Novel Lima Sekawan Ke Sarang Penyelundup: Petualangan di Rumah Tua Penuh Rahasia

Seharusnya kau hidup seratus tahun yang lalu.

Tudingan si Hangus tersebut pada seseorang dalam salah satu judul novel Lima Sekawan membuat saya termenung beberapa saat. Saya menghitung mundur demi bisa masuk lebih jauh lagi dalam atmosfer cerita yang Enid Blyton bangun.

Novel yang beberapa waktu lalu saya baca berjudul Ke Sarang Penyelundup. Buku ini rilis untuk pertama kali di Inggris pada tahun 1945. Wah, tahun yang sama dengan kemerdekaan negara kita, ya, Playmates.

Kembali pada ucapan si Hangus—salah satu karakter yang muncul pada seri keempat Lima Sekawan ini. Jika ia mengatakan itu pada tahun 1945, berarti seratus tahun sebelumnya adalah sekitar 1985.

Dari sini, saya menjadi mendapat gambaran bahwa pada sekitar abad 19, aktivitas penyelundupan di Inggris merupakan sesuatu yang tidak sulit dijumpai. Terutama di daerah pesisir, sama halnya seperti lokasi rumah si Hangus.

Mungkin kata-kata di atas hanya sebuah dialog dari novel anak-anak klasik. Namun, dari kata-kata itulah saya jadi lebih memperhatikan detail sejarah dan rentang waktu yang begitu panjang. Apalagi jika kita menariknya ke masa sekarang di 2026. Sungguh telah banyak yang berubah, ya. Kalian sudah membaca novel Lima Sekawan yang ini?

Table of Contents

Novel Lima Sekawan

Semenjak tahu koleksi novel Lima Sekawan di perpustakaan sekolah anak cukup lengkap, saya berniat untuk rutin nebeng meminjamnya. Namun, saya tidak bisa sekenanya karena si cikal belum tertarik membaca novel. Jadi, dalam satu bulan saya paling hanya membaca satu judul, agar tak mengganggu semangat membacanya.

Sebelumnya, saya sudah membaca Memburu Kereta Hantu dan kali ini berkesempatan menamatkan Ke Sarang Penyelundup. Saya memang tidak membacanya secara berurutan—sedipinjamkannya si cikal saja. Terlebih, novel-novel Lima Sekawan ini memang bisa kita ikuti meski membacanya secara acak.

Bagi kebanyakan orang, kisah petualangan Julian, Dick, George, Anne, dan Timmy ini tak ubahnya sebuah nostalgia. Namun, bagi saya ia merupakan kawan kecil yang baru saya temui di usia dewasa. Tidak seperti Detective Conan yang menjadi kepingan masa lalu yang tetap menemani hingga masa kini.

Meski berstatus kawan baru, saya tetap ingin mengikuti setiap petualangan yang mereka hadapi. Label novel anak-anak bukan halangan bagi saya untuk turut serta dalam keseruan mereka. Saya baru baca dua dan ke depannya ingin menamatkan 19 judul novel Lima Sekawan lainnya.

Identitas Buku

  • Judul: Lima Sekawan: Ke Sarang Penyelundup (Five Go to Smuggler’s Top)
  • Penulis: Enid Blyton
  • Seri: ke-4 dari 21
  • Alih Bahasa: Agus Setiadi
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tebal: 272 hlm; 18 cm
  • Cetakan ke-31 : Oktober 2024
  • ISBN: 9786020321240

Sinopsis Ke Sarang Penyelundup

Libur telah tiba. Lima Sekawan—Julian, Dick, George, Anne, dan Timmy—membuat rencana untuk menghabiskan masa liburan di Pulau Kirrin. Di sana terdapat rumah orang tua George, yang berarti tempat tinggal bibi dan paman dari anak-anak yang lain.

Meski Ayah George—Paman Quentin—bukan tipe orang yang mengasikkan, mereka tetap tak sabar ingin segera sampai Pondok Kirrin. Setidaknya di sana ada Bibi Fanny yang baik hati.

Paman Quentin merupakan seorang ilmuwan. Ia kerap melakukan penelitian demi penemuan baru. Karenanya, ia tidak suka keributan, yang mustahil bisa dihindari kalau ada George dan saudara-saudaranya di rumah.

Begitu anak-anak sampai di Pondok Kirrin, Paman Quentin memberitahu bahwa ia punya teman sesama ilmuwan yang mempunyai anak seumuran Dick. Kejutannya, Julian dan Dick mengenal anak tersebut karena belajar di sekolah dan tinggal di internat (semacam asrama) yang sama. Anak itu bernama Pierre Lenoir, tetapi biasa dipanggil si Hangus.

Kedua ilmuwan itu bersepakat bahwa si Hangus akan bergabung dengan George dan yang lainnya di Pondok Kirrin. Namun, angin besar yang memporak-porandakan tempat itu menyebabkan sebuah pertukaran—George dan saudara-saudaranya yang jadi menginap di rumah si Hangus.

Sayangnya, petualangan itu membutuhkan pengorbanan. Ayah tiri si Hangus tidak menyukai anjing, yang artinya Timmy tidak boleh ikut dalam perjalan kali ini. Apakah George akan menyerah dalam hal ini?

Anak-anak tertarik untuk mengunjungi kediaman si hangus setelah mendengar rumahnya memiliki nama Sarang Penyelundup. Bukankah dari namanya saja sudah tercium aroma misteri dan petualangan?

Benar saja, tidak lama sampai di rumah yang terletak di bukit yang dikelilingi rawa tersebut, si Hangus sudah menunjukkan pada anak-anak bahwa rumah tersebut penuh dengan pintu dan lorong rahasia.

Di malam-malam yang sunyi, anak-anak mulai merasakan ada yang janggal. Mulai dari tetangga yang rumornya merupakan seorang penyelundup bernama Pak Barling, lampu mercusuar yang tampak memberikan kode, hingga sosok asing yang menghilang begitu saja di kamar Block.

Tinggalkan komentar