Puluhan tahun hidup tanpa tradisi merayakan ulang tahun membuat Mei tampak tak jauh berbeda dengan bulan lainnya. Setelah melewati tiga dekade, perlahan saya berhenti menghitung.
Tak jarang saat mengisi kolom—entah untuk data job blog atau data orang tua siswa—saya memerlukan beberapa detik untuk memastikan berapa umur saya persisnya. Setelah melewati usia kepala tiga, rasanya tak penting lagi angka berapa yang mengekor di belakangnya.
Akan tetapi, makin banyak perubahan yang terasa pada fisik, makin bising pula suara-suara yang mengusik. Suara-suara itu berisik seperti hendak menghardik: “Hai, harus menunggu berapa kali tanggal lahir berulang, hingga kamu sadar bahwa selama ini kamu tidak berkembang?”—sebuah kegelisahan yang perlahan mengarah pada titik balik menulis di hidup saya.
Saat Menulis Belum Mengenal Kata Serius
Ketika melihat orang-orang yang baru keranjingan media sosial, saya tak berani menghakimi atau menertawakan. Saya kerap teringat aib di masa lalu saat pertama tahu Facebook. Segala macam ujaran dan gambar memenuhi beranda setiap hari.
Sekitar 2010-an, saya rajin menyambangi warnet. Ada saja hal yang ingin saya bagikan di FB. Saat itu, kata-kata di status tidak bisa terlalu panjang, sementara banyak hal yang ingin saya tuliskan. Karenanya, saya kerap menulis pada fitur catatan.
Lama kelamaan, saya menyadari membutuhkan ruang yang lebih khusus untuk menulis. Saat itu tulisan saya full curhatan yang kalau saya baca lagi sekarang membuat geleng-geleng kepala.
Singkat cerita, saya membuat sebuah akun di Blogspot—tentu versi gratis. Pengetahuan saya waktu itu belum sampai pada fakta banyak orang yang berprofesi sebagai blogger profesional dengan domain berbayar.
Yang saya tahu hanya menulis—meski tidak serius—dan beberapa kali ganti tema tanpa mengotak-atiknya. Seorang diri saya menapaki dunia kepenulisan, tanpa guru, tanpa kawan.
Pada masa itu, saya merasa cukup keren saat melihat link blog ditautkan di profil FB. Rasanya, saya punya hal istimewa yang tidak semua orang bisa. Padahal, tidak ada yang peduli juga.
Seperti yang bisa ditebak, saya tidak banyak berkembang. Saya tidak ingin menyebutnya sebagai sesuatu yang percuma, bagaimana pun itu adalah penyangga. Namun, melangkah di jalan mana pun akan terseok jika kita tidak tahu ke arah mana harus berbelok—barangkali di sinilah jalan menuju titik balik menulis itu mulai terbuka, meski belum saya sadari sepenuhnya.
Saat Menulis Kian Terlupakan

Seiring waktu, hasrat untuk hidup di dunia Facebook makin redup. Warganet satu-satu pindah haluan ke Instagram—yang lebih fokus pada gambar. Saya pun ikut arus dan mulai menjajal IG. Tak ada lagi curhatan, tak ada lagi unggahan berlebihan.
Umur pun tampaknya memberikan kontribusi pada persepsi bahwa berbagi apa pun di media sosial tak lagi terlalu berarti. Dunia nyata kembali meraja, terlebih isu pernikahan di usia panik mulai menyapa.
Mencari “sebongkah berlian”, menemukan pasangan, hingga menimang momongan lebih dari cukup untuk membuat menulis kian terlupakan. Terlebih, saya belum terpapar kesadaran bahwa writing bisa juga untuk healing.
Di tengah jeda yang panjang itu, saya mulai menyadari satu hal—bahwa menulis tak pernah benar-benar hilang dari hidup saya. Aktivitas menuangkan kata-kata itu hanya mengambil jatah sedikit waktu dari panjangnya perjalanan hidup. Namun, tanda-tanda keterkaitan dengan itu sudah ada sejak saya kecil.
Masih membekas dalam ingatan, ibu begitu takjub saat saya bisa menjawab cukup panjang untuk soal latihan esai. Saya pun pernah mewakili sekolah dalam lomba mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat kecamatan. Tak ketinggalan, saya juga pernah mengikuti lomba menulis yang diadakan sebuah majalah—sebuah fase kecil yang turut menjadi fondasi.
Setelah itu, menulis terlupakan hingga belasan tahun kemudian saya merasakan dorongan untuk menulis curhatan di blog. Masa itu ternyata berlangsung sebentar. Saya tidak banyak berkembang.
Hingga kemudian sepuluh tahun berlalu, saya mendengar lagi suara-suara masa lalu. Ternyata saya benar, keinginan menulis tak pernah benar-benar mati. Ia hanya bersembunyi, menunggu dipanggil kembali—seolah menuntun saya selangkah lagi mendekati titik balik menulis yang sebenarnya.
Saat Menulis Menemukan Arah
Terkadang, kita membutuhkan dorongan orang lain untuk menemukan jalan yang selama ini dicari. Begitu pun yang terjadi pada saya saat tiba-tiba bisa melihat arah menulis yang sebelumnya tampak buntu.
Seorang teman tak henti mengajak untuk ikut sebuah tantangan menulis. Katanya, saya pasti bisa melewati tantangan menulis selama tiga puluh hari tanpa putus. Tentu, saya tak mempercayainya. Saya merasa itu mustahil mengingat saya dalam fase membersamai anak usia tiga tahun dan newborn.
Dia tak menyerah dan akhirnya saya mengalah pada ajakan tersebut di batch selanjutnya. Tantangan tersebut membuat saya bisa melihat lebih jelas kemampuan konsistensi menulis yang saya miliki.
Sekarang saya begitu berterima kasih padanya. Berkat keyakinannya, saya bisa memiliki dua buku solo dan delapan antologi bersama. Dalam kurun waktu satu tahun, saya berjibaku dari satu lomba ke lomba lain. Waktu itu saya lebih tertarik pada tulisan fiksi.
Dalam perjalanannya, saya menemukan arah lain. Saya kembali melirik blog dan kali itu memilih WordPress sebagai rumah bagi suara-suara di kepala—tentu berawal dari versi gratis.
Keinginan untuk dikenal sebagai penulis membuat saya rajin bergerilnya di Instagram. Saya mengusahakan agar engagement IG naik dengan saling follow, like, dan komentar dengan sesama creator yang membutuhkan.
Dari sanalah saya mengetahui banyak blogger yang tergabung dalam komunitas. Salah satu komunitas yang saat itu sedang aktif-aktifnya adalah Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN).
Saat Komunitas Membentuk Ritme Menulis

Saya tetap menulis, tetapi kemudian ada sedikit pergeseran. Yang tadinya gemar menulis fiksi, jadi lebih fokus mengisi artikel di blog. Setelah hampir setahun mengelola blog gratisan, saya memutuskan untuk beralih ke domain berbayar.
Ini merupakan satu langkah penting karena peralihan tersebut wujud keseriusan saya terjun di dunia blogging. Bak gayung bersambut, saat di puncak semangat itulah #IIDN menjadi rekan dan wadah untuk berkembang. Di titik inilah saya benar-benar merasakan titik balik menulis dalam perjalanan saya.
Saat itu IIDN kerap mengadakan lomba, tantangan, dan webinar. Programnya bervariasi, ada yang gratis dan ada yang berbayar. Cakupannya pun luas. Tidak hanya blogging, tetapi juga menulis buku, menyunting naskah, dan masih banyak yang lainnya.
Saya fokus di blogging dan memilih mengikuti program tidak berbayar. Meski begitu, ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan memiliki manfaat dalam perjalanan menulis di era digital seperti sekarang.
Keberadaan IIDN—yang kehadirannya bisa diakses secara online—memberikan kemudahan bagi ibu rumah tangga yang tetap ingin berkembang meski di rumah saja. Di sela kesibukan urusan domestik, saya bisa berkarya dan berdaya.
Kegiatan IIDN begitu mom friendly, mulai dari deadline lomba yang agak panjang hingga jadwal webinar yang sesuai jam istirahat para ibu. Panitia pun kerap membagikan file atau video rekaman, sehingga yang berhalangan hadir tetap tidak ketinggalan.
Di balik kelonggaran, di sana juga saya belajar disiplin. Ini terlihat dari aktivitas blogwalking. Jadwalnya tepat dan yang telat mendapatkan penalty tidak boleh ikut lagi dalam tenggat waktu tertentu.
Yang paling saya nantikan tentu lomba dan tantangan. Kemampuan menulis saya terasah karena langsung praktik untuk menyajikan yang terbaik. Tentu tidak langsung menang, tetapi artikel para juara merupakan bahan ajar yang nyata.
Fase itu tentu bukan akhir—hanya sekelumit kisah yang akan terus mengalir. Selama masih ada kebisingan di alam pikir, selama itu pula menulis tak ubahnya seperti takdir—perjalanan yang terus mengalir dan menemukan maknanya, seperti yang turut saya rayakan dalam #IIDNAnniversary.
Saat Menulis Menjadi Bagian dari Diri

Perjalanan panjang menulis—dari sekolah dasar hingga anak-anak mulai tumbuh besar—memberikan saya satu kesadaran. Bahwa mengenali diri sendiri tak lebih mudah daripada mencoba memahami orang lain.
Butuh puluhan tahun bagi saya untuk benar-benar mengetahui apa yang menjadi bagian dari diri, padahal petunjuk seringkali menghampiri. Satu hal yang kini saya yakini, menulis—baik secara dorongan ataupun potensi—tak pernah hilang juga pergi.
Meski pada kenyataannya, aktivitas menulis saya timbul dan tenggelam, itu tidak menghilangkan bagian diri yang selalu bersemayam. Ia tetap setia menunggu hingga ribuan malam.
Dua ribu dua puluh menjadi titik awal langkah serius saya di dunia kepenulisan. Meski pelan, sejak saat itu saya tak berhenti menuangkan baik khayalan maupun pikiran melalui tulisan.
Kemantapan saya itu tak lepas dari peran komunitas. Pengalaman sebelumnya ketika mencoba menulis tanpa arahan, kian memperjelas bahwa berkembang membutuhkan guru dan rekan.
Makin luas jaringan, makin terbuka berbagai kesempatan. Informasi webinar dan pekerjaan lebih mudah kita dapatkan. Selain itu, ilmu dan pengetahuan terbaru pun banyak yang membagikan.
Pada akhirnya, atmosfer yang mendukung tersebut mendorong kita lebih berani menerima tantangan. Kita tak ragu-ragu lagi untuk mengikuti berbagai lomba menulis. Yang ada hanya keinginan untuk terus meningkatkan keterampilan dan menguji mental.
Saya pribadi menjadikan lomba sebagai arena pembelajaran: bagaimana kita menghadapi kekalahan dan kemenangan. Dalam prosesnya pun kita belajar disiplin dan berusaha mengerahkan segala kemampuan.
Ini hanyalah sepenggal #AnniversaryWritingJourney dalam menemukan jati diri di dunia literasi. Bukan sesuatu yang megah ataupun mewah, ini sekadar perjalanan menemukan arah.
Penutup
Bagi saya, menulis tidak harus selalu menghasilkan karya tanpa henti. Adakalanya, justru jeda mampu menambah energi. Berjalan pelan bahkan tertatih pun tak membuat tulisan mati. Selama arah telah ditemukan, ritme dan fase sudah beda persoalan.
Seorang diri bukan berarti tak bisa bertumbuh. Namun, berkumpul bersama orang-orang yang memiliki kesamaan merupakan cara ampuh untuk menjaga semangat tetap utuh.
Di titik balik ini, menulis bukan lagi menjadi kegiatan iseng di waktu luang. Ia telah menjadi bagian diri saya yang selalu ada, terlepas naik-turunnya. Jika menulis pernah menjadi bagian perjalananmu juga, tidakkah kamu ingin kembali?