JS Khairen dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu

Sepertinya deretan penulis favorit saya yang berasal Sumatra akan bertambah. Buku JS Khairen kini menemani buku-buku karya Tere Liye, Andrea Hirata, A. Fuadi, dan Dee Lestari yang terlebih dahulu memenuhi rak.

Saya beruntung punya adik yang rajin beli buku, jadi tidak pernah kekurangan bacaan. Namun, saya baru sadar rasa nyaman itu justru melenakan. Saya jadi tidak punya banyak buku, tetapi, ya, segala sesuatu pasti ada plus dan minusnya. Lebih baik kita fokus pada hal-hal positifnya saja, ya, Playmates. Insyaallah nanti ada waktunya beli buku sendiri.

Saat telah menamatkan Origin Dan Brown, saya bingung menentukan buku mana yang hendak dibaca. Kemudian Adik merekomendasikan Dompet Ayah Sepatu Ibu. Dia bilang ceritanya mengandung bawang.

JS Khairen

Ini merupakan buku JS Khairen pertama yang saya baca. Sebelumnya, saya sudah beberapa kali mendengar namanya di media sosial. Selain itu, adik bungsu yang berkuliah di UI bercerita pernah menghadiri acara JS Khairen di kampusnya.

Wah, tenyata JS Khairen juga alumni UI. Sama dengan Tere Liye dan dan Andrea Hirata. Sama-sama Fakultas Ekonomi lagi. Si Bungsu bolehlah berbangga karena satu almamater dengan mereka.

JS Khairen merupakan kependekan dari Jombang Santani Khairen. Keren, ya, nama lengkapnya. Dia merupakan penulis muda yabg berasal dari Padang. Kenal A. Fuadi nggak, ya, kira-kira?

Selain Dompet Ayah Sepatu Ibu ini, Khairen juga menulis judul lainnya, seperti Melangkah (2020), Kado Terbaik (2022), dan Bungkam Suara (2023). Seperti halnya Tere Liye, dia juga kerap mengampanyekan pemberantasan buku bajakan.

Dompet Ayah Sepatu Ibu

JS Khairen dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu

Baru membaca beberapa halaman saja, saya langsung yakin bahwa para penulis Sumatra itu punya kesamaan. Mereka kerap mengisahkan anak daerah dari keluarga miskin.

Hebatnya, di tengah keadaan yang serba kekurangan, mereka gigih untuk meraih pendidikan tinggi. Selain itu, para tokoh utama itu memegang teguh ajaran agama karena sejak kecil tinggal di lingkungan yang agamis.

Begitu juga dengan novel ini. Dikisahkan Zenna dan Asrul yang berasal dari wilayah gunung yang berbeda di Sumatra Barat itu berusaha keras mengubah takdir. Di Padang Panjang mereka menyulam mimpi yang sama, menjadi seorang guru.

Meskipun tampak mustahil, mereka tidak patah arang untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ini bisa jadi motivasi bagi pembaca agar semangat untuk meraih pendidikan terbaik.

Deskripsi Buku

  • Judul : Dompet Ayah Sepatu Ibu
  • Penulis : J.S. Khairen
  • Tebal: 200 halaman
  • Penerbit : Gramedia Widiasarana
  • Cetakan Pertama, Agustus 2023

Sinopsis

Zenna, si anak tengah, anak yang paling tak terlihat, bertekad untuk mengenyam pendidikan tinggi. Namun, semesta seolah tak membiarkannya mendapatkan segala sesuatu dengan mudah.

Bapak meninggal ketika gadis itu masih remaja. Dia pergi membawa janji pada Zenna yang tak sempat untuk dipenuhi, sebuah sepatu baru. Tahun-tahun berikutnya Zenna masih memakai sepatu butut lungsuran kakak-kakaknya.

Zenna merupakan gadis pintar, sehingga salah satu gurunya terus mendorong agar dia melanjutkan kuliah. Umak kurang setuju atas ide itu. Jangankan untuk kuliah, makan sehari-hari pun seringnya hanya dengan garam.

Guru dan teman-temannya tidak hanya memberikan semangat, tetapi juga memberi Zenna uang untuk pendaftaran Sipenmaru. Di tengah persiapan Sipenmaru, seorang pemuda datang melamarnya.

Zenna pun menaruh hati pada pemuda itu, apalagi dia menyanggupi untuk membiayai kuliah gadis itu setelah menikah nanti. Namun, sungguh malang, Zenna sakit amandel dan harus segera dioperasi. Setelah itu, bukannya sembuh, dia malah kehilangan suara.

Kondisi itu membuat pemuda yang melamarnya berubah pikiran. Selain suaranya hilang, Zenna pun terkena campak yang membuat tubuhnya dipenuhi bintik-bintik.

Setelah itu, Zenna kembali fokus pada Sipenmaru. Dia telah diterima di IKIP Padang. Sambil menunggu waktu pendaftaran ulang, gadis itu bekerja ikut salah satu pamannya.

Saat waktunya tiba, Zenna terhenyak ternyata selain daftar ulang, dia juga harus membayar biaya kuliah selama satu semester. Dengan berat hati, dia tarik lagi uang itu dan memutuskan untuk daftar lagi tahun depan setelah punya uang yang lebih banyak.

Anak Lain dari Gunung Marapi

Asrul tidak naik kelas. Hal itu membuat kakinya terkena pukulan rotan Bapak. Sang adik, Irsal, malah tertawa bahagia di atas penderitaannya. Umi menghentikan pukulan Bapak dan menyuruhnya pulang ke rumah, ke tempat istri kedua Bapak tinggal.

Sejak Bapak menikah lagi, Umi dan dua anak bujangnya kembali ke rumah kecil peninggalan orang tua Umi. Asrul dan Irsal kerap menemani Umi ke pasar untuk menjual kayu bakar.

Ketika di pasar, ada pemandangan yang menarik perhatian Asrul, sebuah bis Harian Semangat. Asrul mendekatinya hendak membeli koran. Entah mengapa orang-orang malah menuduh hendak mencuri. Untung ada Umi yang sigap menyelesaikan.

Dari koran itu, Asrul mulai belajar membaca hingga dia akhirnya berani ikut lomba puisi. Semakin hari kemampuan membaca dan menulisnya semakin baik. Bahkan, saat SPG (Sekolah Pendidikan Guru), dia jadi makelar surat cinta.

Sejak SMP, Asrul dan Irsal sudah merantau karena di kampungnya hanya ada SD. Umi tinggal berdua dengan adik bungsu mereka, Laeli. Sedangkan Bapak hampir tidak pernah ada di kampung karena berjualan kayu manis, kopra, dan sebagainya dari pasar ke pasar di daerah Sumatra.

Selepas SPG, Asrul berniat ikut Sipenmaru. Sambil menunggu pengumuman dia bekerja di Harian Semangat sebagai tukang kliping dan sesekali menulis artikel.

Tahun itu Asrul tidak terlalu giat belajar, sehingga hasilnya pun tidak memuaskan. Dia tidak lolos Sipenmaru. Pemuda itu tidak punya waktu untuk sedih dan kecewa. Dia melanjutkan hidup dan berencana ikut seleksi itu lagi tahun depan.

Sebelas Dua Belas

Dompet Ayah Sepatu Ibu karya JS Khairen

Zenna dan Asrul bertemu pertama kali saat sama-sama akan ikut seleksi Sipenmaru di sebuah bis menuju Padang. Tahun itu keduanya gagal kuliah. Nasib mereka hampir sama, sebelas dua belas.

Keduanya miskin dan sama-sama menanggung beban keluarga di pundak. Selain mencari makan untuk dirinya sendiri, Asrul kerap mengirimkan uang untuk Umi dan Laeli. Zenna lebih berat lagi, dia bertekad untuk menyekolahkan kelima adiknya.

Mereka menjalani suatu hubungan unik tanpa status pacaran. Selama empat tahun, Asrul dan Zenna saling mengisi dan menguatkan. Zenna berjualan berbagai macam makanan dengan menyalin resep dari Harian Semangat.

Hal itulah membuat mereka semakin dekat. Asrul setiap hari mengirim koran ke tempat tinggal Zenna. Dia selalu meninggalkan catatan manis untuk gadis itu di bagian rubrik resep.

Memutuskan Hidup Bersama

Setelah lulus kuliah, keduanya memutuskan menikah. Rencana pernikahan itu maju mundur karena terkendala dana karena Zenna tetap membiayai keluarganya, begitu pula Asrul.

Mereka tinggal menumpang di kantor Harian Semangat. Bagi keduanya hidup literally adalah perjuangan. Kemudahan dan kesulitan hadir silih berganti menghiasi hari.

Hidup penuh liku mereka masih panjang. Mulai dari mengontrak, mencari KPR, tanah longsor, adik-adik, Umi, dan Umak yang ikut tinggal dengan mereka, hingga banjir besar.

Bersama kesulitan ada kemudahan, Asrul dan Zenna pun mendapatkan banyak kemurahan Tuhan, seperti sepasang anak, Zenna jadi PNS, Asrul menjadi wartawan terbaik se-Indonesia, hingga jadi pemred.

Lebih lengkapnya baca sendiri, ya. Jadilah saksi perjuangan mereka demi terlepas dari belenggu kemiskinan.

Ulasan

Awalnya saya mengira judul novel ini mengacu pada orang tua Zenna dan Asrul. Tenyata ayah dan ibu di judul itu justru Zenna dan Asrul. Dompet Asrul dan Sepatu Zenna menjadi saksi bisu perjuangan keduanya melawan kemiskinan.

Ini buku pertama JS Khairen yang saya baca sehingga saya belum terbiasa dengan gayanya bercerita. Beberapa kali saya mengerutkan kening, ini maksudnya apa? Selain itu, saya merasa perpindahan dari adegan satu ke adegan lainnya terlalu cepat.

Alur cerita ini maju mundur. Untuk bagian awal-awal tidak terasa ada masalah, tetapi di bagian akhir ada adegan yang tidak jelas perpindahannya saat menceritakan kelahiran anak kedua. Berikutnya, Asrul terbang ke Jakarta, tetapi diceritakan bayinya masih dalam kandungan.

Ada juga yang menyebutkan bahwa Tata, Si Cinta Monyetnya Asrul, menemui Asrul mengenakan seragam kebidanan. Namun, ternyata gadis itu menjadi perawat.

Akan tetapi, saya suka alur cerita dan hikmah yang ingin penulis sampaikan. Secara keseluruhan novel ini menarik. Apalagi di setiap awal bab ada kutipan-kutipan indah.

Saya juga belajar menulis berita di koran dari Pak HSC. Dia beberapa kali merevisi tulisan Asrul. Saya juga jadi tahu contoh tulisan baik yang layak naik cetak.

Kekaguman saya bertambah setelah tahu bahwa kisah ini terinspirasi dari kisah orang tua penulis. Pantas saja anak Zenna dan Asrul ini bernama JS Chaniago. Dia kuliah di UI dan menjadi penulis juga, persis JS Khairen.

Penutup “JS Khairen dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu”

Kemunculan JS Khairen ini tentu menjadi angin segar bagi dunia literasi Indonesia. Regenerasi tetap harus ada di tengah kedigjayaan para penulis senior agar atmosfer perbukuaan menjadi lebih kaya dan fresh.

Selain itu, Gen-Z pasti lebih suka penulis muda yang aktif di media sosial dan bisa masuk ke pergaulan mereka. By the way, kalian sudah baca novel JS Khairen yang mana, Playmates?

2 komentar untuk “JS Khairen dalam Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top