Mengelola Keuangan Keluarga dalam Islam

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Playmates. Salam sehat untuk semua ya. Setelah libur lagi satu kali, akhirnya kajian rutin hadir kembali. Di semester dua ini lumayan cukup banyak acara, sehingga kajian terpaksa ditiadakan beberapa kali. Pada tanggal 10 Maret 2023, kajian POMG di sekolah si cikal memiliki tema mengelola keuangan keluarga dalam Islam.

Akhir-akhir ini di social media saya muncul berbagai konten tentang budgeting. Mulai dari tips menabung sampai rekomendasi dompet pintar agar menabung menjadi lebih asyik. Saya sampai kena racunnya juga ingin membeli dompet dengan banyak sekat tersebut. Untuk permulaan saya membeli benda itu yang harganya Rp. 10.000 saja.

Dompet tersebut berbentuk persegi panjang dengan lembaran semacam plastik di dalamnya. Kita bisa menyelipkan uang dalam plastik itu dan menamainya sesuai peruntukan uang tersebut. Dengan memisah-misahkan uang kita bisa menjadi lebih disiplin dan bijak dalam mengatur uang.

Apakah lantas langsung berhasil? Tentu saja tidak. Saya masih mengutak-atik formula yang tepat untuk rincian pengeluaran bulanan. Dengan begini setidaknya pengeluaran lebih terkontrol.

Related:

Label Baru di Blogku

Keutamaan Ilmu, Cari Tahu, Yuk!

Jenis-jenis Watak Anak, Kenali, Yuk!

Pengalaman Berkesan Saat Mengikuti Kajian Bersama Ibu Wakil Bupati Garut

Pendidikan Tauhid Kepada Anak, Sepenting Apakah?

1. Mengelola Keuangan dalam Islam, Sepenting Apakah?

Mengelola keuangan keluarga dalam Islam

Kita sering mendengar ada istilah uang itu tidak dibawa mati. Itu betul, ya, Playmates. Kita meninggal tanpa membawa harta benda di sisi kita. Kecuali kita semacam firaun. Namun, hal itu tidak sepenuhnya benar juga karena ada amalan-amalan yang berhubungan dengan uang, seperti sedekah, infaq, dan zakat.

Secara zahirnya harta itu memang tidak menyertai kita sampai liang lahat, tetapi pahalanya insyallah akan terus mengalir meskipun jasad sudah hancur di dalam tanah. Masyaallah.

Uang memiliki tiga karakter, yakni:

  • Tidak pernah setia pada tuannya
  • Berpindah tempat dengan sangat cepat
  • Senang kalau disedekahkan

Setuju nggak dengan kriteria di atas, Playmates? Kok benar, ya, uang itu liar banget. Nggak ada diamnya. Uang sedikit habis, eh giliran pegang banyak tetap habis juga. Itulah pentingnya kita tahu skala prioritas karena kalau uang berlebih, godaan untuk membelanjakannya pun lebih dahsyat lagi.

Dalam surat Al-Hasyr ayat 18 Allah berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Dalam ayat di atas ada anjuran untuk:

  • Bertaqwa kepada Allah
  • Memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok

Memperhatikan hari esok ini dapat berkaitan pula dengan uang, jadi seharusnya kita memang membuat sebuah rencana keuangan. Jika tidak ingin ada bencana di kemudian hari.

Related:

Pentingnya Cinta Murni dalam Pembentukan Karakter dan Fondasi Iman pada Anak

Menghayati Doa Nabi Ibrahim, Amalkan, Yuk!

Wanita Perindu Surga, Kita Termasukkah?

Rahasia Emas Bagi Pemburu Ilmu

Mendapatkan Ketenangan Hati Anti Galau, Bisakah?

1.1 Deteksi Keuangan

Taqwa finance dan free finance

Langkah pertama dalam mengelola keuangan keluarga dalam Islam adalah dengan mendeteksi bagaimana kondisi keuangan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Apakah keluarga kita sering kebingungan terkait masalah keuangan?
  2. Apakah keluarga kita melaksanakan ibadah khusyuk, nyaman, dan teratur setiap harinya?
  3. Apakah keluarga kita memiliki rancangan keuangan bulanan dan menuliskannya dengan rinci?
  4. Sudahkah kita memiliki perencanaan terperinci untuk menggapai tujuan keuangan keluarga?
  5. Apakah kita memiliki dana darurat sebanyak minimal 6x penghasilan bulanan keluarga?
  6. Apakah kita dan pasangan memiliki perencanaan dana pensiun dan mengetahui jumlahnya?
  7. Apakah keluarga kita memiliki dana sosial seperti zakat, infaq, dan wakaf dengan jumlah terperinci setiap bulan?

Baru deteksi saja sudah panas dingan ya, Playmates, apalagi di bagian dana darurat. Ternyata kita harus punya artos tiis-kata orang Sunda mah-sebanyak 6x gaji. Sungguh bagai pungguk merindukan rembulan.

Akan tetapi, tidak ada salahnya kita mulai concern terhadap pengadaan dana darurat ini untuk menghindari keruwetan saat musibah dadakan menghampiri.

Related:

Kualitas Hubungan dengan Pasangan, Pentingkah?

Melembutkan Hati yang Keras, Gimana Caranya?

Kalam Illahi Hadirkan Kebahagiaan yang Hakiki

Masuk Surga Sekeluarga, Mungkinkah?

Membangun Interaksi Mendidik AUD, Bagaimanakah?

1.2 Rencana Keuangan

Perencanaan keuangan merupakan seni pengelolaan keuangan yang dilakukan oleh individu dan keluarga untuk mencapai keuangan yang efektif, efisien dan bermanfaat, sehingga keluarga tersebut menjadi keluarga yang sejahtera.

Kita perlu mengelola penghasilan agar dapat memenuhi kebutuhan saat ini dan masa depan. Kebutuhan saat ini contohnya sabun dan sampo, sedangkan kebutuhan masa depan seperti biaya ibadah haji dan biaya hidup saat sudah pensiun nanti.

1.3 Bencana Keuangan

Playmates, kalian tipe orang yang mencatat semua pemasukan dan pengeluaran tidak? Kalau saya sudah menuliskan semua cash flow, tetapi belum rapi dan efektif. Salah satu alasanya karena penghasilan suami itu harian jadi saya agak kesulitan membuat anggaran bulanannya.

Untuk kalian yang belum pernah menuliskan catatan keuangan keluarga, apa sih alasannya? Apakah ada di antara alasan-alasan berikut ini?

  1. Tidak mengetahui pentingnya budgeting dan kebermanfaatannya.
  2. Merasa sudah tahu/merasa benar ketika uang habis teralokasi meskipun tanpa bukti.
  3. Menganggap pendapatan kecil sehingga tidak perlu memakai perencanaan keuangan.
  4. Takut melihat kenyataan
  5. Tidak mau repot memikirkan sesuatu yang belum terjadi.

Nah, yang mana nih alasannya? Alasan mana pun yang membuat kita malas mencatat keuangan keluarga harus dikikis, ya, Playmates. Serepot apa pun proses pencatatan itu akan kalah dengan repotnya bencana keuangan yang bisa datang kapan pun.

Related:

Menutup Aurat dengan Sempurna, Harus Menunggu Siapkah?

Muslimah Mengaji Pribadi Teruji

Futur Menghancurkan Future

Perintah Salat Saat Isra Mi’raj

2. Penutup Kajian Mengelola Keuangan Keluarga dalam Islam

Sebagai penutup, Ustaz Hasan Firdaus, S. Kom. I, MM memberikan contoh anggaran pengeluaran bulanan sebagai berikut:

  • Zakat 5%
  • Asuransi 5%
  • Cicilan pinjaman 20%
  • Hiburan 5%
  • Biaya rumah tangga 40%
  • Anak dan pendidikan 10%
  • Dana darurat 10%
  • Investasi 5%

Begitu menerima gaji, kita pisahkan sesuai anggaran tiap posnya. Kemudian di akhir bulan, kita evaluasi pos mana yang boncos dan yang sisa, dengan harapan bulan berikutnya kita bisa mengelola keuangan keluarga lebih baik lagi.

Alhamdulillah, bertambah lagi ilmu setelah mengikuti kajian rutin seperti biasanya. Tulisan ini semoga bermanfaat bagi saya khususnya, dan umumnya bagi para pembaca yang ber-azzam untuk belajar mengelola keuangan dalam Islam. Sampai bertemu lagi di tulisan-tulisan lainnya.

5 komentar untuk “Mengelola Keuangan Keluarga dalam Islam”

  1. Pingback: Peran Orang Tua dalam Mendidik Generasi Qur'ani - Monica Rasmona

  2. Pingback: Permasalahan Orang Tua dalam Pengasuhan Anak - Monica Rasmona

  3. Menarik artikelnya tentang manajemen keuangan Islami. Biasanya yang kurang diperhatikan atau malah diabaikan pos pengeluaran tak terduga akibat sakit misalnya dan sedekah. Bagaimanapun pun pengelolaan keuangan harus memperhatikan risiko terburuk

  4. Teh Monica tahu nggak sih, tulisan kajian rutin di TK anak teteh ini selalu aku tunggu. Bagus banget sekolahnya selalu ada kajian gini, jadi bukan anak aja yg pinter, orang tuanya juga dikasih paham. Keren teh ?

    Oiyaa kalau aku keuangannya udah rutin dicatat per bulan, tapi aku sama suami belum memikirkan dana pensiun. Ada dana darurat aja rasanya uyuhan ? Aku juga sempet kepikiran beli dompet kaya gitu teh, tapi belum terealisasi. Rasanya aku juga nggak telaten orangnya ?
    Gampang2 susah ngatur keuangan ini ?

  5. Pingback: Memantaskan Diri Menjadi Tamu Allah - Monica Rasmona

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top