Belajar dari Sejarah Perihal Pengaruh Al-Qur’an

Setelah beberapa kali menonton kajian Ustadz Felix Siauw di Youtube, sepertinya saya kecanduan ingin terus melihat video yang lainnya. Meskipun beliau berbicara relatif cepat, tetapi membuat kita betah untuk terus menyimak. Kali ini, Ustadz Felix kembali mengajak kita belajar dari sejarah.

Helmi Yahya selaku tuan rumah mengungkapkan kegemarannya dalam mempelajari sejarah, sehingga beliau tampak kagum pada sosok Ustadz Felix yang pengetahuan sejarahnya begitu cemerlang. Pak Helmi Yahya yang sama-sama pintar saja kagum, apalagi saya yang masih “hijau” ini tentunya lebih daripada kagum.

Bincang-bincang antara Helmi Yahya dan Ustadz Felix Siauw ini terdiri dari tiga video. Kali ini saya akan mengulas video pertama. Insyaallah, next saya juga akan tuliskan tentang obrolan di video kedua dan ketiga.

Belajar dari Sejarah

Ustadz Felix mengatakan bahwa salah satu alasan beliau menyukai sejarah adalah karena ia bisa menjawab masa depan. Hal ini disebabkan sejarah yang selalu berulang. Oleh karena itu, ada ungkapan,

History repeats its self

Sejarah juga merupakan media efektif dalam proses memengaruhi orang. Bahkan, dalam Al-Qur’an pun satu per tiganya berisi kisah-kisah masa lalu dan itu berhasil mengubah banyak orang. Masyaallah ternyata sedahsyat itu pengaruh cerita.

Sehingga tidak mengherankan ada pepatah yang berbunyi, “Tell me a truth and i believe, tell me a knowledge and i learn, and tell me a story and i remember in my heart forever.”

Lebih lanjut, Ustadz Felix mengatakan bahwa Al-Qur’an memiliki kemampuan untuk mengubah dunia yang berkenaan dengan banyak orang dalam level yang masif, waktu yang singkat, dan hasil yang pemanen.

Hal ini bisa terlihat di zaman Rasulullah saat Al-Qur’an benar-benar menjadi pedoman hidup. Saat itu wilayah kekuasaan umat Islam terus bertambah dan hanya dalam kurun waktu 100 tahun, Islam bisa menjadi kekuatan besar di dunia. Padahal kala itu ada dua imperium besar yang sedang berkuasa, yakni Persia dan Romawi.

Dari zaman Rasulullah, khulafaurrasyidin, Kekhalifahan Umayah, hingga Kekhalifahan Abbasiyah, Islam masih digdaya karena masih berpegang teguh pada Al-Qur’an. Barulah di akhir masa Ottoman, Islam mengalami kemunduran seiring ditinggalkannya Al-Qur’an.

Saya sepakat dengan apa yang Ustadz Felix sampaikan. Meninggalkan Al-Qur’an adalah alasan kemunduran peradaban Islam. Sekarang banyak yang beragama Islam, tetapi tidak islami. Sedih memang jika melihat keadaan umat Islam sekarang, padahal di masa lalu kita begitu berjaya.

Dengan kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid, semoga nilai-nilai Islam kembali bersemi di Turki dan kemudian menyebar ke seluruh dunia seperti dahulu. Aamiin. Peninggalan zaman keemasan Islam masih bisa kita lihat dari istilah ilmiah yang berasal dari bahasa Arab, contohnya aljabar.

Penutup

Dalam bincang-bincang tersebut Helmi Yahya dan Ustadz Felix membahas tentang film The Exoduse. Ada yang sudah nonton, Playmates? Ustadz Felix mengaku sebagai sufi. Saya kira sufi dalam artian sebenarnya, tetapi ternyata sufi itu kependekan dari suka film.

Ustadz Felix banyak menonton film-film sejarah produksi Hollywood. Selain The Exoduse ini, saya tahu beliau juga menonton Kingdom of Heaven yang menceritakan tentang perang salib. Di film tersebut muncul tokoh Islam pembebas Baitul Maqdis, Salahuddin Al-Ayubi.

Kembali ke Exoduse, film ini bercerita tentang pelarian Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun. Tentu saja kita tidak bisa menjadikan film tersebut acuan karena Hollywood pasti tidak menggarap film tersebut berdasarkan kitab suci.

Akan tetapi, Ustadz Felix mengatakan bahwa kita bisa mengambil pelajaran dari mana pun, termasuk film. Dalam film tersebut, Hollywood mencoba mengarahkan agar melogiskan semua, termasuk perihal kenabian. Dalam proses sea parting, mereka menutup mata akan mukjizat Nabi Musa dan menggiring agar kita menganggap bahwa peristiwa tersebut masuk akal dengan membuat skenario tsunami dan meteor.

Oleh karena itu, kita harus aware dengan segala propaganda Barat yang melumpuhkan. Kita mesti belajar dari sejarah dengan kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman agar hidup sejahtera di dunia dan terhindar dari segala fitnah dunia, serta di akhirat mendapat surga.

3 komentar untuk “Belajar dari Sejarah Perihal Pengaruh Al-Qur’an”

  1. wah saya belum pernah nonton the exoduse, kayaknya bagus ya kak. Selama ini hanya membaca cerita Firaun dan Nabi Musa dari buku saja. Sekarang ada visualnya, jadi pengen nonton. Next boleh kak share rekomendasi film tentang sejarah Islam, hehe

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top