Tujuan Menulis: Mencari Makna di Balik Kata yang Terjaga

Sejauh mana kalian percaya bahwa tulisan bisa mengubah dunia?

Sejak lima tahun lalu, gagasan itu menjadi fondasi utama dalam tujuan menulis saya. Sebuah komunitas menulis membuka mata saya tentang kekuatan tulisan yang sebelumnya tidak pernah benar-benar saya sadari.

Sebelumnya, saya menganggap menulis sekadar peningkatan level dari membaca. Sebagai seseorang yang gemar membaca, saya perlahan menemukan jalan lanjutan yang terbuka di hadapan – menulis. Seolah ada ilalang yang tersibak, membuka kesadaran akan keterampilan yang sebenarnya sudah ada sejak dulu.

Di komunitas itu, saya tidak hanya belajar tentang aturan kepenulisan. Mereka menanamkan batu pertama yang tak kasatmata dalam dunia literasi. Ia berupa motivasi yang membuat kami, para peserta, menemukan alasan bahwa menulis memiliki peranan yang jauh lebih besar dari yang pernah kami bayangkan.

Sang mentor dengan lantang mengatakan bahwa menulis adalah bagian dari peradaban. Bagi yang tidak berpikir panjang, pernyataan itu mungkin terdengar berlebihan. Padahal jika kita memberi sedikit ruang bagi kesadaran untuk terbuka, mata hati akan segera menangkap lautan fakta: bahwa menulis justru sebuah keharusan.

Contoh kecil dapat kita lihat dari masa penjajahan. Bukan tanpa alasan pihak kolonial melarang buku yang para pejuang tulis. Mereka tidak ingin tulisan-tulisan itu menjadi kekuatan bagi pribumi untuk melawan.

Di dunia ilmu pengetahuan, siapa yang tidak mengenal teori evolusi? Charles Darwin pertama kali memperkenalkan gagasan tersebut melalui tulisan. Terlepas dari perdebatan benar atau salahnya, kita tidak bisa menafikan daya gebrak yang tulisan itu bawa melintasi abad demi abad.

Dan, jika kita menyentuh sisi religius, bukankah Al-Qur’an pun hadir dalam bentuk tulisan? Ia menjadi pedoman bagi setiap tindak-tanduk, tata cara ibadah, dan berbagai aspek kehidupan seorang insan beriman.

Sampai di sini, apakah kalian belum tergerak untuk menulis? Jika belum, setidaknya kita bisa memulainya dari tujuan menulis dalam versi yang paling sederhana.

Tujuan Menulis

Tujuan menulis jurnal

Jika kekuatan tulisan belum mampu menggerakkan jarimu, mari kita mulai dari sisi sebaliknya: menelisik tujuan menulis lebih dalam. Kita coba pindahkan sudut pandang menjadi lebih personal.

Mungkin saat ini kita belum mampu menyebarkan pengaruh lewat tulisan seperti yang sebagian orang lakukan – hingga gagasan mereka mampu mengubah arah sejarah, bahkan memengaruhi nasib sebuah bangsa. Namun, kita selalu bisa memulai dari hal kecil: dari diri sendiri, dari pengalaman yang kita pahami, dan dari waktu yang kita miliki sekarang.

Menyimpan Kenangan

Yang terucap akan lenyap, yang tercatat akan teringat.

Kutipan itu tidak pernah benar-benar pergi dari benak saya sejak pertama kali membacanya dalam buku Kisah Lainnya bertahun-tahun lalu. Playmates bisa menebak siapa pemilik kalimat indah itu? Ia datang dari Ariel Noah.

Otak manusia memang memiliki kemampuan mengingat yang luar biasa. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak hal perlahan memudar – sebagian hilang, sebagian lagi hanya tersisa samar.

Di sinilah menulis mengambil perannya. Ketika pengalaman kita tuangkan menjadi kata-kata, kenangan itu memiliki tempat untuk bertahan lebih lama. Saat lupa menyapa, sebuah catatan dapat membawa kita menyeberang ke masa lalu. Bahkan sebelum selesai membacanya, peristiwa itu sering kali sudah kembali hidup dalam kepala.

Karena itu, kita tidak perlu bingung harus menulis apa. Mulailah dari keseharian atau peristiwa sederhana yang kita alami. Tidak perlu pula khawatir apakah tulisannya cukup indah. Sesuatu yang ditulis sepenuh hati biasanya akan menemukan keindahannya sendiri.

Tujuan Menulis: Mengikat Ilmu

Dari kenangan, kita bergeser ke ilmu pengetahuan. Kenangan mungkin hanya merawat ingatan diri sendiri. Namun, ketika pengetahuan kita bagikan, manfaatnya bisa menjangkau lebih banyak insan. Bukankah kita diajarkan untuk menyampaikan walau satu ayat?

Berbekal keyakinan itulah, saya menyiapkan satu ruang khusus di blog untuk mengikat ilmu. Pengetahuan itu rutin saya dapat dari kajian di sekolah anak – kebanyakan berkenaan dengan keagamaan, yang sesekali diselingi tema parenting dan kesehatan.

Saya tidak ingin kajian tersebut hanya berakhir sebagai catatan pribadi. Ketika dituliskan menjadi artikel, peranannya berubah. Apa yang tadinya sekadar koleksi perlahan menjelma menjadi ruang berbagi. Makin banyak kita membagikan pengetahuan, makin luas pula manfaat yang bisa kita rasakan.

Melalui tulisan, pengetahuan yang terserak dapat tersimpul dalam satu ikatan yang rapi. Sesuatu yang tersusun tentu lebih mudah kita pahami dan sampaikan kembali. Dan sebenarnya, ilmu apa pun layak dituliskan – bukan hanya ilmu agama. Setiap pengetahuan memiliki peranannya masing-masing dalam kehidupan.

Merawat Waras

Psikolog mahal, mending nonton konser King Nassar.

Belakangan ini media sosial ramai dengan konten para kreator yang merilis stres lewat kesenangan sederhana – menonton konser, tertawa bersama teman, dan melarikan diri sejenak dari rutinitas. Terlepas sungguhan atau hanya konten hiburan, itu menunjukkan satu hal: setiap orang memiliki cara sendiri untuk merawat waras.

Saya sendiri tidak terlalu menyukai keramaian. Saya juga bukan tipe orang yang mudah mengekspresikan perasaan lewat gerak tubuh. Karena itu, pilihan saya sederhana – menepi sejenak lalu mencurahkan isi hati melalui untaian kata. Di titik inilah saya menyadari bahwa menulis bukan lagi sekadar hobi, melainkan kebutuhan.

Ada kalanya kepala terlalu bising oleh pikiran, sementara dada penuh akan hal-hal yang sulit diucapkan. Dengan menuliskannya, saya bisa merilis sebagian beban itu, sekaligus mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri.

Akan tetapi, karena saya menulis di blog – sebuah ruang publik – tentu ada batas yang tidak bisa dilewati begitu saja. Bukan semata demi menjaga kesopanan di ruang digital, tetapi juga untuk melindungi privasi. Karena itu, saya lebih sering menyamarkan isi hati dalam bentuk cerita atau refleksi, sehingga tidak terlalu kentara bahwa di baliknya ada perasaan yang sedang diurai.

Tujuan Menulis: Mengasah Ingatan

Seperti mesin yang jarang kita gunakan, otak pun bisa berkarat jika tidak dilatih. Karena itu, ketika kita sudah tidak lagi berada di bangku sekolah – atau memilih peran sebagai ibu rumah tangga – menulis dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga pikiran tetap aktif.

Mungkin pada awalnya terasa berat. Kata-kata seperti enggan keluar, sementara pikiran terasa buntu. Namun, ketika kebiasaan itu mulai terbentuk, perlahan kata demi kata akan mengalir dengan sendirinya. Proses ini membuat otak terus bekerja, sehingga dalam jangka panjang kita memiliki kesempatan lebih besar untuk menjaga daya ingat tetap tajam hingga usia lanjut.

Untuk memulai, sebenarnya kita tidak perlu menunggu ide besar. Tulis saja apa yang kita rasa dan lihat. Setiap hari selalu ada cerita yang bisa dibagikan – tentang kegiatan sederhana, kesedihan, rasa syukur. Apa pun itu layak menjadi tulisan pertama – sebuah langkah kecil yang kelak menjadi awal perjalanan panjang melawan lupa.

Menjaga Kata, Menjadikan Tulisan Bernilai Ibadah

Apa tujuan dari menulis?

Ramadan hadir bersama keistimewaannya. Ini merupakan kesempatan emas karena kebaikan yang kita lakukan mempunyai nilai pahala yang berlipat ganda. Kebaikan tidak selalu menyangkut hal yang bersifat religi. Apa pun itu, selama kita memiliki niat yang baik, tidak menyakiti, dan membawa manfaat, insyaallah dapat menjadi ibadah.

Sesederhana menulis pun bisa membuat kita menuai pahala ibadah. Kuncinya ada pada menjaga kata. Tulisan tak ubahnya seperti ucapan; kita harus cermat memilih diksi yang tepat – tidak menyulut kebencian, tidak merendahkan orang lain. Pun terhadap diri sendiri, kita perlu memiliki batasan agar tidak membuka aib dan mempermalukan diri.

Setiap orang memiliki arah mata penanya masing-masing – menyimpan kenangan, mengikat ilmu, merawat waras, mengasah ingatan. Bahkan tidak menutup kemungkinan masih banyak lagi tujuan menulis yang menjadi ruh dari setiap kata yang luruh.

Tautan kata bermuara ke samudra cerita, yang arahnya bergantung pada penulisnya. Ia yang meniupkan jiwa, lalu menunjukkan jalan – menuju nirwana atau sebaliknya. Di sinilah niat menulis memegang kendali: apakah tulisan membawa nilai ibadah atau tidak.

Sebuah tulisan meninggalkan jejak panjang yang bisa hidup di dunia melebihi usia penulisnya sendiri. Karena itu, sebelum menulis – terlebih untuk ruang publik – menjaga kata tetap menjadi yang utama. Jika itu kebaikan, pahalanya dapat terus mengalir melewati masa-masa ketika kita telah tiada. Sebaliknya? Tentu ia memiliki dampak serupa, hanya berada di sisi yang berbeda.

Penutup

Arah pena bisa menuju ke mana saja, tetapi sudah menjadi tugas kita sebagai penulis untuk memuarakannya pada kebaikan. Tidak harus menyentuh ranah keagamaan, cukup memastikan niat menjaga kata tetap berada dalam genggaman.

Sebenarnya, meluruskan niat tidak wajib di bulan Ramadan. Namun, bulan itu memiliki megnetnya sendiri – magnet yang begitu kuat menarik kita kepada kebaikan. Karena itulah, banyak niat yang kembali menemukan titik murninya pada momen tersebut.

Bagi para penulis, blogger, content writer, atau siapa pun yang bergelut dengan mata pena, masihkan tujuan menulis yang sama menggerakkan tangan kalian untuk merangkai kata? Apakah ada esensi ibadah di dalamnya?