Review Suka-suka Novel Serpihan Asa

Judul : Serpihan Asa

Penulis : @andesafitri
Tebal: 201 Halaman
Penerbit : @elfamediatama
Cetakan Pertama, Januari 2021

BLURB:
Seorang perempuan yang senantiasa dimanja oleh kedua orangtuanya harus mengalami patah hati untuk pertama kali. Tidak ingin egois pada sahabatnya sendiri, Ismi memilih pergi demi menyelamatkan persahabatan dan menyembuhkan hati. Berbagai peristiwa yang belum pernah disaksikannya kini hadir di depan mata saat dia memilih untuk belajar mandiri. Luka yang sempat sembuh kembali menganga ketika kehilangan, kekecewaan, dan pengkhianatan seolah-olah selalu mengelilinginya. Keraguan pun selalu hadir setiap Ismi hendak membuka hati.

***

Ismi, seorang gadis berusia dua puluh lima tahun. Dia anak semata wayang sehingga sangat disayang orang tuanya, bahkan gadis berjilbab lebar itu tidak diizinkan bekerja dan jauh dari rumah. Kegiatan sehari-harinya hanya berdiam diri di rumah, paling sesekali ke luar untuk hunting buku baru.

Gadis itu mempunyai seorang sahabat bernama Nayla. Mereka mempunyai banyak kesamaan, dari cara bepakaian, kegemaran, bahkan tipe pasangan ideal. Kesamaan yang terlalu banyak inilah yang menjadi awal rentetan kemalangan yang dialami Ismi di kemudian hari.
Ismi telah lama menaruh hati pada Amar, seorang pemuda yang merupakan anak seorang pemuka agama di lingkungan tempat tinggal mereka. Ismi berencana meminta ayah untuk menawarkan diri sebagai istri kepada Amar. Namun, sebelum itu terjadi ternyata Amar telah melamar Nayla.

Dunia serasa runtuh seketika, itulah yang dirasakan Ismi. Impian yang telah disimpan sejak dulu hilang begitu saja diiringi senyum kebahagian sang sahabat. Gadis itu merasakan dilema, dia bersuka cita karena Nayla telah menemukan tambatan hati, tetapi di sisi lain hantinya hancur lebur.

Dilema itu akhirnya menuntun Ismi pada suatu keputusan, bahwa dia harus pergi sementara ke tempat yang jauh, untuk menata hati. Dengan izin ayah dan mamah, dia berkunjung ke rumah aki dan ambu di kampung.
Selama di kampung, Ismi mengajar di madrasah yang dikelola aki. Ismi mengajar di kelas yang sebelumnya dipegang aki. Kebetulan di sana sedang kekurangan tenaga pengajar sehingga aki harus turun tangan. Kedatangan Ismi memberikan keuntungan bagi Aki, sehingga beliau bisa lebih fokus untuk mengisi pengajian.

Suasana kampung yang asri serta orang-orangnya yang hangat mampu membuat Ismi sedikit mengesampingkan luka di hati. Dia berkenalan dengan Nurul, Andi, Bu Asih, dan Zahwa. Mereka adalah tenaga pengajar di Madrasah. Selain solid sebagai rekan kerja, mereka pun akrab di luar madrasah.

Di usia seperempat abad, Ismi merasakan keinginan untuk mempunyai pasangan semakin mendesak. Ditambah, teman-teman sebaya sudah banyak yang berkeluarga. Termasuk Nayla, yang segera akan melangsungkan pernikahan dengan Amar.

Saat hari bahagia sang sahabat tiba, Ismi tidak mampu menghadiri. Lukanya masih belum sembuh. Dia hanya mampu memberikan doa dan kado terbaik. Meski hatinya hancur, Ismi tetap menjalin silaturahmi dengan Nayla. Gadis shalih itu tetap bersikap baik dan hangat padanya.
Di tengah segala rasa yang berkecamuk, Ismi dipertemukan dengan seorang pemuda bernama Rayyan. Pemuda itu kerap menggantikan aki menjadi imam ketika beliau berhalangan. Ismi belum sepenuhnya mampu melupakan Amar, tetapi lambat laun sosok Rayyan mampu menyelinap pada doa-doa malam Ismi. Terlebih gadis itu beberapa kali bermimpi menikah dengan seseorang yang mengenakan jam tangan hitam, dan itu mengarah pada sosok Rayyan.

Kebahagiaan yang tampak di depan mata, seketika luruh. Ternyata Rayyan sudah dijodohkan dengan gadis lain, padahal sebelumnya pemuda itu telah berkata bahwa dia punya niat baik terhadap Ismi. Hati Ismi yang belum sepenuhnya pulih, kembali harus merasakan perih sekali lagi.
Kemalangan demi kemalangan yang menimpa Ismi membuat dia memandang pernikahan bukan lagi hal yang indah. Ditambah pernikahan salah satu sahabatnya, Nurul, yang diujung tanduk. Hanya kepada Sang Pencipta dia bercerita dan memohon kekuatan. Tak sanggup dia jika harus menambah beban pikiran ayah dan mamah, terlebih ambu dan aki.

Setelah tinggal beberapa saat d kampung, Ismi memutuskan untuk kembali ke rumah mamah-ayah. Sungguh berat hatinya harus meninggalkan ambu-aki, tetapi kenyataan mamah yang sering ditinggal ayah bekerja bukanlah hal dapat dia abaikan.

Ismi menguatkah hati untuk kembali bertemu Nayla dan Amar, apalagi sahabatnya yang kerap sakit-sakitan itu menyengajakan diri mengunjungi Ismi. Kondisi Nayla yang tengah berbadan dua tak ayal membuat Ismi turut merasakan kebahagiaan.

Tak berselang lama dari kunjungan itu, Ismi mendengar kabar Nayla melahirkan dalam usia kandungan tujuh bulan. Sang bayi terlahir selamat, tetapi ibunya tidak. Tanpa sepengetahuan Ismi, Nayla memang menjalani kehamilan penuh risiko.
Ismi masih beduka dengan kepergian Nayla ketika ibu Nayla menceritakan sebuah rahasia. Ternyata selama ini orang yang dianggap sahabat oleh Ismi menyimpan rasa iri yang mendalam terhadap dirinya.

Persamaan-persamaan antara dirinya dan Nayla tidak murni sepenuhnya karena pada kenyataannya Nayla memang sengaja menduplikat Ismi. Bahkan Nayla tahu bahwa Ismi menyukai Amar dari diary yang diam-diam dibacanya.

Ismi sama sekali tidak menyangka akan merasakan sebuah pengkhianatan sedalam itu. Namun, dia mencoba berbesar hati untuk memaafkan. Kata ibu Nayla, putrinya itu akhirnya menyesali apa yang telah dia lakukan. Dia menunggu Ismi terpuruk, tetapi dia malah mendapat kado indah di hari pernikannya. Ismi memberikan gaun pengantin yang bagus. Selain itu, sikap Ismi tetap hangat kepadanya.

Hal yang lebih tidak terduga kemudian terjadi, Amar melamar Ismi. Perasaan gadis itu memang sudah tidak seperti dulu lagi terhadap Amar, tetapi dia telah berjanji kepada ayah untuk menerima lelaki pilihan beliau.

Saat tanggal pernikahan semakin dekat, lara kembali menyapanya ketika dia mendengar kabar Amar mengalami kecelakaan lalu meninggal di tempat. Tidak berselang lama, kabar duka dari kampung pun datang, aki meninggal.

Ismi sekeluarga ke kampung. Ismi tidak bisa mengendalikan diri saat melihat orang yang disayangi terbujur kaku. Di rumah aki, Ismi kembali bertemu dengan Rayyan. Tanpa diduga dia melamar gadis itu. Dia tidak jadi menikah karena calon istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaa. Rentetan kekecewaan membuat hati dan harapan Ismi hancur lebur. Lamaran tersebut membuatnya kembali memungut serpihan asa itu dan berharap kebahagiaanlah yang kini menjemputnya.

***

Novel ini merupakan novel seperjuangannya cerita saya yang berjudul “Putri Sulungku (Bukan) Musuhku” di event 30 Day Novel Sprint 3.0. dan hebatnya ini juara tiga lho 😍 Ceritanya sederhana. Detail-detailnya pun menceritakan kesederhanaan. Saya merasa tidak asing dengan hal-hal itu karena cerita ini berlatar tanah Pasundan yang juga merupakan tempat asal saya.

Saya menikmati kisahnya di awal, tetapi di bagian tengah saya merasa agak kurang tertarik membacanya. Kemudian di bagian mendekati ending banyak kejutan yang membuat saya terpana. 😅

Hal yang paling menarik dari Ismi adalah kegelisahan-kegelisahan dirinya atas kehilangan. Bahkan saat sedang merasakan kebahagiaan pun selalu terselip kekhawatiran bahwa suatu saat kebahagiaan itu akan bertukar dengan kesedihan. Dan, itu yang sering saya rasakan 🥺 Menelaah kebiasaan Ismi itu serasa melihat kekurangan saya sendiri yang seharusnya dihilangkan.

Meskipun dari awal cerita Ismi merasakan kesedihan, tetapi cerita berakhir bahagia. Ini mengingatkan saya untuk selalu berbaik sangka kepada Allah. Setiap kejadian buruk pasti ada hikmahnya dan di setiap kegetiran, Allah pasti menitipkan kebahagiaan.

***