Dear Diary, Sebuah Catatan untuk Diri Sendiri

Dear diary, aku bukanlah orang yang tertarik dengan pesta ulang tahun dengan segala kemeriahannya. Aku memang sengaja menjauh dari tradisi itu demi membuatnya tampak seperti hari biasa. Bahkan setalah usia lewat angka 30, aku jadi sering lupa berapa pesisnya umurku.

Meskipun begitu, aku tetap kerap merefleksikan apa yang sudah terjadi. Perihal bersyukur, insyaallah aku berusaha melakukannya tiap hari tanpa harus menunggu tanggal lahir. Untuk kedua anak pun, aku tidak pernah merayakan ulang tahun mereka.

Sebenarnya, refleksi diri juga tidak perlu menunggu tahunan. Untuk jangka pendek, kita bisa melakukannya harian. Misalkan sebelum tidur, kita coba tulis apa saja yang terjadi hari ini dan bagaimana respons kita terhadapnya. Sudah sesuai atau belum?

Dear diary, begitu pula dengan rasa syukur, kita bisa menuliskan dalam sebuah jurnal nikmat apa saja yang kita dapat hari itu. Misalkan alhamdulillah kita bisa makan dengan lahap, bisa jalan kaki mengantar anak ke sekolah, dan lain sebagainya. Semakin detail hal yang kita tulis, semakin banyak hal yang bisa kita syukuri.

Dear Diary

Ada beberapa refleksi jangka panjang yang saya renungkan tahun ini. Ini merupakan catatan untuk diri sendiri di masa depan. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Begitu juga dengan pola pikir. Aku ingin memastikan diriku di masa depan tidak memandang minor pada diriku sekarang.

Jadi, semoga catatan ini bisa menjadi pengingat bahwa di fase mana pun dalam hidup, aku tetap bangga pada diri sendiri atas sesedikit pun pencapaiannya. Aku ingin selalu mengapresiasi pencapaian itu tanpa terintimidasi kesuksesan orang lain karena setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing.

Jangan Membenciku

Dear diary, sebuah catatan untuk diri sendiri

Untuk setiap keputusan dan kesalahan yang kuperbuat hari ini, mohon jangan pernah membenciku. Kamu (diriku di masa mendatang) bisa dengan mudah menyalahkanku. Namun, itu sebenarnya tidak fair karena dengan seiring berjalannya waktu kamu akan lebih segalanya dariku. Tidak sama denganku saat ini.

Semua yang terjadi di dunia sesederhana daun yang jatuh tertiup angin, sudah menjadi ketentuan Allah. Termasuk apa yang terjadi pada hidup kita. Semoga kamu selalu ingat bahwa Allah-lah yang menjadi penentu segala, sehingga hatimu bisa lebih lapang dalam menerima setiap kesalahanku.

Cobalah cari hikmah dan pelajaran di setiap tindakan yang kuambil. Aku yakin kamu pasti bisa mengapresiasi kelebihanku dan memperbaiki kesalahanku. Kita tidak sedang berlomba dengan siapa pun, ini hanya tentang aku dan kamu.

Dear Diary, Terus Upgrade Diri

Setelah menikah, kebanyakan wanita menemukan sisi lain dari dirinya. Di saat bersamaan, kita juga kehilangan sebagian diri kita yang dulu. Poros hidup tiba-tiba saja berubah. Banyak hal baru menjadi tanggung jawab kita, apalagi saat telah memiliki buah hati.

Anak merupakan anugrah, tetapi anugrah itu datang bersamaan dengan tanggung jawab yang kita emban. Hal ini bisa memicu stres, termasuk bagi ibu rumah tangga yang hampir 24 jam ada di rumah.

Waktu yang tersita untuk hal baru itu kerap membuat kita lupa untuk memperhatikan diri sendiri. Namun, sesusah apa pun, tetap usahakanlah untuk me time. Saat anak masih bayi memang ruang gerak kita amat terbatas, curi-curi waktulah untuk tetap melakukan hal yang kita suka, misalnya baca buku atau skincare-an.

Usia kedua anakku berjarak tiga tahun kurang. Ini lumayan melelahkan karena di saat anak pertama lulus ASI, aku sudah hamil lagi. Namun, aku tetap membaca buku di sela-sela membersamai mereka.

Aku juga ikut kelas menulis, join beberapa komunitas menulis, dan berpartisipasi dalam lomba menulis. Setelah anak agak besar dan bisa main sendiri, kini aku bisa ikut kelas bahasa Korea. Semoga kamu nanti tetap semangat belajar dan selalu antusias untuk meng-upgrade diri.

Jangan Overthinking

Dear diary, Aku sangat menyadari, dari dulu aku lemah dalam menentukan apa yang harus dan tidak harus kupikirkan. Hal itu sama sekali tidak baik dan tidak efisien. Masalah tidak akan selesai dengan hanya kita pikirkan. Apalagi jika yang kita pikirkan sama sekali tidak perlu kita pikirkan.

Usia kamu yang lebih matang dari aku, semoga bisa semakin membuatmu bijak. Bijak dalam memilah hal-hal yang tidak patut ada di pikiran dan menghempaskannya jauh-jauh.

Hidup sudah rumit, tidak perlu kita tambah rumit dengan perkara receh. Apalagi perihal yang berkenaan dengan sikpa orang lain.

Kita tidak akan pernah bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan dan lakukan. Jadi sebaiknya fokus saja pada diri sendiri yang, meskipun tidak mudah, jelas-jelas bisa kita kendalikan.

Jangan Underestimate

Dear diary, ini sebuah self reminder

Teringat saat pertama kali ada kesempatan untuk mengikuti sebuah kelas menulis, aku tidak langsung mengambilnya. Ada rasa ragu apakah aku bisa menjalaninya dengan baik. Nanti, stop berpikir bahwa kamu tidak punya keahlian apa pun, ya.

Setelah terjun ke dunia kepenulisan, justru aku merasa menyesal mengapa tidak dari dulu. Itulah akibatnya jika terlalu takut untuk mencoba. Di masa mendatang lebih percaya dirilah untuk mengeksplorasi hal positif lainnya.

Mungkin kamu bisa ambil kelas memasak, menjahit, atau bahasa yang lainnya. Ilmu dan keahlian tidak akan membuatmu berat membawanya.Justru hal-hal itu akan menambah value-mu.

Janji sama aku, ya, kamu akan lebih percaya diri. Aku yakin, sinarmu akan benderang di saat yang tepat. Tentu saja selama kamu tidak berusaha untuk menutupi sinarnya dari dunia.

Tunjukkan Perasaanmu

Ini merupakan hal terakhir yang ingin kusampaikan pada diriku di masa depan. Kamu jangan lagi diam, ya, kalau sesuatu berjalan tidak sesuai yang kamu maksud.

Nggak apa-apa, kok, kalau kamu menolak keinginan orang lain. Mereka pun tidak akan senang kalau tahu, kamu melakukan sesuatu yang tidak sesuai kata hatimu hanya kamu tidak bisa mengutarakannya.

Dunia justru akan lebih baik lagi jika kamu bisa mengomunikasikan segala sesuatu. Rasa nggak enakan itu yang justru membuat situasi menjadi canggung. Tidak masalah, kok, kalau kamu ingin berpendapat.

Penutup “Dear Diary”

Dear Diary, itu dia yang ingin kuutarakan pada diriku di tahun-tahun mendatang. Sengaja aku menuliskan ini agar waktu tidak menggerusnya dari memori. Sehingga saat aku mulai lupa, aku bisa membacanya kembali. Mari kita hidup bahagia untuk waktu yang lama.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top