Apa kalian pernah mendengar istilah ODOJ, Playmates?
Istilah ini biasanya makin sering terdengar ketika Ramadan tiba. ODOJ merupakan singkatan dari One Day One Juz, yaitu gerakan membaca Al-Qur’an satu juz setiap sehari. Jika dilakukan secara konsisten, dalam waktu satu bulan kita bisa menamatkan tiga puluh juz. Tak heran jika banyak orang menjadikannya sebagai target bulan Ramadhan.
Pada awalnya saya sempat berpikir target ini terlalu berat. Membaca satu juz dalam sehari terdengar seperti komitmen besar. Namun, setelah dijalani ternyata semuanya lebih sederhana daripada yang dibayangkan. Ada satu siasat kecil agar target itu tercapai tanpa banyak drama: sedikit demi sedikit.
Satu juz rata-rata terdiri dari sekitar sepuluh lembar. Artinya, jika setiap selesai salat lima waktu, kita membaca dua lembar saja, tanpa terasa satu juz akan selesai dalam sehari. Lalu hari berganti, ritme itu diulang lagi. Hingga pada akhirnya, menjelang lebaran kita sadar bahwa tiga puluh juz telah terlewati.
Dari sana saya belajar satu hal sederhana: konsistensi sering kali lebih menentukan daripada ambisi besar di awal.
Dalam urusan ibadah, banyak orang memang berlomba meningkatkan kuantitas. Yang biasanya hanya membaca beberapa lembar Al-Quran, selama Ramadan bisa menyelesaikan satu juz setiap hari. Ramadan seperti menghadirkan energi tambahan untuk melakukan lebih banyak kebaikan.
Akan tetapi, ketika beralih ke aktivitas lain – misalnya menulis – semangat itu sering kali tidak ikut terbawa.
Alih-alih produktif, yang muncul justru sindrom 5L: lemah, lesu, lunglai, lemot, dan tentu saja lapar. Ide terasa lebih sulit mengalir, tubuh terasa lebih cepat lelah, dan layar gawai mendadak seperti menatap balik dengan penuh tuntutan.
Karena itulah banyak penulis yang akhirnya memasang target bulan Ramadhan agar ritme menulisnya tetap terjaga. Saya sendiri, yang pada hari biasa saja membutuhkan waktu cukup lama untuk menuntaskan satu artikel, tentu harus mencari strategi cerdas agar bisa menulis dalam kondisi perut kosong.
Menemukan Ritme Menulis di Bulan Suci Ramadan
Sejak masih anak-anak, saya sudah menyadari bahwa Ramadan adalah bulan yang sibuk.
Dulu, setelah sahur saya pergi ke masjid untuk salat subuh berjamaah dan tadarus bersama. Setelah itu, bersama teman-teman saya berjalan kaki cukup jauh, menyusuri jalan kampung hingga matahari mulai terasa hangat mendekap kulit.
Sepulangnya, saya mandi lalu bersiap ke sekolah. Sekitar pukul dua siang, kegiatan berlanjut ke sekolah agama. Dari sana, langkah kembali menuju masjid untuk mengaji hingga menjelang waktu berbuka. Dengan riang, saya pulang sambil menenteng takjil gratis yang rasanya selalu nikmat karena dinanti seharian.
Waktu di rumah pun tidak terlalu lama. Selepas berbuka, saya harus kembali bersiap menuju masjid untuk salat isya dan tarawih. Terlambat sedikit saja, shaf depan hanya tinggal harapan. Dan yang paling ikonik, selesai tarawih kami beramai-ramai mengantre untuk “fansign” bersama imam masjid – meminta tanda tangan sambil berebut posisi paling depan.
Setelah dewasa, Ramadan masih terasa sibuk, tetapi dengan versi yang berbeda. Jika dulu saya hanya mengikuti alur hari tanpa banyak berpikir, sekarang saya berjibaku dengan berbagai urusan: mempersiapkan kebutuhan sekolah anak, menyiapkan sahur, hingga memastikan menu berbuka tersedia.
Hari terasa pendek karena banyak hal yang harus dilakukan. Namun di sisi lain, terasa panjang juga karena perut keroncongan sepanjang hari. Tubuh dan pikiran perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan ritme yang berubah selama Ramadan.
Begitu pula dengan aktivitas menulis yang ikut terkena dampaknya. Tidak ada keinginan untuk meningkatkan kuantitas tulisan. Bahkan, untuk sekadar menjaga konsisten saja kadang sudah terasa menguras tenaga.
Di titik inilah saya menyadari bahwa Ramadan bukan waktu yang tepat untuk memaksa diri berlari lebih cepat. Yang penting justru menemukan ritme yang sesuai. Sebab terkadang, yang kita butuhkan bukan tambahan waktu atau tenaga, melainkan cara baru untuk berjalan selaras dengan hari-hari yang berubah.
Strategi Menulis Sebagai Target Bulan Ramadhan

Pada dasarnya, strategi menulis selalu kembali pada kebutuhan dan keadaan masing-masing. Sesempurna apa pun sebuah gagasan, jika tidak cocok dengan situasi kita, ia hanya akan berakhir sebagai wacana yang tak pernah benar-benar dijalankan.
Saya sendiri mulai belajar menulis tidak lama setelah anak kedua lahir. Sejak awal, saya sudah terbiasa mencuri waktu untuk menulis. Bukan perkara mudah menemukan waktu khusus ketika harus mengasuh satu bayi dan satu balita dalam waktu bersamaan.
Sekarang anak-anak sudah bersekolah, ruang untuk menulis terasa lebih lapang. Saya biasanya lebih mudah menulis dalam keadaan tenang, tanpa bising yang kerap mengalihkan perhatian. Meski begitu, bukan berarti selalu ideal. Ada kalanya saya tatap harus mengetik di tengah riuh teriakan anak-anak ketika tenggat waktu mulai memburu.
Selama bulan Ramadan, saya menemukan bahwa waktu terbaik untuk menulis adalah selepas sahur. Sudah lama saya membiasakan diri untuk tidak tidur setelah salat subuh. Selain suasananya masih hening dan mendukung untuk menulis, tubuh juga terasa lebih segar. Dulu saya sering tidur setelah sahur, tetapi justru membuat kepala terasa pening sepanjang hari.
Menulis pun tidak harus selalu berarti menyelesaikan satu artikel sekaligus. Semua bisa kita lakukan secara bertahap. Misalnya, hari pertama kita fokus riset keyword dan menyusun outline. Keesokan harinya baru mulai mengeksekusi isi tulisan. Bahkan itu pun tidak harus selesai dalam satu hari.
Barangkali prinsipnya memang tidak jauh berbeda dengan ODOJ yang sering menjadi target bulan Ramadhan. Bukan tentang memaksa diri menulis banyak sekaligus. Namun, menjaga ritmenya sedikit demi sedikit – agar tulisan tetap berjalan, meski langkahnya pelan.
Penutup
Ramadan datang lagi, membawa kenangan sekaligus ruang baru yang bisa kita isi dengan refleksi. Ia juga menghadirkan ritme yang berbeda: belajar adaptasi, lalu perlahan menjaga konsistensi. Tidak perlu tergesa, sebab perjalanan ini bukan sekadar tentang menjalani satu bulan puasa, tetapi juga tentang tumbuh dewasa – dalam pikiran maupun rasa.
Bagi saya, menulis saat Ramadan memiliki tantangannya sendiri. Perjalanan yang terasa panjang ternyata bukan pada saat mengurai kata sebanyak-banyaknya, melainkan pada pencarian waktu yang tepat agar tulisan tetap berjalan – bukan hanya sesaat, tetapi berkelanjutan.
Seperti halnya membaca Al-Qur’an sedikit demi sedikit hingga tanpa terasa satu juz selesai dalam sehari, sebuah tulisan pun bisa mencapai tanda titik terakhirnya dengan cara yang sama. Kuncinya ada pada satu hal: menjaga ritme.
Sudahkah kalian menemukan ritme menulis sendiri saat memiliki target bulan Ramadhan, Playmates? Kapan waktu terbaik kalian untuk merawat konsistensi itu?