Saya setuju 1.000.000% Ariel yang memerankan Dilan.
Pernyataan Pidi Baiq itu sempat menjadi trending topic beberapa minggu lalu saat mengumumkan cast Dilan 1997 ITB. Ariel jadi Dilan? Siapa yang menyangka? Film ini akan kembali menghidupkan karakter Dilan di layar lebar, menyusul rilisnya film dan novel Dilan 1983.
Keputusan Ayah Pidi ini memantik beragam reaksi, terutama dari para pencinta Dilan versi Iqbaal – yang, ya, memang paling melekat di benak banyak orang. Ada yang bilang Ariel terlalu tua, kurang dapat vibes-nya, dan macam-macam suara penolakan lainnya.
Padahal kalau kita pikir, Pidi Baiq adalah orang yang paling mengenal Dilan luar dalam. Jadi wajar kalau ia mampu melihat Ariel mempunyai aura yang pas untuk Dilan versi 1997.
Sebagai penikmat film dan bukunya, saya pribadi merasa pemilihan Ariel bukan masalah. Meskipun bukan orang Sunda, ia tumbuh besar di Bandung, musisi, jago gambar, pinter nulis puisi, dan hobi motoran – persis banget seperti Dilan versi cerita.
Menurut saya, yang paling susah move on dari Dilan Iqbaal biasanya adalah mereka yang pertama mengenal Dilan lewat film. Sedangkan pembaca novel – yang sudah mengenal Dilan jauh sebelum berwujud Iqbaal – lebih mudah menerima siapa pun yang memerankannya.
Akan tetapi, pro kontra itu hal biasa. Bahkan waktu Iqbaal diumumkan menjadi Dilan pun, dulu banyak yang meragukan. Jadi, kita lihat saja nanti. Tahun depan akan terjawab apakah Ariel bisa memenuhi ekspektasi publik atau tidak.
Di tengah huru-hara ini, saya malah teringat novel Dilan 1983 yang belum sempat kubaca tuntas. Mumpung hype Dilan lagi naik, yuk, bahas bareng, sebenarnya ada cerita apa saja, sih, selepas Dilan pulang dari Timor Timur?
Novel Dilan 1983

Saya pertama kali tahu tentang novel ini saat konferensi pers film Dilan 1983. Waktu itu saya mulai mendengar suara-suara yang menganggap Dilan universe sudah mulai dipaksakan. Namun, sebagai seseorang yang percaya Dilan itu tokoh nyata, saya justru santai saja. Bukankah tiap tokoh nyata itu mengalami fase panjang dalam perjalanan hidupnya?
Awalnya saya agak kurang srek hanya karena ada kata “Wo Ai Ni” di judul. Kesan pertamanya, kok, jadi seperti kisah cinta-cintaan, padahal Dilan masih kelas 5 SD. Namun, setelah saya baca, ternyata novel ini jauh dari sekadar gombalan Dilan pada Mei Lien. Isinya lebih berupa cerita nostalgia tentang Bandung tempo dulu – catatan kecil Dilan yang hangat dan lucu bersama keluarga dan teman-temannya.
Akan tetapi, akhirnya saya paham: “Wo Ai Ni” di sini bukan soal “Aku Cinta Kamu”. Lebih ke penanda fase hidup Dilan yang berbau China. Sama seperti Dilan 1997 yang Ayah Pidi tandai dengan “ITB”.
Oh iya, Dilan kecil di sini juga mengingatkan saya pada Ikal Laskar Pelangi. Dua-duanya sama-sama bocil pengagum chindo. Bagi kalian pencinta novel, sudah baca belum cerita yang satu ini?
Identitas Buku
- Judul: Dilan 1983: Wo Ai Ni
- Penulis: Pidi Baiq
- Penerbit: Pastel Books, Anggota IKAPI, PT Mizan Pustaka
- Halaman: 205
- ISBN: 978-623-5866-48-2
- Cetakan 1, Syawwal 1445 H/Mei 2024
Sinopsis Novel Dilan 1983
Setelah hampir dua tahun tinggal di Timor Timur, Dilan akhirnya pulang ke Bandung. Tugas negara Ayah selesai, dan sebagian anggota keluarga – Ayah, Bunda, Dilan, Disa – bisa kembali berkumpul dengan yang lain di rumah: Kak Ida, Bang Landin, Bang Banar, dan Bi Diah.
Dilan kembali masuk ke kelas lamanya. Semua terasa sama seperti sebelum ia pergi, kecuali satu hal: hadirnya murid baru yang sudah pindah sekitar enam bulan lalu, Mei Lien Mary Oey. Sejak hari pertama, Dilan berniat mendekatinya – dengan caranya sendiri yang super random.
Keisengan Dilan itu tentu membuat Mei Lien kesal. Puncaknya, ia tidak mengundang Dilan ke pesta ulang tahunnya. Dilan memang suka usil – salah satunya memberikan buku Siksa Neraka pada gadis Tionghoa itu, yang jelas-jelas punya keyakinan yang berbeda.
Di sela usaha mencari perhatian Mei Lien, Dilan menjalani hari-harinya dengan sangat khas. Ia menjelajahi Bandung tempo dulu bersama keluarga dengan mobil Bunda (Nissan Patrol), bermain dengan teman-teman, dan tetap mengaji di masjid dekat rumah Kakek. Selain di sekolah, ia pun bertemu Nanang, Agus, dan Fajar di masjid. Mereka berisik dan sering membuat Mang Musron terusik.
Nenek Dilan dari pihak Ayah sudah tiada, tetapi ibunya Bunda – Mak Syik – masih sehat dan sempat berkunjung dari Aceh. Selain itu, Dilan juga dekat dengan sepupunya, Wati, yang kerap memintainya uang.
Bandung tahun 1983 masih sepi dan Dilan menjalani masa kecilnya dengan riang: naik sepeda ke sekolah, bermain ke tempat-tempat jauh, sampai mengambil cerutu dari sesajen di bawah pohon besar, lalu memberikannya pada Kakek. Sesekali ia pun berkelahi dengan anak-anak dari kelompok lain.
Dalam tahun itu, Dilan mengalami banyak momen berkesan: gerhana matahari total, teror petrus, sahur keliling, pesantren kilat, hingga merayakan lebaran di Aceh. Di tengah upayanya mendekati Mei Lien – yang perlahan mulai luluh dan mau bersahabat – ada satu kejadian yang membuat hatinya remuk. Apa yang terjadi?
Ulasan Novel Dilan 1983

Dilan 1983: Wo Ai Ni adalah catatan nostalgia dari Dilan kecil tentang Bandung tempo dulu. Suasana yang Pidi Baiq bangun membuat siapa pun yang membacanya serasa kembali ke masa lalu. Terlebih bagi yang pernah tinggal di Bandung.
Pada masa itu, belum banyak cafe dan factory outlet. Kota Kembang justru hidup melalui seni – dari musik The Rollies dan Hari Roesli, sampai sandiwara radio Dongeng Si Rawing. Di jalanan, orang-orang masih bermain sepatu roda di Jalan Cimalaya. Dan, kalau mencari buku? Ya, Palasari masih menjadi Primadona.
Dari semua detail Bandung itu, yang paling “Bandung” justru adalah Dilan sendiri – dari logat, kelakuan, sampai gaya bercandanya. Saya tidak tahu bagaimana pembaca non-Sunda memandang karakter ini, tetapi bagi saya, setiap candaan Dilan itu ngena. Garing-garing lucu dengan aura lokal yang khas.
Menurut saya, novel ini tidak mengajarkan pacaran dini. Dilan tahu betul bahwa ia masih kecil dan belum waktunya untuk menjalin hubungan. Justru rasa sukanya pada Mei Lien – yang ia panggil Mary – mendorongnya untuk mengenal budaya dan Tionghoa serta mempelajari bahasanya.
Dilan memang super usil, tetapi ia punya prinsip. Ia gemar membaca, suka mempelajari bahasa, rajin mengaji, dan setia kawan. Di usia sekitar 11 tahun, ia digambarkan sebagai bocah yang berpengetahuan luas dan bisa menjaga sikap.
Tulisannya mengalir, sederhana, dan kadang acak – tipikal gaya Pidi Baiq. Bukan yang rapi secara EYD, tetapi karakternya sudah sangat kuat. Di acara Proses Kreatif Sastra yang pernah saya hadiri di Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut, Ayah Pidi pernah berkata bahwa karena bukan lulusan sastra, ia merasa lebih bebas menulis. Tidak takut salah. Tulis saja apa yang ingin ditulis.
Sebagai sebuah kisah, Dilan 1983 bukan hanya tentang anak kecil yang naksir teman sekelasnya. Ini tentang tumbuh besar di kota yang masih lengang, tentang kehangatan keluarga, tentang rasa ingin tahu, dan tentang kegembiraan masa kecil.
Penutup
Membaca novel ini terasa seperti membuka album foto lama yang berdebu – menghangatkan, lucu, dan membuat kita rindu pada masa ketika semua terasa lebih sederhana. Terkadang saya berpikir, ternyata menjadi dewasa memang melelahkan. Padahal dulu, waktu kecil, kita rasanya tak sabar ingin cepat besar.
Dari Dilan yang usil dan apa adanya, kita belajar cara menikmati hidup, memandang segala sesuatu dari sisi baiknya, dan tetap memegang prinsip. Seperti kutipan hadis yang ada di novel ini:
Undzur maa qaala, wa laa tandzur man qaala.
(Lihatlat apa yang dibicarakan, bukan siapa yang berbicara)
Lalu, bagaimana menurut kalian – para pencinta Dilan – apa kehadiran novel Dilan 1983 ini tidak ada artinya? Dan, apakah kalian setuju Dilan versi Ariel pantas kita tunggu?
Setiap novel yang diangkat ke layar lebar selalu menimbulkan kesan yang lebih mendalam, bahkan ketika dibuat beberapa versi
Lutipan hadits di paragraf terakhir itu ngena ya … banyak dari kita yang melihat siapa yang berbicara, bukan apa yang dibicarakan jadi betapa terangnya kebenaran itu, dikaburkan karena kontra sama yang berbicara. Orng2 Indonesia harus belajar banyak tentang itu.
Novel Dilan ini sepertinya memang selalu menarik ceritanya, apalagi pasti difilmkan. Novel-novel remaja ceritanya selalu menarik.Dilan 1983 ini saya belum baca malah. Kepengin nonton filmnya juga bila sudah tayang tahun depan.
Unik juga ya setiap novel Dilan ternyata selalu ada keterangan tahunnya. Lucu juga novelnya jadi alur mundur gitu ya. Kayak yang pertama kan Dilan 1990, 1991, dst.
Dilan versi kecil di novel 1983 ini kelihatan beda dari Dilan yang kita kenal di film, tapi justru di situ menariknya. Bukan soal gombalan, tapi lebih ke cerita bocah yang usil, polos, dan hidup di Bandung yang masih sederhana.
Memang karakter penulisan dari Pidi Baiq sangat kuat dan khas. Apalagi Novel DIlan ini lebih dikenal di kalangan masyarakat ya. Jadi gak sabar pengen nonton filmnya