5 Alasan Masuk Jurusan Keperawatan dan Pertimbangannya

Patah hati terbesar seorang ibu adalah melihat anaknya sakit.

Kalian punya cerita apa saat anak sakit, Playmates? Kalau saya, pengalaman pertama itu datang ketika si cikal dirawat pada usia sembilan bulan. Sekecil itu sudah harus berurusan dengan obat dan jarum suntik. Mungkin inilah salah satu alasan masuk jurusan keperawatan bagi banyak orang: keinginan untuk bisa merawat keluarga tercinta saat sakit.

Awalnya saya mengira si cikal hanya demam biasa, jadi cukup saya olesi bawang merah. Sebagai ibu baru, saya masih idealis – makanan sampai obat-obatan pun ingin saya siapkan sendiri. Padahal, kalau saya pikir sekarang, tidak semua makanan instan dan obat di pasaran itu buruk, ya.

Selama sembilan bulan itu, si cikal memang hanya pernah demam setelah imunisasi DPT. Jadi saat demam datang lagi, saya tidak curiga apa-apa. Sampai akhirnya saya menemukan bintik merah di kulitnya.

Benar saja. Tengah malam itu saya membawanya ke Puskesmas dan dokter menyatakan si bayi terkena demam berdarah. Bagai tersambar petir di siang bolong. Kejadian itu sempat membuat saya merasa gagal sebagai seorang ibu.

Akan tetapi, rupanya patah hati saya belum selesai. Empat tahun kemudian, si cikal kembali harus dirawat karena DBD dan typus. Di kali kedua itu, saya sudah lebih dewasa dan tenang dalam menghadapinya, meski tetap saja menyesakkan.

Dari dua pengalaman itu, saya jadi makin memperhatikan profesi perawat. Mereka bekerja bergantian siang dan malam. Dalam hati saya bertanya-tanya: Bagaimana mungkin seseorang rela meninggalkan keluarganya malam-malam hanya untuk merawat orang lain? Bahkan bukankan pendidikannya pun cukup menantang?

Untuk menjawab rasa penasaran itu, yuk kita bahas, alasan masuk jurusan keperawatan – apa sebenarnya yang mendorong seseorang memilih profesi yang penuh dedikasi?

Alasan Masuk Jurusan Keperawatan

Mengapa Anda mempelajari keperawatan?

Selama seminggu penuh si cikal menjalani perawatan. Hati saya pilu melihat bayi yang biasanya ceria mendadak lesu. Beruntung, ada suami yang mendampingi dan membatu. Juga para tenaga kesehatan yang begitu telaten dan peduli.

Di tengah suasana yang menyuburkan segala kekhawatiran, ada setitik ketenangan yang saya rasakan karena para nakes selalu ada – terutama perawat yang stand by 24 jam. Mereka bersedia kerepotan tengah malam hanya untuk membenarkan selang infus yang macet. Tidak semua orang bisa tulus melakukannya.

Berikut lima alasan masuk jurusan keperawatan yang  kerap membuat seseorang rela menomorduakan kenyamanan pribadi maupun waktu bersama keluarga demi menjalani tuntutan profesi. Poin-poin ini saya adaptasi dari konten Instagram milik sebuah akademi keperawatan.

Ketersediaan Lapangan Kerja

Di tengah maraknya profesi baru di era digital, kebutuhan akan tenaga perawat tetap stabil bahkan cenderung meningkat. Seiring kemajuan negara, fasilitas kesehatan makin berkembang dan menjangkau pelosok, sehingga peluang kerja bagi lulusan keperawatan makin terbuka lebar.

Meski dokter memegang peran dalam pemeriksaan umum, perawatlah yang paling sering berinteraksi dengan pasien. Karena itu, profesi ini kerap menjadi wajah pelayanan kesehatan – menjadikannya salah satu posisi yang hampir selalu dibutuhkan di berbagai tempat.

Dorongan Orang Tua

Menurut saya, profesi perawat hingga kini masih menjadi menantu idaman bagi banyak orang tua. Skill yang perawat miliki – mulai dari kemampuan merawat hingga ketenangan dalam menghadapi situasi genting – memberi rasa aman, terutama bagi mereka yang sudah lanjut usia. Kehadiran seorang perawat di keluarga seolah membawa penenang alami.

Karena itulah, banyak orang tua yang mendorong anaknya untuk berkecimpung di dunia kesehatan. Mereka pun tak ragu merogoh kocek lebih dalam, mengingat pendidikan untuk menjadi tenaga kesehatan umumnya memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Mengincar Posisi PNS

Jalan dan rezeki setiap orang memang berbeda. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa setelah menyelesaikan pendidikan kesehatan, seseorang pasti akan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun, faktanya, kuota di kementerian maupun pemerintahan daerah cukup banyak menyerap lulusan jurusan kesehatan. Hal inilah yang membuat banyak lulusan keperawatan mencoba peluang tersebut.

Bagi sebagian orang, merintis karier yang jalurnya jelas – meski mungkin butuh waktu hingga sepuluh tahun lebih – terasa lebih masuk akal daripada mengejar hal yang penuh ketidakpastian. Mereka memilih menapaki jalan panjang yang dianggap ada ujungnya, alih-alih jalan lain yang belum tentu benar-benar ada.

Ingin Membantu keluarga dalam Kesehatan

Mengapa seseorang memilih menjadi perawat?

Alasan ini sempat terlintas dalam benak saya saat si cikal harus dua kali mendapat perawatan intensif. Rasanya, jika saya punya kemampuan sebagai perawat, saya bisa lebih sigap dan tenang merawat keluarga yang sakit.

Memang, untuk penyakit tertentu, pasien harus ditangani tenaga kesehatan di fasilitas yang lengkap. Namun, memiliki latar belakang keperawatan jelas menjadi nilai lebih – setidaknya kita paham tanda bahaya, bisa melakukan pertolongan pertama, dan tahu kapan harus segera membawa pasien ke rumah sakit.

Dengan adanya perawat dalam sebuah keluarga, penanganan menjadi lebih cepat tanpa harus mengantre karena langsung ditangani di rumah. Pertimbangan ini tentu menjadi alasan kuat seseorang memilih masuk jurusan keperawatan.

Mengaplikasikan Ilmu dan Membatu Orang Lain

Dari semua, alasan masuk jurusan keperawatan yang satu ini memang terasa paling mulia. Bukan berarti alasan lain tidak sah, tetapi yang ini menunjukkan ketulusan. Apa pun yang datang dari hati akan sampai ke hati juga.

Orang yang mempunyai motivasi ini biasanya lebih menikmati proses belajar maupun praktik. Tugas-tugas terasa lebih ringan karena membantu orang lain sudah menjadi panggilan jiwanya, bukan sekadar tuntutan.

Penutup

Dalam hal apa pun, kita selalu membutuhkan alasan agar langkah yang diambil terasa lebih bermakna. Terlebih ketika menyangkut hal-hal yang akan berlangsung lama seperti pekerjaan. Di sinilah pemilihan kampus menjadi krusial – pondasi awal menuju profesi yang kita impian.

Jika kalian berniat menjadi perawat, rawatlah alasan itu hingga benar-benar mengantar pada cita-cita. Alasan yang baik akan membawa hal-hal baik pula. Setelah yakin bahwa perawat adalah pilihan hidup, jangan ragu segera daftar Akper di kampus yang tepercaya dan memiliki rekam jejak yang baik.

Alasan masuk jurusan keperawatan tidak harus selalu sama pada setiap orang. Namun pada akhirnya, semua akan bertumbuh dalam tujuan yang serupa – mengobati orang yang sakit dengan pelayanan terbaik, bahkan saat diri sendiri sedang berpolemik. Jadi, kalian sudah siap melangkah menjadi perawat berdedikasi, Playmates?

8 pemikiran pada “5 Alasan Masuk Jurusan Keperawatan dan Pertimbangannya”

  1. Merasakan benar kehadiran para nakes, termasuk perawat di dalamnya ketika kita sedang sakit. Beberapa kali anggota keluarga gantian diopname, para perawat menjadi salah satu yang berada di garda terdepan membantu segala proses ketika kita di rumah sakit. Bahkan dulu ketika ibu mertua sakit dan merasa bosan bolak-balik ke rumah sakit karena kondisi fisik, akhirnya kita meminta perawat, terapis dan dokter untuk ke rumah untuk membantu mengurusi keperluan medis ibu

    Balas
  2. Tulisan ini hangat banget dan ngena di hati, Pengalaman pribadi yang dibagikan bikin alasan masuk jurusan keperawatan jadi terasa hidup, bukan sekadar teori. Sebagai orang awam, aku jadi makin sadar betapa besar peran perawat, terutama soal kesiapsiagaan dan empati yang mereka punya. Poin ingin membantu keluarga itu relatable banget, apalagi buat orang tua. Artikelnya bisa jadi bahan renungan sekaligus motivasi buat yang lagi galau milih jurusan.

    Balas
  3. Tak dapat dimungkiri, kebutuhan tenaga medis baik perawat maupun dokter semakin hari semakin meningkat, karena jumlah penduduk pun semakin bertambah bukan, Jangan sampai kebutuhan perawat ini terpenuhi karena diisi tenaga asing

    Balas
  4. Aku sepakat ya kalau perawat itu wajahnya dunia kesehatan. Karena memang merekalah garda terdepan bagi pasien. Apalagi kalau pernah ngerasain rawat inap, meskipun dokternya baik, kalau perawatnya jutek..aku bakalan ogah kesana lagi. Luar biasa perawat yang sabar dan murah senyum. Salut.

    Balas
  5. Membaca pengalaman Mbak Monic saat si cikal sakit DBD bikin ikut nyesek. Memang di momen kritis seperti itu, kehadiran perawat yang telaten dan stand by 24 jam itu sangat menenangkan. Setuju banget kalau profesi ini butuh ketulusan luar biasa. Ulasan yang sangat menyentuh dan informatif!

    Balas
  6. Ada keinginan buat anakku bisa sekolah nakes, soalnya dikalangan keluargaku untuk nakes itu jarang banget. Bukan hanya sekedar bangga, biar keluar mainset keluarga guru dan pns aja sih

    Balas

Tinggalkan komentar