba Marlena kembali hanya untuk merebut Zorro secara paksa dari asuhan Sabari. Setelah itu, ayah malang itu tak pernah berhenti berjuang untuk bisa kembali bertemu dengan anaknya.
Meskipun novel ini bukan tentang Ikal, tetapi gaya penceritaan, penokohan, dan latarnya sama seperti Laskar Pelangi. Pak Cik tetap dengan gaya jenakanya dalam menceritakan kemiskinan.
Dari kisah ini kita bisa belajar tentang kesetiaan dan pengorbanan keluarga. Selain itu, di sini kita bisa melihat bahwa dalam keterbatasan pun, seorang ayah tetap bisa mempunyai cinta tak terbatas.
Dompet Ayah Sepatu Ibu Karya JS Khairen

JS khairen adalah penulis belia asal Padang, Sumatra Barat. Pemilik nama lengkap Jombang Santani Khairen ini aktif di media sosial. Dia kerap berinteraksi dengan para follower, bahkan tidak terbuka untuk kolaborasi postingan di akun Instagram.
Nama JS Khairan kini sedang naik daun di kalangan kaula muda pencinta novel. Sama seperti pendahulunya, Tere Liye dan Andrea Hirata, Khairen pun lulusan dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Mereka bertiga pun sama-sama penulis asal Sumatra. Keren, kan, Playmates?
Agak berbeda dengan dua buku sebelumnya yang lebih dominan mengisahkan sosok ayah, karya JS Khairen ini membahas ibu dan ayah sekaligus. Ibu mewakili sepatu, sedangkan dompet menjadi pengejawantahan sosok ayah.
Dalam kisah ini memang sepatu dan dompet muncul secara eksplisit. Zenna diceritakan memakai sepatu lungsuran dari kakak-kakaknya. Sang ayah menjanjikan akan membelikannya yang baru, tetapi sebelum janji itu tunai, dia pergi untuk selama-lamanya.
Sedangkan dompet yang Asrul miliki adalah warisan dari ayahnya. Dompet itu tua dan lusuh, tetapi dia tetap menyimpannya untuk waktu yang lama. Selain menyimpang kenangan, dompet itu pun menjadi simbol kesederhanaan dan kegigihan.
Asrul dan Zenna berasal dari keluarga sederhana. Keduanya memutuskan untuk menjalani hidup bersama dan bahu membahu memperjuangkan kesejahteraan keluarga kecil mereka. Keduanya bertekad untuk mengubah nasib melalui pendidikan.
Dalam pada itu, sepatu menjadi lambang pengorbanan seorang ibu dalam menapaki perjalanan panjangnya untuk membesarkan anak. Sedang, dompet menjadi lambang kegigihan ayah dalam memperjuangkan kesejahteraan keluarga.
Ayah Karya Irfan Hamka

“Kau bukan kecintaanku, bukan tunanganku, bukan istriku. Tetapi janda dari orang lain.”
Para pencinta film Indonesia pasti tidak asing dengan dialog yang Herjunot Ali katakan pada Pevita Pearce di atas. Itu adalah cuplikan dari film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang dialihwahanakan dari novel dengan judul yang sama karya Buya Hamka.
Buya Hamka bukan hanya seorang sastrawan, beliau juga merupakan ulama besar dan tokoh nasional bangsa Indonesia. Namun, sosok beliau hadir dengan sisi lain dalam sebuah biografi berjudul Ayah.
Buku ini ditulis oleh anak kelima Buya Hamka, yaitu Irfan Hamka. Sama seperti ayahnya, Pak Irfan merupakan orang Minang. Namun, beliau lahir di Medan karena saat itu sang ayah sedang menetap di sana.
Irfan Hamka menceritakan keseharian Buya yang hangat dan penyayang. Melalui buku ini kita bisa belajar cara Buya dalam mendidik anaknya. Beliau tidak hanya menasihati dalam kebaikan, tetapi juga memberikan keteladanan.
Salah satunya adalah saat Buya Hamka memaafkan orang-orang yang menyakitinya. Bahkan, beliau bersedia menjadi imam salat jenazah presiden pertama Republik Indonesia.
Pemilik nama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini memang sosok luar biasa. Jika kalian ingin mengenalnya lebih dekat, membaca buku inilah jawabannya. Selain itu, kalian pun bisa menyelami alasan seorang anak bisa begitu menyayangi ayahnya.
Penutup “Buku tentang Ayah”
Kalau kalian melewatkan masa kecil dan masa muda tanpa buku, itu tidak berarti selamanya kalian tidak akan suka buku. Bisa jadi sekaranglah waktunya kalian jatuh cinta pada bacaan.
Bukan bukunya yang membosankan, kemungkinan itu karena kalian belum menemukan buku yang mampu menyentuh hati. Bagi yang masih mencari, saya punya rekomendasi bacaan yang menggugah dan menginspirasi.
Bacaan itu adalah empat buku tentang ayah dari penulis Sumatra, yakni Tere Liye, Andrea Hirata, JS Khairen, dan Irfan Hamka. Pilihan kalian yang mana, Playmates? Sharing di sini, yuk!
Ada banyak juga ya mbak buku atau novel bertemakan ayah. Memang kita kerap melupakan sumbangsih ayah dalam kehidupan ini. Namun kalau ingat ingat jasa ayah, rasanya ingin menangis ðŸ˜
Saya suka buku-buku Andrea Hirata dan J.S Khairen dan baru ngeuh kalau mereka sama-sama dari pulau Sumatera.
Kebayang kalau Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu dibuat versi filmnya oleh sutradara yang cocok, pasti keren
Aku pernah memulai membaca Ayah karya Irfan Hamka. Baru mulai dan jatuh cinta, tapi terpending. Akan melanjutkan lagi baca buku ini dengan sepenuh cinta.
Saya udah baca semuanya…cerutanya mengharu biru dan sangat menggugah hati.
Bener banget, untuk menjadi jatuh cinta pada membaca hanya butuh satu buku aja. Aku dulu seneng banget sama bacaan bobo, sampe sekarang suka banget baca gegara itu. Kalau sekarang karya Tere Liye aku paling suka. Mau baca yang tema ayah ini, belum ada yang kubaca semua..hiks
Dari 4 buku yang ayah karya irfan hamka belum kubaca. Jadi inspirasi buat menambah rekomendasi buku bacaan yang kubaca deh
menarik referensi buku tentang ayah ini, sepakat pilih satu buku yang disukai dan nikmati jatuh cinta terhadap buku
saya penasaran dengan cerita Hamka, walaupun buku lama tetapi saya belum membacanya