Novel Ancika: Sebuah Nama Sebuah Cerita

Judul: Ancika: Dia yang Bersamaku Tahun 1995
Penulis: Pidi Baiq
Tebal: 340 halaman
Penerbit: Pastel Books
Cetakan pertama, Muharram 1443 H/Agustus 2021

BLURB
“Dia memang punya masa lalu, tetapi saya punya Dilan.” –Ancika

Ancika ini, pacarnya Dilan. Mereka saling mengenal setelah Dilan sudah tidak lagi berpacaran dengan Lia. Ya, gitu deh, mau gimana lagi, drama kehidupan namanya juga. Pilihan dibuat, bisa benar, bisa salah. Kita ini hanya manusia dan hidup hanya permainan. Mendingan baca aja. Inilah kisah asmara Ancika dan Dilan. Mudah-mudahan menyenangkan.

REVIEW
Saya membutuhkan ketegaran hati yang kuat saat memutuskan untuk membaca novel ini. Dengan hanya membaca judulnya, siapa pun pasti tahu tak kan ada lagi kisah manis tentang Dilan dan Milea. Di buku sebelumnya, memang sudah disebutkan Milea sudah bertunangan dengan orang lain, sedangkan Dilan telah memiliki seorang kekasih bernama Ancika Mehrunisa Rabu. Namun, saya tidak tahu akan ada lanjutan novel Milea tersebut dan Ancikalah yang menjadi pemeran utamanya. Sebuah nama, sebuah cerita.

Sulit bagi saya untuk menerima bahwa ada pemeran utama lain, selain Dilan dan Milea. Namun, walaupun begitu saya tetap membaca novel Ancika ini dan menamatkannya. Ancika diceritakan sebagai gadis keras kepala yang menganggap dirinya biasa saja, padahal dia cantik. Buktinya yang ngantri banyak, mulai dari Bagas si teman bimbel, Bono si pembuat ulah, dan Kang Yadit si haus pujian. Namun, dari penuturan Ancika dirinya tidak akan pernah bisa bersaing dengan Milea. Jadi saya simpulkan Lia lebih cantik dari Cika. 😅

Milea sendiri hanya dibahas sedikit saat seseorang memberi tahu Cika bahwa Dilan mempunyai orang spesial di masa lalunya. Terus diceritakan juga pertemuan singkat antara Dilan dan Cika yang tidak disengaja dengan Milea dan suami beserta anaknya. Di sini pertemuan itu digambarkan sebagai kejadian antara orang-orang yang telah dewasa dan matang. Mereka hanya bertegur sapa dan berusaha bersikap senormal mungkin.

Karena novel ini ditulis dengan pov Cika, perasaan Dilan dan Milea saat itu tidak terlalu tergambarkan. Saya tidak tahu apa yang dirasakan mereka sebenarnya saat sama-sama melihat orang yang dulu memiliki tempat spesial di hati telah mempunyai pasangan.

Begitu pula dari saat Dilan melakukan pendekatan pada Cika, saya tidak tahu apakah dia masih kerap memikirkan Milea atau tidak. Namun, Dilan tetaplah Dilan yang selalu mempunyai cara berbeda dengan orang kebanyakan dalam hal mengungkapkan perasaan.

Kepada Ancika pun, Dilan melakukan hal-hal yang bisa dibilang unik, gila malahan. Di awal perkenalan, Dilan yang merupakan teman paman Cika ini diminta mengerjakan PR sang gadis, yaitu meresensi sebuah buku. Tentu saja Dilan mengerjakannya dengan ngawur. Dia malah menulis hal tentang Cika dan celakanya gadis itu tidak membacanya terlebih dahulu, sehingga dia menjadi bahan tertawaan teman-teman saat membacakan tugas resensi itu di depan kelas.

Selain itu, pada saat Cika berulang tahun ke-17, Dilan menghadiahi dia sesuatu yang pasti tidak terpikirkan orang lain. Lebih gila dibanding hadiah untuk Milea. Masih ingat nggak apa hadiah ultah dari Dilan untuk Lia? Ya, betul. Sebuah buku teka-teka silang yang sudah diisi. 🤭 Nah, kalau untuk Cika, Dilan ngasih Taman Hutan Raya Djuanda. Ngapain juga, ya, ngasih-ngasih taman milik pemerintah. 😅 Memang lain dari yang lain Dilan itu, tetapi saya suka. Eh!

Seperti tiga novel pendahulunya, yang ini pun ceritanya simple. Mengalir begitu saja. Ada berbagai masalah yang muncul, tetapi tidak ada konflik yang luar biasa. Yang membuat cerita Dilan ini ngena di hati saya adalah karakternya yang kuat dan unik, latar waktu tahun 90-an (Ancika ini 1995) yang mengajak pembaca kembali mengingat indahnya masa-masa itu (cieee), serta latar tempatnya yang menggambarkan keindahan Bandung.

Akan tetapi cerita yang simple ini memberikan saya insight bahwa seindah dan semanis apa pun masa lalu, tetap saja ia harus direlakan agar bisa menjalani masa kini dan masa depan dengan baik.

Baik Dilan, Milea, maupun Ancika, menurut saya ketiganya merespons apa yang terjadi dengan sikap positif. Dilan merelakan Milea untuk menjemput kebahagiaannya. Mereka masih sama-sama muda saat itu sehingga masih mengedepankan ego dan gengsi. Di mata saya, mereka telah menemukan orang yang tepat di waktu yang kurang tepat.

Sedang Ancika, di usia yang lebih muda dari Dilan pun menunjukan sikap yang cukup dewasa. Rasa cemburu yang dirasakannya tentu saja wajar, mengingat pernah ada kisah indah antara Dilan dan Milea. Kisah yang membuat saya susah move on. (Nggak ada yang nanya, ya. 🤭 ) Namun, Cika tidak terlalu memusingkan hal itu dan memilih fokus pada masa kini dan masa depan.

Inspirasi bisa didapat dari mana saja. Dan, dari cerita ini saya bisa lebih memahami arti penting penerimaan dan move on. Bagaimana? Kamu tertarik untuk membacanya atau tidak? Semoga novel ini juga difilmkan, ya. Saya sudah tidak sanggup menahan rindu, ingin melihat Dilan lagi. 😅