Lima Sekawan Enid Blyton: Misteri Rawa Rahasia dan Kaum Kelana

Anak lelaki dari kaum kelana itu dijuluki si ingus, tidak ada yang tahu nama sebenarnya.

Selama membaca Lima Sekawan Enid Blyton yang berjudul Rawa Rahasia ini, saya agak terganggu dengan gerak-gerik si ingus. Dari nama panggilannya, tentu kalian bisa menebak bagaimana penulis menggambarkan “masalah” yang ia hadapi.

Mungkin hal seperti itu sepele dan tidak terlalu memengaruhi jalan cerita juga. Namun tiap membaca bagian tersebut, saya jadi terlalu dalam membayangkan penampakan si ingus ini.

Si ingus merupakan salah satu karakter pendukung yang muncul dalam serial Lima Sekawan jilid 13. Selain anak dari kaum kelana itu, ada juga Henry dan Willliam. Biasanya di tiap seri memang ada anak lain yang melengkapi petualangan Julian, Dick, George, Anne, dan Timmy.

Di seri sebelumnya yang saya baca (Ke Sarang Penyelundup) juga ada anak yang bernama si hangus. Unik, ya, nama-nama panggilan yang penulis ciptakan. Bagi yang menggemari Lima Sekawan, siapa karakter pendukung favorit kalian?

Lima Sekawan Enid Blyton

Di buku ketiga Lima Sekawan Enid Blyton yang sudah dibaca ini, saya merasa makin masuk dengan atmosfer yang penulis bangun. Saya mulai mengenal karakter tiap tokoh, juga pola ceritanya.
Meski memiliki label novel anak, saya tetap menyukainya. Bagi saya, cerita misteri paling menarik tidak melulu ditentukan oleh trik yang paling sukar ditebak. Banyak faktor yang memengaruhinya.

Dalam hal ini, saya tertarik dengan latar tempat dan waktunya. Selain itu, dengan membaca novel anak, secara tidak langsung saya pun mempelajari cara penulis menyajikan bacaan untuk segmen anak-anak.

Ini baru tiga, masih ada 18 seri lagi dari Lima Sekawan Enid Blyton. Rasanya saya ingin segera membaca semuanya. Kalian sudah baca judul yang mana saja, Playmates? Yang Rawa Rahasia sudah belum? Kalau belum, don’t worry be happy, saya tuliskan ulasannya berikut. let’s check this out.

Identitas Buku

  • Judul: Lima Sekawan: Rawa Rahasia (Five To Go To Mystery Moor)
  • Penulis: Enid Blyton
  • Seri: ke-13 dari 21
  • Alih Bahasa: Agus Setiadi
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tebal: 248 hlm; 18 cm
  • Cetakan ke-26 : Agustus 2024
  • ISBN: 9786020321691

Sinopsis

Pada liburan kali ini, Lima Sekawan memiliki agenda yang berbeda. Julian dan Dick berkemah, sementara Anne dan George—tentu serta Timmy—berlatih berkuda di istal milik Kapten Johnson.

Anne sangat menikmati kegiatannya di istal. Namun, tidak demikian dengan George. George kesal karena di sana ada yang mirip dengannya—seseorang yang juga ingin dianggap sebagai anak lelaki. Sama halnya Georgina yang lebih suka disapa george, anak itu, Henrietta, juga lebih suka dipanggil Henry.

Persamaan yang ada tidak menumbuhkan kekompakan. George dan Henry malah kerap terlihat bersaing. Bukan hanya Anne dan teman-teman lain yang berada di istal, Kapten Johnson pun sudah muak dengan tingkah mereka.

George yang sudah ingin meninggalkan istal harus bersabar lebih lama. Ia dan Anne diminta tinggal di sana lebih lama karena ayahnya sedang sakit dan butuh istirahat. Tentunya Pak Quentin ingin beristirahat tanpa terganggu keributan anak-anak.

Untungnya, rasa kesal George terobati dengan datangnya kabar bahwa Julian dan Dick akan menyusul ke istal. Kabar ini disambut hangat oleh semua penghuni tempat itu, tidak terkecuali Henry. Di hari kedatangan mereka, Henry bahkan berhasil membuat George kesal.

Pasalnya, Anne dan George malah sedang keluar saat Julian dan Dick meminta untuk dijemput. Akhirnya, Henry yang menawarkan bantuan dan sukses memberikan kesan pertama yang baik pada Julian dan Dick.

Selama di istal, anak-anak membantu mengurus kuda-kuda dan melakukan berbagai pekerjaan. Setelah luang, mereka berkuda ke padang hingga rawa. Menariknya rawa tersebut kerap didatangi kaum kelana yang menggunakan karavan. Lima Sekawan penasaran dengan apa yang hendak mereka lakukan di sana.

Terlebih, kuda terluka milik salah seorang kaum kelana sempat dititip di istal. Namun, sang pemilik tidak sabar hendak mengambilnya kembali. Katanya mereka harus segera pergi ke rawa rahasia. Hal ini makin menguatkan dugaan bahwa memang ada sesuatu yang mencurigakan di sana.

Ulasan

Ciri khas lima sekawan tuh pasti ada kehadiran lorong rahasia dan waktu pasti liburan, tapi mereka ga menua secara timeline usia walaupun sering liburan di setiap judulnya.

Kalimat yang diakhiri dengan emoticon tertawa ngakak di atas merupakan komentar dari salah seorang rekan blogger yang mampir ke tulisan saya sebelum ini. Tampaknya ia juga menggemari kisah Lima Sekawan sampai hapal detail-detailnya.

Tinggalkan komentar