Contoh Cerita Fiksi dan Nonfiksi

  • Sepertinya, ada tujuh rusa di Kebun Binatang Ragunan.
  • Berdasarkan hasil penyelidikan, pihak kepolisian menemukan ada tujuh gram sabu yang tersangka bungkus dengan plastik kecil masing-masing 1 gram. Pelaku menyimpannya di dompet kartu.
  • Robby mengira ulahnya ikut menyebarluaskan video penganiayaan terhadap anjing akan membuatnya semakin terkenal. Sehingga akan mempercepat pelaku penganiayaan tersebut mendapatkan hukuman berat.
  • Saya menduga kejadian ini adalah akibat dari kelalaian orang tua dalam pengasuhan anak.
  • Hakim menetapkan vonis tujuh tahun atas dasar barang bukti yang para saksi tunjukkan selama proses persidangan. Keterangan dari saksi dan hukum yang berlaku.

Kak Sakifah mengawali kelas materi OPREC ODOP batch 12 dengan beberapa contoh cerita fiksi dan nonfiksi. Sang narasumber meminta kami menjawabnya apakah contoh tersebut termasuk ke dalam fiksi atau nonfiksi.

Karena Kak Saki memberikan contoh-contoh tersebut dalan bentuk polling di fitur WA, kami jadi saling mengetahui jawaban sesama para peserta.

Setelah itu, Kak Sakifah bertanya apa yang menjadi dasar pertimbangan kami dalam memilih jawaban. Apakah kami tahu ciri-ciri tulisan fiksi dan nonfiksi?

Tulisan Nonfiksi

Untuk memahami tulisan nonfiksi, Kak Sakifah menjabarkan pengertiannya terlebih dahulu.
Teks nonfiksi adalah jenis teks yang berdasarkan pada kejadian nyata dan memiliki tujuan untuk menyampaikan pengetahuan, memaparkan argumen, atau menjelaskan suatu topik tertentu.

Teks non fiksi itu berdasarkan pengamatan dan data melalui sumber-sumber yang dapat kita percaya. Penulisnya cenderung menggunakan bahasa yang denotatif bertujuan untuk menyajikan fakta dengan jelas dan menggambarkan topik secara akurat. Data dan fakta itu harus penulis paparkan dengan benar tanpa rekayasa atau ditambah imajinasi penulis.

Jika kita perhatikan, ada benang tipis antara fiksi dan nonfiksi pada kriteria “imajinasi penulis” dan “argumen”. Pada faktanya kita memang seringkali kesulitan menentukan mana yang memang pendapat atau argumen dan mana yang sebenarnya hanya imajinasi penulis.

Contoh Cerita Fiksi dan Nonfiksi

Contoh cerita fiksi dan nonfiksi

Setelah menelaah pengertian teks nonfiksi, secara otomatis kita pun menjadi punya gambaran mengenai ciri-cirinya. Sehingga kita bisa membedakan contoh fiksi dan nonfiksi. Kalau jawaban kalian bagaimana, Playmates? Sharing jawabannya di sini, yuk!

Setiap seminggu dua kali, OPREC ODOP memberikan kelas materi. Tentu kelas-kelas ini menjadi modal agar kami, para peserta, bisa menulis dengan lebih baik.

Proses penjaringan untuk masuk komunitas ODOP ini memang menitikberatkan pada kekonsistenan menulis setiap hari selama lima pekan. Namun, tentunya kita tidak boleh berpuas diri dengan sekadar menulis minimal sekian kata.

Pengetahuan dan insight baru yang kita dapat dari kelas materi sebaiknya langsung dipraktikkan karena tidak ada jalan yang lebih baik untuk mengingat sesuatu, kecuali dengan menuliskannya.

Lebih lanjut Kak Sakifah memberikan contoh-contoh teks nonfiksi. Contoh teks nonfiksi yaitu karya ilmiah, artikel, esai, ensiklopedia, buku panduan, surat, cerita nonfiksi, kritik sastra, referensi, bunga rampai, dan sebagainya.

Karya ilmiah:

  • skripsi
  • tesis
  • disertasi
  • artikel jurnal
  • buku ajar
  • buku referensi
  • prosiding
  • bunga rampai

Artikel:

  • blog
  • kanal berita
  • halaman website resmi instansi/komunitas
  • surat kabar
  • majalah tertentu

Surat:

  • surat resmi baik ditulis oleh pribadi maupun instansi

Fiksi vs Nonfiksi

Saya mengawali perjalanan literasi dengan menulis fiksi. Kala itu, saya menganggap menulis fiksi lebih mudah daripada nonfiksi. Seperti yang telah Kak Saki ungkapkan di atas bahwa imajinasi penulis merupakan benang merah dari tulisan fiksi.

Saya menganggapnya mudah karena saya bebas menulis apa saja tanpa harus repot memikirkan sumber tulisan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya merasa menulis fiksi pun ternyata sama menantangnya dengan menulis nonfiksi.

Apalagi kalau sudah menyelesaikan membaca karya-karya Dee Lestari, saya semakin sadar menulis cerita fiksi tidak sesederhana itu. Sekalipun cerita itu bergenre fantasi tetap memerlukan riset agar alur ceritanya masuk akal.

Akan tetapi, serumit apa pun dan sedalam apa pun risetnya, sebuah novel tetaplah sebuah novel. Selama masih ada imajinasi penulis, itu tidak akan pernah berubah menjadi nonfiksi. Sekalipun di dalamnya memuat fakta. Biografi pun jika penulis sajikan sebagai novel, kategorinya menjadi fiksi.

Penutup “Contoh Cerita Fiksi dan Nonfiksi”

Karena kelas materi kali ini berjudul “Mengenal Nonfiksi”, jadi memang lebih banyak membahas nonfiksi. Adapun singgungan terhadap fiksi lebih ke tujuan perbandingan agar makin mudah membedakan keduanya.

Tidak ada pelabelan jenis mana yang paling laku. Dua-duanya punya pasar sendiri dan tentu akan menemukan pembacanya.

Perhatikan saja potensi kita lebih condong ke mana, lalu maksimalkan kontribusi di jenis tulisan tersebut. Tidak perlu tengok kanan-kiri sekadar untuk menilai laku jenis yang mana.

Jika kalian telah menentukan menjadi penulis nonfiksi, seperti yang Kak Sakifah jelaskan dalam pengertian tulisan nonfiksi di atas, beberapa hal penting yang perlu kita perhatikan dalam menulis nonfiksi adalah adanya:

  • data atau fakta
  • makna denotatif
  • penjelasan topik
  • referensi yang bisa kita pertanggungjawabkan kebenarannya

Meski demikian, kita tidak harus memilih. Hendak menulis keduanya pun tidak mengapa. Tere Liye bukan tidak pernah menulis nonfiksi. Koran nasional pernah memuat beberapa esainya. Di lain pihak, Dahlan Iskan pun pernah menulis fiksi meskipun profesinya adalah jurnalis senior.

Untuk kelas materi cerita fiksi sepertinya akan komunitas ODOP berikan minggu ini. Wah, nggak sabar, nih, ingin lebih memahami contoh cerita fiksi dan nonfiksi. Sampai bertemu lagi di ulasan perihal kelas itu, Playmates! Insyaallah.

4 komentar untuk “Contoh Cerita Fiksi dan Nonfiksi”

  1. Betuuul, Kak, cerita fantasi tetap memerlukan riset agar alur ceritanya masuk akal. Pernah coba bikin cerita fantasi tanpa riset, dan pas baca lagi berasa malu sendiri 😪

  2. Bagi saya, menulis fiksi lebih sulit dibandingkan non-fiksi. Sebab selain harus menentukan riset data yang dipakai, saya juga harus mikir bagaimana alur yang unik agar cerita bisa lebih menarik. Meski non-fiksi ngga kalah susah juga, sih

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top