Aku Ingin Menjadi Orang Kaya

Saya yakin pasti semua orang sudah tidak asing lagi dengan quote yang berbunyi: Money is not everything, but everything without money is nothing. Sejak pertama kali mendengar quote itu, saya langsung setuju dengan apa yang dimaksudkan. Saya tidak tahu kutipan tersebut milik siapa, tetapi saya pertama mengetahuinya dari seorang guru SMA.

Memang tidak sepatutnya kita menghamba pada uang, tetapi uang merupakan unsur dalam segala aspek kehidupan. Pendidikan perlu uang, pernikahan perlu uang, persalinan perlu uang, pengobatan perlu uang, bahkan ibadah pun perlu uang, seperti zakat dan naik haji.

Sebagai seorang muslim saya meyakini bahwa di hadapan Allah itu semua sama, yang membedakan hanya ketaqwaannya saja. Namun, bagaimana di mata sesama manusia? Hal inilah yang membuat saya melihat betapa enaknya menjadi orang kaya. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa saya ingin diperlakukan istimewa bak seorang ratu. Namun, jika saya orang kaya mungkin orang lain tidak akan memandang rendah šŸ˜­

Bukan tanpa alasan saya menjadi metal (melow total šŸ˜…) seperti sekarang. Hal ini dipicu kejadian yang tidak mengenakkan beberapa hari yang lalu. Saat itu saya pergi ke sebuah klinik untuk menemui dokter gigi, tambalan gigi saya sudah rusak. Biasanya saya pergi ke klinik khusus gigi, tetapi klinik tersebut mewajibkan calon pasien untuk melakukan swab sebelum tindakan. Karena menurut saya itu ribet, saya memilih balik kanan ke sebuah klinik yang merupakan fasilitas kesehatan tingkat I BPJS saya.

Selama ini saya mempunyai kesan yang cukup baik mengenai klinik tersebut. Namun, hari hati saya terasa sakit. (lebay šŸ™šŸ˜…) Sore itu saya pergi ke sana seorang diri. Begitu saya sampai di meja resepsionis, saya biasa saja karena biasanya juga memang tidak ada senyum sebagai penyambut. Seperti saya singgung sebelumnya, saya tidak ingin diperlakukan istimewa, setidaknya tidak direndahkan. Saya menganggap penyambutan tanpa senyuman itu termasuk netral, belum masuk kategori merendahkan.


Saya langsung menyerahkan kartu BPJS tanpa diminta. Petugas itu kemudian meletakkan ponsel yang tadi dipegangnya dan menghadap ke layar komputer. Dia mengetikkan sesuatu, lalu beranjak menuju lemari belakang yang banyak lacinya. Petugas itu mengambil berkas saya dan menyisipkan kertas berwarna hijau. Kertas itu merupakan hasil print-an dari apa yang diketiknya.

“Ke dokter umum, kan, Teh?” Saya mendengar suara petugas itu untuk pertama kalinya.
“Ke dokter gigi,” jawab saya mantap.

Tiba-tiba saja petugas itu menatap langsung ke mata saya agak lama. Saya bingung maksud dari tatapan itu apa karena dia memakai masker jadi ekspresi wajahnya tidak jelas terlihat. Wanita itu kemudian mengambil kertas lainnya yang berwarna kuning dan kembali mengetikkan sesuatu. Sambil menatap layar komputer dia meremas kertas hijau dengan gemas. Setelah diprint, kertas kuning tersebut dan kertas lainnya yang tadi diambil dari laci belakang diberikan pada saya.

Saya pun beranjak dengan perasaan tidak enak. Dengan diremasnya kertas hijau tersebut, maka terang benderang lah maksud petugas itu menatap cukup lama. Dia marah karena lelah harus mengetik ulang šŸ˜… Dari hasil pantauan, saya tahu bahwa kertas hijau untuk pasien dokter umum, sedangkan yang kuning untuk pasien dokter gigi.

Sepanjang menunggu giliran diperiksa, saya menjadi bertanya-tanya apakah kalau saya kaya orang lain akan memperlakukan seperti itu. Buruk sangka saya diperparah dengan kenyataan bahwa saya pasien BPJS.
Drama hari itu ternyata belum selesai, dokter giginya agak judes dong šŸ˜­ Namun, itu tidak menjadikan saya underestimate terhadap klinik itu karena perawat yang bertugas mengecek suhu, apoteker, dan beberapa dokter umumnya ramah, kok šŸ„°