Meneladani Nabi Ibrahim, Sebuah Refleksi di Tengah Hari Raya

Setiap kita adalah Ibrahim dan setiap Ibrahim punya Ismail.
Ismailmu mungkin hartamu.
Ismailmu mungkin jabatanmu.
Ismailmu mungkin gelarmu.
Ismailmu mungkin egomu.
Ismailmu adalah sesuatu yang kau sayangi dan kau pertahankan di dunia ini.
Ibrahim tidak diperintah Allah untuk membunuh Ismail, Ibrahim hanya diminta Allah untuk membunuh rasa kepemilikan terhadap Ismail, karena hakikatnya semua adalah milik Allah.

Siapa yang sudah tidak asing mendengar quote ini, Playmates? Setiap momen Idul Adha datang pasti banyak yang men-share kata-kata tersebut. Dari banyaknya kutipan perihal Hari Raya Qurban, menurut saya kata-kata inilah yang paling relevan dan bisa menjadi jalan pembuka untuk meneladani Nabi Ibrahim.

Entah siapa penulis asli kata-kata di atas, tetapi setahu saya, Ika Natassa-lah yang awal mula mengunggahnya di media sosial. Dia tidak mengetahui orang di balik kata-kata itu, tetapi novelis itu begitu terkesan dengan makna di dalamnya.

Puluhan tahun hidup di dunia, entah sudah berapa ratusan kali saya membaca ataupun mendengar kisah Nabi Ibrahim. Kisah yang begitu menggerarkan perihal perintah Allah agar Ibrahim menyembelih anaknya, Ismail.

Selama ini, saya memaknai kisah tersebut sebagai ketaatan seorang nabi. Betapa Nabi Ibrahim sangat ikhlas mengorbankan anaknya, bahkan juga meninggalkan istri dan anak di padang pasir yang tandus. Nabi Ibrahim tidak meminta penjelasan dari Allah, hanya “Sami’na waatho’na.”

Saat pertama kali membaca kutipan anonim yang di atas, saya langsung tersentak karena menemukan insight baru perihal kisah meneladani Nabi Ibrahim.

Ternyata jika merenungi kisah tersebut secara mendalam, kita bisa sampai pada pemahaman. Bahwasannya Idul Adha itu sebenarnya adalah pengingat agar menanggalkan kemelekatan atas apa pun yang kita anggap sebagai milik kita.

Meneladani Nabi Ibrahim

Meneladani Nabi Ibrahim yang sabar ketika menghadapi ujian dari Allah

Pernahkah terlintas di pikiran kalian, Playmates, di antara banyaknya nabi mengapa Allah memilih Nabi Ibrahim yang menjalani ujian ini? Saya kerap merenungkannya dan Alhamdulillah saya menemukan jawabannya di channel Youtube Ustadz Abdul Somad Official.

Ustadz Somad mengatakan bahwa setidaknya ada dua jawaban atas pertanyaan tersebut. Kalian bisa menebak apa itu?

Pertemuan Tiga Nasab

Selama ini, kita mengenal bahwa agama samawi itu ada tiga, yakni Yahudi, Nasrani, dan Islam. Ketiganya memiliki sosok kehormatan. Nabi Musa bagi Yahudi, Nabi Isa bagi Nasrani, dan Nabi Muhammad bagi Islam.

Allah memilih Nabi Ibrahim karena Nabi Ibrahimlah yang menjadi pertemuan dari tiga nasab tersebut. Sebenarnya nasab itu bertemu di Nabi Adam juga, tetapi dipilih yang terdekat.

Nabi Ibrahim Sempurna dalam Menjalani Ujian Hidup

Dalam umurnya yang panjang, Nabi Ibrahim mengalami banyak ujian dalam hidupnya, tetapi beliau mampu menjalaninya dengan sempurna.

Berhadapan dengan Ayah Kandung

Sikap teladan yang pertama bisa kita lihat dari sosok Nabi Ibrahim adalah sikapnya kepada sang ayah. Ayahnya yang bernama Azar merupakan pembuat patung sesembahan. Nabi Ibrahim menyerukan kepadanya agar hanya menyembah Allah.

Akan tetapi sang ayah menolak. Nabi Ibrahim tidak patah arang, dengan penuh kasih sayang, beliau tetap mendoakan agar ayahnya bertaubat. Meskipun Allah tidak mengabulkan doa tersebut, tetapi Nabi Ibrahim telah menujukkan akhlak terpuji pada orang tua.

Berhadapan dengan Umat yang Percaya Astrologi

Lagi lagi Nabi Ibrahim berhadapan dengan orang-orang yang tidak memiliki akidah yang tidak lurus. Astrologi berarti percaya bahwa peredaran benda-benda langit berpengaruh pada nasib.

Padahal itu merupakan sebuah kebohongan. Sekalipun ada yang sesuai, itu merupakan sekadar kebetulan.

Nabi Ibrahim membantah pendapat mereka dengan mengatakan bahwa jika bulan itu tuhan, mengapa ia menghilang di siang hari. Dan, jika matahari itu tuhan, mengapa ia tidak ada di malah hari.

Banyak yang beranggapan bahwa Nabi Ibrahim mencari tuhan, padahal sebenarnya beliau menerima wahyu yang Allah kirimkan melalui Malaikat Jibril. Itulah bedanya filsuf dengan nabi.

Saat Nabi Ibrahim mempertanyakan, “Apakah bulan itu tuhan? Apakah matahari itu tuhan?” Seyogyanya, beliau sedang membantah pendapat para ahli astrologi. Dan, beliau lulus. Ini pun sikap yang bisa kita teladani dari sosok beliau.

Berhadapan dengan Penyembah Patung

Nabi Ibrahim masih harus berhadapan dengan orang-orang musyrik. Mereka adalah para penyembah berhala. Pasti kalian sudah mengetahui kisah Nabi Ibrahim yang menghancurkan banyak patung, tetapi beliau menyisakan patung paling besar.

Setelah itu, beliau menyampirkan kapak di pundak patung tersebut.
Saat orang-orang itu kembali, mereka terkejut tuhan-tuhannya telah hancur.

Apalagi ketika Nabi Ibrahim mengatakan bahwa patung paling besarlah pelakunya. Nabi Ibrahim membuat mereka mati kutu dengan permainan logika. Sudahkah memaksimalkan daya berpikir logis kalian, Playmates?

Susah Punya Anak

Nabi Ibrahim mempunyai seorang Istri bernama Sarah. Mereka tidak punya anak dalam jangka waktu yang lama. Kemudian beliau menikah kembali dengan Hajar. Singkat cerita, Hajar melahirkan Ismail saat Nabi Ibrahim berusia 86 tahun.

Kebayang nggak betapa panjangnya penantian Nabi Ibrahim dan betapa besarnya kasih sayangnya pada anak yang telah lama beliau inginkan? Namun, Allah memerintahkannya untuk mengantarkan anak tersebut.

Nabi Ibrahim mengantar Ismail dari tanah kelahirannya, Palestina, ke Mekkah di sebuah lembah tanpa tanaman, di dekat baitullah. Sedangkan Nabi Ibrahim kembali ke Palestina. Namun, seperti ujian yang lain, beliau pun lulus melewatinya.

Penutup “Meneladani Nabi Ibrahim, Sebuah Refleksi di Tengah Hari Raya”

Setelah lulus berbagai ujian, Allah memberikan sebuah misi kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Misi itu adalah meninggikan fondasi ka’bah.

Saat Nabi Ismail diantarkan ke Mekkah, Ka’bah sudah ada. Namun, tempat ibadah itu hancur setelah air bah menerjangnya pada zaman Nabi Nuh.

Setelah selesai merenovasi Ka’bah, Nabi Ibrahim meminta Allah untuk mengajarkannya cara ibadah. Kemudian Allah memerintahkan ibadah haji. Hingga kini, Ka’bah selalu ramai oleh orang-orang yang beribadah. Masyaallah.

Kembali ke kutipan indah di awal artikel, bahwasannya momen Idul Adha itu bisa menjadi reminder bagi kita untuk melepaskan diri dari rasa kepemilikan. Apa pun bentuk “Ismail”-nya, sejatinya ia tidak pernah benar-benar kita miliki.

Lebih lanjut, dari sejarah singkat di atas kita harus bisa meneladani Nabi Ibrahim yang selalu taat kepada Allah. Selain itu, Nabi Ismail pun sabar dalam menjalani takdirnya. Hajar pun tidak putus asa ketika sedang mencari air. Pada akhirnya, semoga ini menjadi teladan bagi kita agar bisa mempunyai keluarga yang solid dalam menghadapi ujian dari Allah agar bisa berkumpul di surga-Nya kelak. Wallahu a’lam.

5 komentar untuk “Meneladani Nabi Ibrahim, Sebuah Refleksi di Tengah Hari Raya”

  1. jadi teringat nabi ibrahim ketika sedang berjuang mencari tuhan, bahkan matahari sekalipun beliau anggap sebagai tuhan, meskipun pada akhirnya matahari itu hilang ditelan malam. sangat inspiratif

  2. Membaca ulang kisah nabi Ibrahim, aku jadi ingat tentang sejarah sa’i. Berkali-kali Ibunda Hajar mondar-mandir dari safa ke marwa untuk mencari air, hingga akhirnya percikan air justru muncul dari hentakan kaki bayi Ismail. Itulah ujian tawakkal yang berhasil ditaklukkan mereka. Dalam memperjuangkan sesuatu, Allah ingin melihat kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan dari hambanya dalam menjalani segala prosesnya. Hasil akhir, sepenuhnya ada dalam kuasa Allah.

  3. Banyak pembelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Ibrahim baik dari segi agama yang taat atas perintah Allah dengan sangat yakin, dari segi sosial, dan menjadikan refleksi u/ diri

  4. Nabi Ibrahim dalam perjalanannya menemukan Tuhan, merupakan bentuk nasehat secara halus kepada kita bahwa manusia dengan akalnya seharusnya bisa menemukan kebesaran Tuhan yang banyak tersebar di seluruh jagat ini

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top