Keutamaan Ilmu

Alhamdulillah POMG di sekolah si cikal mengadakan kajian setiap Jumat. Saya sebisa mungkin menyempatkan untuk mengikutinya. Sekian lama merasakan kegersangan hati dan pikiran, mungkin ini jalan yang disiapkan agar saya bisa menjadi orang yang lebih baik.

Tema kajian yang pertama adalah Keutamaan Ilmu. Materi ini disampaikan oleh Usth. Ai Nurjanah, S.Pd., M.Ag. Sosok beliau masih sama seperti yang biasa saya lihat belasan tahun lalu saya masih menjadi santri.

Pagi itu saya agak kesiangan karena berangkat dari rumah eyang anak-anak yang jaraknya lumayan jauh dari sekolah. Begitu saya memasuki aula tempat diadakannya acara, pemateri dan mama-mama sudah banyak yang hadir.

Keutamaan Ilmu ini rasanya tepat dijadikan tema pembuka untuk menguatkan para orang tua yang baru memasukkan ananda di sekolah pilihan. Sekolah itu mungkin terbilang mahal, tetapi insyaallah menjadi ladang pahala bagi orang tua dan bekal terbaik dan proses pembentukan karakter bagi anak-anak.

Keutamaan Ilmu dalam Islam

Membaca, jendela ilmu

Islam sangat mementingkan ilmu. Bahkan ayat pertama yang diturunkan berkaitan erat dengan perintah menuntut ilmu. Tahukah kalian apa ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw? Ya, surat Al-alaq 1-5.

Surat Al-alaq 1-5

اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّكَ الَّذِىۡ خَلَقَ‌ۚ
Iqra bismi rab bikal lazii khalaq
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.

خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ‌ۚ‏
Khalaqal insaana min ‘alaq
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

اِقۡرَاۡ وَرَبُّكَ الۡاَكۡرَمُۙ
Iqra wa rab bukal akram
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia.

الَّذِىۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِۙ

Al lazii ‘allama bil qalam
4. Yang mengajar (manusia) dengan pena.

عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡؕ
‘Al lamal insaana ma lam y’alam
5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Related:

Label Baru di Blogku

Keutamaan Ilmu

Legalisasi Muhammad Sebagai Nabi

Sejak kecil sudah tampak tanda kenabian dalam diri Muhammad. Salah satunya saat awan menaungi ketika beliau menemani sang paman, Abu Thalib, berdagang ke Suriah. Hal ini disadari pendeta Nasrani bernama Buhaira.

Pendeta itu meminta izin melihat punggung Muhammad. Di punggung beliau ada tanda kenabian yang dicarinya. “Engkaulah calon nabi yang tertulis dalam kitab-kitab yang selama ini sudah kubaca,” ucap Buhaira.

Pendeta Nasrani itu menyarankan Abu Thalib untuk membawa pulang Muhammad. Buhaira khawatir orang-orang mengetahui tentang tanda kenabiannya, lalu mencelakainya. Sejak saat itu sang paman berusaha menjaga Muhammad sebaik mungkin.

Turunnya ayat tentang ilmu ini menjadi legalisasi Muhammad sebagai Nabi. Sah sudah beliau menjadi penerima kalam Allah yang diturunkan secara bertahap.

Perintah Membaca

Kutipan tentang membaca dari Buya Hamka

Ayat pertama Surat Al-alaq berbunyi “Iqra” yang artinya “bacalah”. “Bacalah” merupakan kalimat perintah dari kata “baca”. Baca sendiri merupakan kalimat transitif, yakni kata kerja yang membutuhkan objek.

Akan tetapi, dalam ayat tersebut tidak terdapat objek. Hal ini bukanlah merupakan kekeliruan atau kekurangan. Justru ada makna besar yang terkandung di dalamnya.

Saat ada kata “membaca”, otak kita secara otomatis menghubungkannya dengan buku. Betapa besar manfaat membaca buku. Bahkan aktivitas membaca ini disarankan untuk dibiasakan sejak dini. Kalau memungkinkan sejak dalam kandungan kita sudah rajin membacakan buku untuk janin.

Dengan membaca, ilmu dan pengetahuan bertambah. Bagi anak, kemampuan berbahasa bisa berkembang karena banyaknya kosa kata baru. Bonding antara orang tua dan anak pun bisa semakin erat dengan merutinkan aktivitas membaca buku bersama.

Kembali ke surat Al-alaq. Ketiadaan objek setelah kata “bacalah” menunjukkan bahwa perintah membaca ini tidak terbatas pada membaca buku. Namun, membaca segala sesuatu yang ada di sekitar kita.

Misalnya, membaca keadaan agar kita mampu menempatkan diri saat berhubungan dengan orang lain. Bisa juga membaca perasaan orang lain agar kita mampu menjaga sikap dan ucapan. Serta banyak hal lainnya.

Dengan membaca apa pun, kita bisa menjadi orang yang lebih bernilai dan berilmu. Dan, orang berilmu tinggi derajatnya di hadapan sang pencipta. Masya allah.

Perintah Menyebarluaskan Ilmu

Kutipan tentang menyebarkan ilmu dari Sufyan bin Uyainah

Setelah mendapatkan ilmu, lalu apa? Tentunya diharapkan kita bisa menyebarluaskannya agar kebermanfaatannya menjangkau lebih banyak pihak.

Seperti halnya Allah yang mengajarkan dengan “pena”, masing-masing dari kita pun mempunyai “pena” sebagai alat untuk menyebarkan kebaikan.

Zaman dahulu, orang-orang menulis di kulit pohon. Namun, terbatasnya alat menjadikan daya ingat orang dahulu tajam karena terbiasa untuk mengingat banyak hal.

Berbeda dengan kini, kita bisa menulis apa pun dan sebanyak apa pun. Kemajuan teknologi memberikan keuntungan itu. Misal, saat menulis di Instagram atau Facebook, kita bisa menuangkan apa yang kita pikirkan dan menyebarkannya ke seluruh negeri.

Kalau ingin menulis lebih panjang, kita bisa memilih menulis di blog. Blog inilah yang menjadi alqolam saya untuk menuangkan gagasan dan mengikat ilmu.

Kemudahan ini tentunya harus dibatasi dengan rambu-rambu agar tidak melanggar norma yang berlaku. Sudahkah kalian menemukan al-qolam versi kalian?

Rambu dalam Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu itu memang dianjurkan, tetapi ada batasan-batasan yang harus dijadikan pengingat agar tidak sembarang dalam menerima apa yang kita dapatkan.

Sebuah hadits yang diriwayatkan A. Hakim memperingatkan agar tidak sembarang duduk di majelis ilmu. Kita menerima ilmu dengan catatan ilmu tersebut membawa kita:

  • Dari ragu kepada yakin
  • Dari riya kepada ikhlas
  • Dari serakah kepada zuhud
  • Dari sombong kepada tawaddu
  • Dari permusuhan kepada pemurnian

Penutup

Ilmu menjadi hal yang utama dalam Islam. Orang berilmu pun memiliki derajat yang tinggi di hadapan Allah. Untuk menjadi orang yang berilmu kita harus mencintai aktivitas membaca.

Membaca tidak terbatas pada membaca buku, tetapi membaca apa pun yang bisa menjadikan kita pribadi yang memiliki nilai. Setelah mendapat ilmu, diharapkan kita bisa menyebarkannya.

Penyebaran ilmu ini bisa meluaskan kebermanfaatan, juga menjadi amal jariyyah. Setiap dari kita memiliki alat yang berbeda dalam penyebaran ilmu. Alat ini disebut alqolam. Sudahkah kalian menggoreskan alqolam versi kalian untuk menuliskan keutamaan ilmu?