Alasan Menulis dan Rencana Ke depan Terkait Blog

Sebelumnya saya sudah pernah menyingung the big why dalam menulis. Kali ini saya akan menuliskannya kembali dengan lebih terperinci. Alasan menulis itulah yang membuat saya bertahan untuk tetap menekuninya hingga kini.

Entah sudah berapa kali saya menuliskan bahwa saya pertama kali tertarik belajar menulis itu pada April 2020. Selama satu tahun, saya fokus menulis cerita fiksi, hingga mempunyai dua buku solo dan delapan buku antologi bersama.

Baru pada 2021, saya memutuskan untuk lebih menekuni dua blogging. Baik menulis buku fisik, maupun menulis di blog, dua-duanya saya suka. Namun, untuk sekarang saya lebih tertarik untuk ngeblog.

Mempunyai blog itu ibaratnya punya rumah sendiri. Tidak ada yang mengedit cat warna favorit dan tidak ada juga yang merevisi desain interior yang kita pilih. Kecuali kalau sudah berhubungan dengan klien. Sekali kalian deal, ya, berarti harus nurut apa mau mereka.

Dalam perjalanan ngeblog ini, saya merasa terseok di skor DA (Domain Authority). Entah apa yang salah, saya belum menemukannya. Padahal skor PA (Page Authority), DR (Domain Rating), dan page view mengalami pergerakan.

Terkadang saya merasa gagal karena memiliki skor DA sekecil itu. Rasanya kok semua yang saya lakukan tidak ada artinya. Pelan-pelan saya sudah menerapkan SEO sederhana, tetap skornya stuck. Malah saat saya cek baru-baru ini, skor DA blog ini dengan blog satu lagi yang jarang saya urus, skor DA-nya sama. Nyesek, nggak, sih?

DA juga berpengaruh pada peluang untuk mendapatkan job. Ya, meskipun ada juga klien yang tidak mempermasalahkan DA. Namun, seringnya mereka masih menanyakan hal itu. Kalau sudah begini saya cuma bisa diam di pojokan.

Inilah mengapa menentukan alasan menulis itu sangat penting. Saat terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan kita bisa merenungkan apa yang sebenarnya kita kejar. Setelah saya kembali menengok the big why, perlahan rasa yang mengganggu itu pergi.

Alasan Menulis

Alasan menulis dan rencana ke depan terkait blog

Perkara DA dan job blog tidak lagi terlalu membebani pikiran setelah saya kembali ke titik nol. Hal-hal seperti itu tidak pernah menjadi my big why dalam menulis. Oleh karena itu, sudah seharusnya saya tidak terpaku pada persoalan itu saja.

Kerikil kecil ini menjadi momen tepat bagi saya untuk mengevaluasi alasan utama dalam menulis. Untuk me-refresh ingatan, saya tuliskan kembali apa the big why itu.

Passion

Alasan yang pertama adalah karena menulis itu passion saya. Passion tidak berarti kita melakukan hal yang selalu menyenangkan, ya, Playmates. Konon, passion itu justru penderitaan. Jadi maksudnya, untuk melakukan sesuatu yang menjadi passion, kita akan rela menderita. Sepakat nggak?

Kalau saya sepakat. Menulis itu tidak gampang. Kita harus banyak membaca, join kelas atau challenge menulis, riset, bahkan begadang. Itu semua pengorbanan, kan? Namun, kita bersedia melakukannya karena itu menang passion kita.

Media Dakwah

Saya memang belum sepenuhnya menulis hal-hal yang berkaitan dengan agama. Namun, dakwah itu tidak terbatas pada ceramah. Sesederhana kita menulis ajakan untuk membuang sampah di tempatnya pun bagi saya sudah termasuk dakwah.

Alasan itu pulalah yang menjadi pegangan saya dalam mem-branding diri sebagai penulis muslimah. Seorang penulis yang tidak terkait dengan perihal yang bertentangan dengan agama. Saya pastikan, saya hanya menulis hal positif karena setiap huruf di blog ini akan dimintai pertanggungjawabannya.

Memaksimalkan Potensi

Allah memberi kelebihan pada setiap makhluknya. Tentu kelebihan itu pun merupakan suatu amanah. Saya merasa berdosa jika tidak menjaga dan mengembangkan amanah itu dalam kebaikan.

Oleh karena itu, saya belajar untuk menulis dengan baik agar potensi itu bisa bertumbuh. Hingga kini saya masih berproses dan akan terus berproses untuk mencapai performa yang lebih baik.

Kebanggaan Diri

Saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang ibu rumah tangga. Namun, setelah saya menjalaninya, ternyata kondisi ini merupakan suatu nikmat yang luar biasa. Saya bisa membersamai anak-anak 24 jam dan menyaksikan setiap momen tumbuh kembangnya.

Akan tetapi di sisi lain, saya kerap merasa menjadi pribadi yang rendah diri. Dengan menulislah, saya mendapatkan secercah rasa bangga pada diri sendiri. Setiap setelah menyelesaikan tulisan, ada aliran hangat yang menyembuhkan luka batin selama ini.

Contoh untuk Anak

Selain menularkan kebiasaan membaca pada anak-anak, saya pun memberikan contoh melalui aktivitas menulis. Membaca dan menulis itu satu paket. Jadi, saya usahakan agar mereka gemar keduanya.

Untuk menulis, kita harus banyak membaca dan semakin banyak yang kita baca semakin kuat pula keinginan untuk menulis. Keduanya tidak bisa optimal kalau tidak diusahakan. Sebagai orang tua, saya memfasilitasi dan memberikan contoh baik pada anak-anak.

Rencana ke Depan Terkait Blog

The bog why dalam menulis

Kini alasan menulis itu telah tergambar kembali dengan jelas. Waktu memang bisa menggerus ingatan, jadi sudah seharusnya kita sesekali menengok ke belakang untuk mengingat kembali apa yang menjadi fondasi dalam menulis selama ini.

Setelah melihat titik nol, saatnya kembali ke masa kini untuk menentukan apa saja langkah yang akan diambil terkait masa depan. Demi terus belajar dan berkembang sebagai penulis, saya mempunyai beberapa rencana.

Memperluas Jaringan

Selama ngeblog, saya tidak terlalu gesit berkomunitas. Saya sudah bergabung dengan beberapa komunitas, tetapi kurang aktif. Hanya ada satu grup yang benar-benar menjadi tempat saya berinteraksi dengan blogger lain.

Saya ingin memperluas jaringan dengan bergabung ke komunitas blogger lainnya. Selain menambah ilmu dan pengalaman, komunitas pun bisa menjadi salah satu jalan untuk mendapatkan berbagai informasi terkini, salah satunya job.

Ikut Kelas Menulis

Dari awal ngeblog hingga kini saya menulis menggunakan ponsel. Ini membuat saya ragu untuk ikut kelas menulis. Saya khawatir tidak bisa mengikuti materi secara maksimal, terutama yang berkenaan dengan template.

Akan tetapi, saya akan membesarkan hati untuk menghadapi segala sesuatu lebih optimis. Apalagi saya ngeblog di WordPress, harusnya tidak akan ada bahasa pemrograman yang terlalu rumit.

Menjajal Kompetisi Blog

Akhir-akhir ini saya sering ketinggalan info kompetisi blog. Tahu-tahu sudah ada pengumuman juara. Mungkin ini karena saya kurang mencari informasi, malah diam saja menunggu datangnya kabar perihal itu.

Selain job, lomba blog juga bisa menjadi sumber cuan kalau jadi juara. Alhamdulillah, meskipun belum melimpah, saya sudah beberapa kali mengecap manisnya hadiah dari kompetisi blog.

Memperbarui Tampilan Blog

Sejak pertama ngeblog, saya belum pernah mengganti tampilan blog ini. Menurut saya, desainnya cukup cantik. Namun, ada seorang rekan blogger yang mengatakan bahwa template yang tidak SEO friendly bisa menjadi penghambat naiknya DA. Jadi, saya ada rencana untuk menggantinya.

Saya sudah mencari info dari sesama blogger yang menggunakan WordPress juga. Katanya WordPress tidak seperti Blogger yang memiliki banyak pilihan template yang SEO friendly dan gratis. Sepertinya saya harus mencari informasi lagi tentang template WordPress ini.

Penutup “Alasan Menulis dan Rencana ke Depan Terkait Blog”

Saat semua terasa salah, tidak ada salahnya kita berhenti sejenak dan merenungkan apa yang telah dijalani. Begitu juga dalam menulis, saat usaha terasa sia-sia, tengoklah apa yang menjadi alasan menulis.

Bagi saya, alasan-alasan itu adalah passion, media dakwah, memaksimalkan potensi, kebanggan diri, dan sebagai contoh untuk anak-anak agar mereka pun tertarik dengan dunia kepenulisan.

Setelah alasan menulis itu terang benderang, kini saatnya kita merencakan apa langkah kita ke depannya. Terkait pengembangan blog ini, saya berencana untuk memperluas jaringan, ikut kelas menulis, menjajal kompetisi blog, dan mengganti template. Kalau kalian apa, Playmates?

4 komentar untuk “Alasan Menulis dan Rencana Ke depan Terkait Blog”

  1. Aku juga Kak, DA kok jeblok. Tapi pernah pas lama nggak update malah naik sendiri, PV dan DA-nya. Sungguh aneh. Ya sudah nggak apa-apa, sekarang aku pun nggak ingin terlalu terbebani dengan DA, Kak. Jadi sedih soalnya he he

  2. Alfia D. Masyitoh

    Aku merasa relate dengan tulisan ini, sekaligus merasa tersindiri. Setiap tulisan akan dimintai pertanggung jawaban, akhir-akhir ini banyak banget yang ngingetin tentang hal ini. Tiba-tiba kepikiran, lha kalo aku nulisnya tentang Korea2an mulu, nanti gimana ya hisabku. Hiks hiks seketika jadi sedih, huhu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top